Home Visit: Kunjungan Pertama ke Rumah Orang Jepang

Satu tahun setengah berada di Jepang, aku belum punya kesempatan sekalipun berkunjung ke rumah orang Jepang. Pengen sekali mengetahui budaya orang Jepang lebih jauh. Sekaligus latihan berbahasa Jepang dengan penutur aslinya. Datanglah kesempatan itu.

CCIA, tempat aku belajar bahasa Jepang setiap sabtu sore menawarkan kesempatan itu kepada seluruh orang asing yang menjadi murid di CCIA. Pilihan waktunya adalah minggu, 28 Februari 2010 dan senin, 1 Maret 2010. Aku memilih minggu sore. Hari itu suami sedang berada di apartemen kami. Bagi suami, kunjungan itu juga adalah kunjungan pertama. Alhamdulillah, permintaanku untuk mengikuti kegiatan itu bersama suami dikabulkan oleh CCIA. Juga dengan pilihan waktu minggu sore.

Saat Andoh-san, orang Jepang yang rumahnya akan aku dan suami kunjungi dalam kegiatan home visit, meneleponku untuk memastikan waktu kedatanganku ke rumahnya, sekali lagi aku memastikan kalau aku boleh mengajak suami berkunjung ke rumahnya. Andoh-san mengiyakan permintaanku. Kami juga sepakat sekitar pukul lima sore di hari minggu, 28 Februari 2010, akan bertemu di stasiun terdekat dengan rumahnya.

Sempat terbersit beberapa rasa was-was di hatiku dan suami. Tentang ketidakbisaan kami meminum sake (sejenis minuman bir jepang), daging babi dan daging-dagingan yang lain. Padahal, aku tahu, hampir di setiap jamuan, sake, daging babi dan daging-dagingan adalah kadang menjadi menu wajib bagi orang Jepang. Setidaknya, kesimpulanku itu berasal dari kebiasaan teman-teman labku mengadakan pesta lab. Tapi, aku dan suami menyakinkan diri kami sendiri. Keterusterangan yang selama ini menjadi cara kami bergaul dengan orang Jepang, juga akan kami lakukan dalam kunjungan kami nanti. Tibalah hari itu.

Kurang dua puluh menit dari waktu janjian kami, aku dan suami sudah sampai di stasiun yang terdekat dengan rumah Andoh-san. Waktu dua puluh menit menunggu, aku dan suami habiskan dengan mengitari pertokoan di sekitar stasiun. Hitung-hitung memperbanyak waktu pacaranku bersama suami 🙂 Tepat pukul 5 sore, kami kembali ke stasiun. Dari kejauhan seorang wanita jepang cantik tersenyum kepadaku.

“Febty-san?” sapanya.

“Iya. Andoh-san?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk riang.

“Hajimemashite. Yoroshiku onegaishimasu.” lanjutku sambil membungkukkan badan. Suamiku juga mengikuti caraku.

Kami berjalan beriringan menuju rumahnya. Ternyata, rumahnya cukup dekat dari stasiun. Sebuah apartemen mewah. Suaminya juga sudah menunggu kedatangan kami. Senangnya saat melihat senyum tulus dari wajah putih suami istri itu.

Ternyata rasa was-wasku dan suami tidak perlu ada. Sebelum mempersiapkan makam malam, Andoh-san menanyaiku makanan dan minuman apa yang tidak boleh kami konsumsi. Ah, begitu senangnya mendapatkan pertanyaan itu. Tentu saja aku menjelaskan mengapa alasan ketidakbisaan kami meminum sake dan melahap daging-dagingan, apalagi daging babi. Karena kami adalah muslim, itulah alasannya. Andoh-san yang sudah bepergian ke berbagai negara dan bertemu dengan berjenis-jenis orang dengan kepercayaannya dengan lapang dada mengerti alasanku.

