Hutang; janji yang disepelekan

Hari itu Sabtu. Seperti pagi Sabtu biasa, jadwal pertama di pagi hari adalah membeli nasi kuning di bude langganan. Pagi itu, F2 ingin diajak. Aku dan F2 akhirnya pergi ke Bude langganan untuk membeli nasi kuning. Selesai membeli nasi kuning, di perjalanan menuju ke rumah, singgah sebentar di tukang sayur langganan.

Banyak ibu-ibu yang juga memulai rutinitas pagi di tukang sayur langganan. Aku menggendong F2, sambil menunggu antrian untuk membeli ayam.

Di depanku.

Seorang ibu seusia ibuku. Berdaster lengan pendek dengan panjang daster selutut. Memilih-milih ayah.

“Ini ayam setengah berapa?”, tanya beliau sambil menunjuk ayam yang sudah dalam kondisi setengah potong memanjang.

“19.000”, jawab ibu sayur.

“Mau yah”

Ibu sayur segera memotong ayam tersebut, menjadi empat potong, bagian atas, leher, bagian paha dan ceker.

“Masukin semua, gak usah dipotong lagi. Untuk soto”, jelas si ibu kepada ibu sayur.

“Satu lagi. sama bihun jagung”, ujar si ibu.

Ibu sayur segera mengambilkan pesanan si ibu.

“Berhitung yah. Ayam 19.000. Bihun jagung 4000. Semuanya 23.000”, kata ibu sayur.

“Ini uang 12.000. 11.000 lagi utang yah”, kata si ibu mengansurkan uang 12.000 ke ibu sayur.

Baca lebih lanjut

Sedih

@Sedih

Kesedihan meluap, menganak sungai bulir-bulir bening di pelupuk mata. Terpuruk lagi setelah harap yang lama membumbung. Tapi, apakah sedih akan terus menjadi teman. Rasanya jawabannya adalah tidak. Karena bahagia adalah pilihan sadar sebuah diri. Jika mesti terpuruk lagi, biarlah ada sebuah harap lagi yang menggantikannya. Di sudut hati.

 

@rumah, Maret 2011

29 Desember; 3 tahun yang lalu

Dialog antara sepasang suami istri di bawah ini terjadi dalam kurun waktu sekitar 1-3 bulan setelah 29 Desember 2007.  Waktu itu mereka baru saja menggenapkan setengah dien. Latar belakang keluarga, budaya dan suku antara suami dan istri berbeda menjadikan mereka juga dua anak manusia yang mempunyai watak yang berbeda. Sunatullah bukan?:)

Istri : Mas, ngomong donk. *ungkapan ke sekian setelah si istri merasa telah mendominasi percakapan keseharian di rumah tangga mereka yang baru*

Suami : Ngomong apa? Topiknya apa? *masih dengan nada biasa saja*

Istri : Masa ngomong mesti makai topik, mas. Memangnya ini seminar? *sambil sewot dan diakhiri dengan ngambek*

Suami : @#$%^ *serba salah*

Sebuah situasi yang wajar, kalau dipikir saat ini, 3 tahun kemudian. Suami dan istri hanya bertemu satu kali dalam sebuah pelatihan hingga akhirnya sang suami mengajukan ajakan menggenapkan setengah dien. Keseluruhan pertemuan keduanya sebelum  tanggal 29 Desember 2007 hanya bisa dihitung dengan sebelah jari tangan saja. Pertemuan  pertama suami dengan bapak dan ibu sang istri terjadi saat proses lamaran. Bagi istri, lamaran adalah pertemuan pertemuan pertamanya dengan bapak mertua dan akad nikah adalah pertemuan pertamanya dengan ibu mertua. Semua terjadi karena jarak yang terbentang antara dua keluarga, dan sebuah idealisme yang tengah diusung oleh keduanya.

Baca lebih lanjut

Mengeja Jenuh

@Mengeja Jenuh

Mengeja jenuh berarti berteman dengan diri sendiri dalam kepayahan yang sangat. Seribu semangat dan berfikir tentang syukur serta anugerah adalah cara lain menjadikan jenuh sebagai kawan. Pada ambang maksimal  saat jenuh bisa dijadikan sebagai sahabat, maka rekahan kebahagiaanlah yang akan menemani perjalanan selanjutnya.

@campus, August 2010