Hutang; janji yang disepelekan

Hari itu Sabtu. Seperti pagi Sabtu biasa, jadwal pertama di pagi hari adalah membeli nasi kuning di bude langganan. Pagi itu, F2 ingin diajak. Aku dan F2 akhirnya pergi ke Bude langganan untuk membeli nasi kuning. Selesai membeli nasi kuning, di perjalanan menuju ke rumah, singgah sebentar di tukang sayur langganan.

Banyak ibu-ibu yang juga memulai rutinitas pagi di tukang sayur langganan. Aku menggendong F2, sambil menunggu antrian untuk membeli ayam.

Di depanku.

Seorang ibu seusia ibuku. Berdaster lengan pendek dengan panjang daster selutut. Memilih-milih ayah.

“Ini ayam setengah berapa?”, tanya beliau sambil menunjuk ayam yang sudah dalam kondisi setengah potong memanjang.

“19.000”, jawab ibu sayur.

“Mau yah”

Ibu sayur segera memotong ayam tersebut, menjadi empat potong, bagian atas, leher, bagian paha dan ceker.

“Masukin semua, gak usah dipotong lagi. Untuk soto”, jelas si ibu kepada ibu sayur.

“Satu lagi. sama bihun jagung”, ujar si ibu.

Ibu sayur segera mengambilkan pesanan si ibu.

“Berhitung yah. Ayam 19.000. Bihun jagung 4000. Semuanya 23.000”, kata ibu sayur.

“Ini uang 12.000. 11.000 lagi utang yah”, kata si ibu mengansurkan uang 12.000 ke ibu sayur.

Ibu sayur menerima tanpa komentar apapun.

Aku di belakang mengamati semua kejadian di atas. Hmm, pilihan yang diambil si ibu itu adalah hutang. Misalnya ayamnya cukup separuh, terus bihunnnya gak usah bihun jagung, bukannya uang 12.000 juga cukup, batinku.

Hutang.

Sesuatu hal yang kadang memang digampangkan untuk dilakukan. Disepelekan untuk dibayar. Ditunda menunggu keluangan yang kadang tidak diusahakan.

Masih tentang hutang.

Aku dan suami beberapa kali berurusan dengan hutang yang tidak dibayar atau dibayar dengan telat dan bertele-tele.

Sampai kemudian mengambil langkah, untuk jauh dari hutang.

Bulan yang lalu, teman pengajian suami berhutang. Untuk biaya melahirkan, alasan beliau. Saat jatuh tempo yang dijanjikan, suami menagih hutang ke temannya.

“Maaf, ini ada masalah dengan gaji saya. Ada kekurangan pembayaran gaji saya oleh HRD”, itu alasan pertama.

“Maaf, saya cari hutangan dulu ya untuk membayar”, itu alasan kedua yang disampaikan ke suami saat jatuh tempo lagi.

“Gak usah nyari hutang lagi, Pak, untuk membayarnya. Mohon dicicil saja setiap bulan”, itu solusi yang ditawarkan suami ke temannya.

Semoga solusi ini ditepati beliau dan tidak disepelekan dengan alasan maaf-maaf yang lain.

 

2 pemikiran pada “Hutang; janji yang disepelekan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s