Hutang; janji yang disepelekan

Hari itu Sabtu. Seperti pagi Sabtu biasa, jadwal pertama di pagi hari adalah membeli nasi kuning di bude langganan. Pagi itu, F2 ingin diajak. Aku dan F2 akhirnya pergi ke Bude langganan untuk membeli nasi kuning. Selesai membeli nasi kuning, di perjalanan menuju ke rumah, singgah sebentar di tukang sayur langganan.

Banyak ibu-ibu yang juga memulai rutinitas pagi di tukang sayur langganan. Aku menggendong F2, sambil menunggu antrian untuk membeli ayam.

Di depanku.

Seorang ibu seusia ibuku. Berdaster lengan pendek dengan panjang daster selutut. Memilih-milih ayah.

“Ini ayam setengah berapa?”, tanya beliau sambil menunjuk ayam yang sudah dalam kondisi setengah potong memanjang.

“19.000”, jawab ibu sayur.

“Mau yah”

Ibu sayur segera memotong ayam tersebut, menjadi empat potong, bagian atas, leher, bagian paha dan ceker.

“Masukin semua, gak usah dipotong lagi. Untuk soto”, jelas si ibu kepada ibu sayur.

“Satu lagi. sama bihun jagung”, ujar si ibu.

Ibu sayur segera mengambilkan pesanan si ibu.

“Berhitung yah. Ayam 19.000. Bihun jagung 4000. Semuanya 23.000”, kata ibu sayur.

“Ini uang 12.000. 11.000 lagi utang yah”, kata si ibu mengansurkan uang 12.000 ke ibu sayur.

Baca lebih lanjut

Cara Allah Menjawab Tanyaku

Di bulan Februari 2010 ada dua peristiwa cinta yang aku menyaksikan dengan sebuah perasaan haru. Di saat perjuangan hidup mati seorang istri untuk menghadirkan seorang buah hati, ada suami tercinta yang menemani dan menenangkan. Keduanya adalah teman baik di bumi Chiba. Sungguh terharu melihat seorang suami untuk memberi dukungan cinta pada sang istri yang sedang bertarung dengan perjuangan hidup mati.

Setelah kedua peristiwa itu, ada sebuah tanya di hatiku; pada saat genting seperti apakah yah, Allah memberi kesempatan kepada suami untuk menemaniku? Pertanyaan yang sentimentil, mungkin. Tapi, dua tahun setengah berumah tangga dengan kondisi lebih sering berteman dengan ketidakbersamaan bersama suami, pertanyaan sentimentil itu sungguh ingin menemukan jawabannya.

Beberapa kali saat genting yang mesti aku hadapi, suami berada jauh di mata. Saat pingsan di kantin kantor di Bandung karena efek lelah yang sangat, suami masih di kantornya di Jakarta. Ketika pingsan di kereta dalam perjalanan menuju ke Tokyo, suami masih berada di Indonesia.

Sejak sebelum menikah, kekuatan pikiran memang kujadikan teman untuk membuat otak dan pikiran segera pulih dan jernih seusai berhadapan dengan saat genting. Alhamdulillah, kata-kata positif yang kusuntikkan ke diri sendiri begitu ampuh mengatasi saat-saat genting itu.
Baca lebih lanjut

Ramadhan Cinta di Bumi Sakura

Hari ini mungkin adalah 2 hari terakhir menjelang penghujung Ramadhan 1430 H. Tidak terasa, bulan Syawal pun menjelang. Tidak ada riuh malam ketupat di bumi Sakura, juga kerepotan yang kadang seperti tidak akhir di dapur menjelang malam Lebaran: untuk membuat 1 Syawal menjadi Lebaran yang sempurna. Semuanya berjalan seperti biasa. Teman-teman muslim yang berstatus sebagai mahasiswa tetap melangkahkan kaki ke kampus hingga mungkin hari terakhir Ramadhan, juga dengan saudara-saudara muslim lain yang sedang mencari sesuap nasi di negeri matahari terbit ini. Biasa sekali.

Jangan dibayangkan akan ada gema takbir bertalu-talu di malam syawal, juga berduyun-duyun saudara-saudara semuslim dengan mengenakan baju atau mukena baru melangkah bahagia menuju masjid. Lalu, berakhir dengan saling kunjung-mengunjungi ke tempat-tempat saudara. Kalaupun ada keramaian, biasanya terlihat di jantung negeri Sakura, Tokyo. Sehabis menunaikan shalat Idul Fitri, biasanya ada acara open house di rumah Duta Besar Indonesia untuk Jepang. Cukup melepaskan kerinduan pada suasana Lebaran di tanah air. Sajian masakan Indonesia dan bertemu dengan saudara-saudara seiman menjadi pelengkap sempurna lebaran ala perantauan di bumi sakura.

Baca lebih lanjut

Negeri Sakura Mengajarimu, Ibu

Hari ini sedang dirayakan hari ibu di negeri Sakura. Aku pengen menghadiahkan tulisan panjang ini untuk tiga orang mbakku yang mengajarkan tentang kekuatan seorang ibu kepadaku. Terima kasih, mbakku:) Happy Mother Day.

####

Dulu ketika masih kuliah, mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dalam waktu yang sama, aku akan berusaha menghindarinya. Rasanya, otak lebih enak diajak berfikir ketika mengerjakan sesuatu secara bertahap. Maksudku begini, setelah pekerjaan A selesai dikerjakan, barulah aku berfikir perencanaan pekerjaan B. Karena itulah, saat ultimatum dari ibunda untuk segera menyelesaikan skripsi karena si adek bungsu juga akan mulai masuk kuliah, aku lebih memilih untuk mengundurkan diri dari calon ketua Kopma universitasku dan benar-benar fokus dengan skripsiku.

Maka juga tidak terbayangkan di benakku, saat memikul dua amanah sekaligus, menjadi ibu sekaligus mahasiswa. Dua amanah yang keduanya membutuhkan totalitas untuk bermain dengan cantik dan apik.

Baca lebih lanjut

Memaafkan Diri Sendiri

teratai1Saat itu siang. Menyusuri jalan utama kampus yang daunnya sudah berguguran, udara dinginpun tetap menyergap. Aku memapah sepedaku. Seorang adek berjalan disampingku. Kami menuju ke perpustakaan utama kampus. Menemani si adek mengembalikan buku, sekaligus menunggu teman-teman yang lain untuk makan siang bersama di kantin kampus. Penghiburan ala perantauan di negeri orang. Makan siang bersama dengan bekal masing-masing. Paling tidak cukup menjadi penyegaran pikiran dan perasaan sebelum bergelut kembali dengan keseriusan.

Mbak, kok kemampuan bahasa jepangku gak nambah-nambah yah”, kurang lebih begitulah curhat sang adek di antara langkah-langkah kaki kami membelah dingin. Dan kemudianlah keluarlah curhat tentang kemampuan diri sendiri yang merasa dibawah rata-rata jika dibandingkan orang lain.

Baca lebih lanjut