Suasana saat makan malam bersama Andoh-san dan suaminya

Andoh-san dan suaminya adalah tuan rumah yang baik. Akhirnya, suaminya memesankan kami sushi, juga memasakkan kami mie goreng, sayur tahu dan menyiapkan salada sayur. Saat suaminya menyiapkan makan malam kami, Andoh-san menemaniku dan suami mengobrol. Tentang apa saja. Obrolan itu juga diselingi dengan konfirmasi dari suami Andoh-san tentang berbagai jenis bumbu masakan yang akan digunakannya. Andoh-san yang menanyakan hal itu kepadaku. Sekedar untuk memastikan, aku dan suamiku bisa mengkonsumsi bumbu-bumbu itu.

Tak terasa, empat jam sudah berlalu. Begitu cepatnya waktu berlari. Obrolan kami sambung-menyambung, dari satu hal ke hal yang lain. Seperti halnya rangkaian kereta api. Kalau saja, suamiku tidak mengingatkanku saat itu sudah menjelang pukul sembilan malam, mungkin obrolanku dan Andoh-san akan tidak akan berhenti.

Pukul sembilan malam, aku dan suami pamit. Andoh-san mengantarku dan suami hingga ke stasiun. Perpisahaan dengan Andoh-san malam itu diiringi kelegaan di hatiku dan suami. Alhamdulillah, kami bisa berterus-terang. Tentang kemusliman kami. Semoga suatu saat kami juga bisa mengundang Andoh-san dan suaminya ke apartemen sederhana kami.

@home, March 2010

Ket:

Hajimemashite. Yoroshiku onegaishimasu = Senang bertemu dengan Anda

Iklan

18 pemikiran pada “Home Visit: Kunjungan Pertama ke Rumah Orang Jepang

  1. Ping balik: [Jepang dalam Foto] Sepeda Motor « Fety

  2. keren mbak…
    senang bisa silaturrahim ke rumah orang asli jepang….
    mau tahu gimana reaksi mereka ketika mbak bilang muslim???

    oh ya, mbak…sil berkunjung juga ke blog suami mbak..
    wah ternyata orang IT ya mbak…
    keren…bisa sharing juga kayaknya..hehe

    • reaksi andoh-san dan suaminya biasa-biasa aja dek, tapi menimbulkan pertanyaan lain dari mereka. tentang kenapa mbak fety pakai jilbab, juga diskusi lain yang menyentil tentang bahwa banyak juga orang islam yang begitu sampai di jepang minum sake, makan daging-dagingan yang tidak halal. yah, begitulah 🙂

      si mas bukan orang IT, dek. Beliau orang biologi. tapi, karena kita berdua pakai ubuntu, jadinya sering ngoprek komputer 🙂

  3. wah, asyik ya bisa ikutan home visit kayak gini.. kalo aku paling2 berkunjung ke rumah prof, hihi.
    eh fety, kalo baca ceritamu, berarti tiap pelajar dapet rumah orang Jepang yg berbeda2 yah?
    atau sama semua di rumah Andoh-san?

    yup, biasanya kalau yang sudah mengenal bermacam2 negara dan budaya, pasti lebih paham dan mengerti ttg kebiasaan2 org lain yg berbeda dgn mereka 🙂

    • aku justru belum pernah diundang berkunjung ke rumah profesorku, yan 🙂
      setiap orang berkunjung ke rumah yang berbeda. Hari itu, cuma aku dan suami yang berkunjung ke rumah Andoh-san, yan.

    • iya sih mbak monda. apalagi untuk pelajar asing di jepang, hal kayak gini lumayan banyak yang berminat, karena orang jepang kan terkenal dengan ketertutupan mereka terhadap orang asing mbak.

  4. Wahh senangnya….
    Iya, dengan berterus terang, mereka akan memahami..karena orang jepang sangat menjunjung tinggi budaya negaranya, jadi pasti juga akan memahami budaya tamunya.

  5. Ping balik: Sado dan Origami « Fety

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s