Menyapih F2

Hampir1.5 tahun hiatus dari blog ini. Semoga tulisan ini awal yang baik untuk membiasakan menulis (dan membaca) lagi.

###

Juli 2017, F2 berumur 24 bulan. Alhamdulillaah setelah mudik dari Bojonegoro saat momen Lebaran 1438 H, F2 sudah tidak menyusui lagi sepanjang hari dan sepanjang malam. Proses menyapih ini dimulai saat 1 Ramadhan 1438 H. Karena sudah niat untuk memulai puasa lagi, dan berdasarkan pengalaman membayar utang puasa 17 hari dua bulan sebelum puasa 1438 H, berpuasa dengan kegiatan full menyebabkan badan lemas-selemasnya, akhirnya setuju bersama suami untuk mulai menyapih F2.

Satu bulan selama Ramadhan 1438 H ( Mei-Juni 2017)

F2 diomongin kalau dia tidak ma saat siang hari. Kalau pas weekdays, ini adalah hal yang mudah karena F2 ditinggal di daycare. Tantangannya adalah weekend. Pekan pertama saat weekend, walaupun sudah diomongin berkali-kali kalau ma diganti dengan susu atau air putih tetap saja sejak pagi sudah minta ma. Kerjasama dengan suami, saat dia minta ma dialihkan ke yang lain dulu, ditawarin susu dll. Kalau tidak ngantu biasanya prosesnya bisa dialihkan. Nah, saat ngantuk dan mau tidur siang ini, dia biasanya keukeuh untuk ma.

Tapi selalu dibilangin gini;

“Adek sudah mau 2 tahun. Kalau siang ma diganti air susu yah. Atau mau air putih?” Tapi biasanya tetap nangis kuat.

“Adek, ibu tetap saya adek. Sekarang tidurnya digendong yah.” Diam sejenak dan mengangguk minta gendong. Akhirnya biasanya bisa tidur pulas.

Nah, setelah berbuka biasanya dia minta ma dan mesti sambil tiduran. Sesi mimik setelah berbuka ini bisa sampai 1-1.5 jam. Sampai sudah ‘kemeng’ rasanya ;). Proses seperti ini berlangsung selama bulan Ramadhan.

Sekitar 5 hari sebelum Lebaran 1438 H kita mudik ke Bojonegoro. Karena pertama kali mudik dengan mobil, akhirnya diambil kelonggaran, F2 boleh ma lagi sepanjang dia minta. 2 hari perjalanan ke Bojonegoro (karena malamnya kita nginap di Pekalongan) dan 2 hari perjalanan balik ke Serpong (karena 1 malam kita nginap di Tegal), F2 menyusu lagi hampir mungkin setiap dia ngantuk. Beberapa kali bisa dialihkan dengan susu kotak, air putih atau cemilan. Kalau gak bisa dialihkan yah menyusui lagi.

Di rumah mertua, juga gitu. Selagi bisa dialihkan tetap dialihkan, kalau gak bisa dialihkan lagi yah menyusui lagi.

Tapi satu hal yang konsisten dilakukan, setiap gak bisa dialihkan dan dia keukeuh minta menyusui dibilangin:

“Ok, sekarang ma yah. Ntar kalau sudah di rumah adek gak ma lagi, baik siang atau malam. Ma diganti susu atau air putih.” F2 biasanya ngangguk atau bilang iya.

Baca lebih lanjut

Iklan

F2 di usia 6 bulan

6 Januari 2015, F2 alhamdulillah berumur 6 bulan. Alhamdulillah sudah bisa merayap. Sudah kenal dengan sosok ibu dan berada di fase gak mau ditinggal ibu. Jadinya pagi hari saat menyiapkan keperluan F1 (masak air hangat, nyiapin handuk, nyiapin baju ganti, nyiapin sabun, sikat gigi dan pasta gigi), saat masak sederhana pagi hari, menyapu rumah dan menyiapkan keperluan anak-anak di daycare, F2 digendong di belakang. Sore hari juga seperti pagi hari.

Yang agak tricky adalah saat mandi pagi dan sore hari. Kalau sedang beruntung, F2 mau diletakkan di ruang tengah dengan banyak mainan ditemanin F1. Kalau tidak beruntung, dia akan nangis jerit-jerit dan merayap sampai depan kamar mandi.

Baca lebih lanjut

F1 di usia 4 tahun

Bulan Oktober kemarin, F1 berumur 4 tahun. Sesuai tradisi keluarga, tidak ada perayaan apapun. F1 minta dibawain kue coklat ke daycare dan ayahnya mesti datang di hari potong kue. Akhirnya pesan dengan teman di Pamulang dan dia sendiri yang nganterin ke daycare F1. Potong kuenya juga mundur sekitar 3 minggu, karena pas hari lahirnya, F1 dan F2 menemani saya yang ada seminar di Bandung. 2 minggu kemudian, jadwal ayahnya di kantor gak bisa diganggu gugat. Di hari H pun, yang rencana doa bersama dan potong kuenya di sore hari, akhirnya pindah ke pagi hari karena ayahnya ada rapat di sore harinya.

Menemani perjalanan tumbuh kembang F1 selama 4 tahun ini bagaikan belajar menulis pada lembaran-lembaran kehidupan. 3 tahun pertama F1 berada di Jepang, menemani ayah ibunya sekolah. Masa 3 tahun ini adalah masa-masa sulit untuk kami sebagai ortu yang juga sedang sekolah. F1 hampir tiap bulan mesti ke THT karena sejak umur sekitar 1 tahun terkena otitis media. Otitis medianya tambah parah saat musim dingin. Jika otitis medianya kambuh, panas tubuhnya bisa menyentuh angkan 40 dercel.

Menemani sosialisasi F1 pun juga menjadi PR tersendiri. Melihat sekarang F1 punya 4 teman dekat yang disebutnya sebagai teman baik, hari-harinya yang senantiasa semangat berangkat ke daycare dan sudah bisa bercerita panjang lebar dengan kalimat yang cukup runut adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi F1 yang memang sejak kecil selalu butuh waktu yang agak lama untuk berkenalan dengan dunia luar selain ayah ibunya. Masalah sosialisasi F1 dan terlambatnya dia ngomong juga yang akhirnya membuat kami mengambil keputusan tidak ada TV di rumah sejak F1 berumur sekitar 1.5 tahun.

Masa-masa awal berada di Indonesia adalah masa-masa berat bagi F1. Dia bingung mengapa mesti salaman ke semua orang saat awal bertemu dan ketika akan pulang. Dia bingung mengapa ada banyak kontradiksi yang dia temukan di lingkungan luar rumahnya. Dia bingung saat menemukan laba-laba, cicak atau semut di sekitar rumah. Dia juga masih bingung dengna banyaknya suara abang-abang penjual makanan. Dia juga bingung dengan becek dan kotor. Sekarang pun masih pelan-pelan menemani dia beradaptasi dengan semua hal yang baru dia temui di umur menjelang 4 tahun.

Proses menemani dia tumbuh dan berkembang akan terus berlanjut. Teruslah tumbuh dan berkembang dalam koridor kebaikan, F1.

Kelahiran anak pertama dan kedua

10 hal tentang 2F di saat kehamilan dan melahirkan mereka;

  1. F1 lahir di RS, F2 lahir di klinik bidan. F1 sejak tahu hamil sampai melahirkan gak pernah ganti RS, F2 hampir tiap kontrol ke dokter selalu berganti dokternya di RS yang berbeda dan akhirnya memilih melahirkan di bidan.
  2. F1 dan F2 sama-sama lahir kecepatan. F1 lahir di minggu ke-37, F2 lahir di minggu ke-36.5. Kondisi ini membuat awal-awal kelahiran F1 dan F2 tidak ditunggui ortu dam ortu mertua. Ibu baru bisa datang menjenguk setelah F1 berumur 1 bulan. F2 baru dijenguk ortu setelah berumur 2 hari dan kita udah pulang ke rumah. Kalau melahirkan F1 masih ditemanin suami, kelahiran F2 hanya dengan bidan, karena suami mesti momong F2 di teras rumah bidan. Pulang dari RS saat kelahiran F1 dan dari klinik bidan saat kelahiran F2, aku dan suami sama-sama capek dan bobok lama bgt hingga sore hari di saat rumah berantakan 😉
  3. F1 dan F2 sama-sama lancar menyusui sejak hari pertama. Alhamdulillaah di bulan ke 8 sejak kehamilan F1 dan F2, ASI memang sudah keluar.
  4. F1 dan F2 sama-sama dititip di daycare sejak bayi. F1 sejak umur 6 bulan, F2 sejak umur 2.5 bulan.
  5. Melahirkan F1 diawali dengan pecah ketuban selama 2 hari, melahirkan F2 diawali dengan kontraksi yang mulus.
  6. Di bukaan delapan, menjelang melahirkan F1 dan F2, kontraksinya sama-sama hilang. Alhamdulillah dipertemukan dengan tenaga medis yang senantiasa menyemangati untuk lahiran normal. Alhamdulillaah keduanya lahir dengan normal dan dibantu induksi.
  7. Berat badan F1 saat lahir 3 kg dengan panjang 48 cm, berat badan F2 3.5 kg dengan panjang 53 cm.
  8. F1 dan F2 sama-sama berjenis kelamin laki-laki dengan inisial FRW, nama keduanya sama-sama mengandung arti berjuang dan menang. Kalau kehamilan F1 ibunya sedang berusaha menyelesaikan S3, kehamilan F2 ibunya berjuangnya karena kita masih beradaptasi dengan semua hal yang baru di tempat tinggal sekarang dan pernah juga jatuh dari motor saat kehamilan 5 bulan. Semoga nama ini senantiasa mengingatkan F1 dan F2 untuk senantiasa berjuang di masa-masa yang akan datang.
  9. Orang yang pertama memandikan F1 dan F2 setelah pulang dari RS dan klinik bidan adalah ayahnya 😉
  10. Saat melahirkan F1, 10 hari berada di RS. Setelah melahirkan F2, 2 hari di klinik bidan. F2 sempat kuning sedangkan F1 gak kuning.

Sehat-sehat terus yah F1 dan F2.

Rutinitas sekarang ini

Hampir delapan bulan tidak menuliskan cerita di blog ini. Ada banyak kisah yang terjadi. Kelahiran F2 di awal Juli, menjalani rutinitas sebagai ibu bekerja dengan dua anak yang dititipkan di daycare dan mengerjakan pekerjaan RT dengan bantuan suami. Dan yang terpenting selama 8 bukan ini belajar bahwa semua keputusan kita senantiasa mempunyai konsekuensi dan meskipun setiap keputusan kita mendapatkan tentangan dari orang-orang sekitar saat kita yakin dengan keputusan itu, jalanilah dengan senantiasa memohon kemudahan dari Allah sepanjang perjalanan menjalaninya…

.

.

.

.

.

karena hidup sejatinya adalah berbicara tentang bagaimana kita berjuang dan bertahan.

From New Zealand to Netherlands

from NZ to NT

From New Zealand to Netherlands
— Inspiring Journey of Muslim Travelers

oleh: Ust. Khairul Umam, Rahmadiyanti Rusdi, dkk
Penyunting: Noviyanti Utaminingsih
Penyelaras Aksara: Nuraini
Desain Isi dan Layout: Ade Damayanti
Ilustrasi: Febriani Triastuti

Penerbit Jasa Penerbitan Halamanmoeka
Harga: Rp55.000,-

Royalti dan sebagian keuntungan didonasikan ke LAZ Ibadurrahman, Duri. Sebuah lembaga zakat yang sudah memberikan beasiswa kepada ribuan anak dari berbagai jenjang pendidikan.

=============

Merentang 29 catatan penuh hikmah dari 19 penulis, saat melintas atau menetap di berbagai negara. 4 benua.

Menuai hikmah perjalanan yang bukan sekadar mengisi waktu luang, “jalan-jalan”, tapi lebih dari itu… meresapi makna dan nilai kehidupan.

From New Zealand to Netherlands. Wherever we stood, Allah sees and helps. For sure!

Dapat dibeli di
Khansa Store
Parcel Buku
Retnadi Nur’aini (Halaman Moeka)
Buku Inspirasiku

Atau dapatkan di Islamic Book Fair, Stand Putaka Ikadi, Ruang Arofah pada 27 Februari-8 Maret 2015, ruang Arofah 1, stand no. 20 & 23

Surrendering to Motherhood; I Love to Be A Mom

Judul: Surrendering to Motherhood: I Love to Be A Mom

Penulis: Iris Krasnow

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit; Serambi 

####

Berkisah tentang kehidupan pribadi penulis yang awalnya adalah seorang jurnalis profesional di United Press International di belahan bumi Amerika. Kemudian, di usia yang sangat matang dengan umur di atas 30 tahun, kemudian memasuki dunia pernikahan dan berikrar bersama suami untuk mempunyai empat orang anak sebelum umur 40 tahun. Maka, sebelum umur 40 tahun, penulis telah mengalami kehamilan sebanyak 6 kali, dengan 2 kali keguguran dan dikaruniai 4 orang anak laki-laki yang sehat dan aktif. Dua di antaranya adalah kembar.

Kemudian, naluri keibuannya akhirnya membuat penulis memutuskan dengan sadar untuk menjalankan perannya sebagai ibu dengan optimal, dia memilih meninggalkan pekerjaan yang sangat dia cintai (yang sudah membuatnya berkelana ke banyak tempat dan mewawancarai banyak tokoh nasional Amerika), dan memilih menjadi ibu bagi empat anaknya sambil sesekali mengambil pekerjaan paruh waktu.  Perjuangan yang tidak mudah bagi penulis dan tentu saja ada banyak dilema yang ditemui. Dilema-dilema ini diceritakan di banyak tempat di dalam buku ini.

Beberapa kutipan yang aku suka:

Baca lebih lanjut