F2 di usia 6 bulan

6 Januari 2015, F2 alhamdulillah berumur 6 bulan. Alhamdulillah sudah bisa merayap. Sudah kenal dengan sosok ibu dan berada di fase gak mau ditinggal ibu. Jadinya pagi hari saat menyiapkan keperluan F1 (masak air hangat, nyiapin handuk, nyiapin baju ganti, nyiapin sabun, sikat gigi dan pasta gigi), saat masak sederhana pagi hari, menyapu rumah dan menyiapkan keperluan anak-anak di daycare, F2 digendong di belakang. Sore hari juga seperti pagi hari.

Yang agak tricky adalah saat mandi pagi dan sore hari. Kalau sedang beruntung, F2 mau diletakkan di ruang tengah dengan banyak mainan ditemanin F1. Kalau tidak beruntung, dia akan nangis jerit-jerit dan merayap sampai depan kamar mandi.

Baca lebih lanjut

F1 di usia 4 tahun

Bulan Oktober kemarin, F1 berumur 4 tahun. Sesuai tradisi keluarga, tidak ada perayaan apapun. F1 minta dibawain kue coklat ke daycare dan ayahnya mesti datang di hari potong kue. Akhirnya pesan dengan teman di Pamulang dan dia sendiri yang nganterin ke daycare F1. Potong kuenya juga mundur sekitar 3 minggu, karena pas hari lahirnya, F1 dan F2 menemani saya yang ada seminar di Bandung. 2 minggu kemudian, jadwal ayahnya di kantor gak bisa diganggu gugat. Di hari H pun, yang rencana doa bersama dan potong kuenya di sore hari, akhirnya pindah ke pagi hari karena ayahnya ada rapat di sore harinya.

Menemani perjalanan tumbuh kembang F1 selama 4 tahun ini bagaikan belajar menulis pada lembaran-lembaran kehidupan. 3 tahun pertama F1 berada di Jepang, menemani ayah ibunya sekolah. Masa 3 tahun ini adalah masa-masa sulit untuk kami sebagai ortu yang juga sedang sekolah. F1 hampir tiap bulan mesti ke THT karena sejak umur sekitar 1 tahun terkena otitis media. Otitis medianya tambah parah saat musim dingin. Jika otitis medianya kambuh, panas tubuhnya bisa menyentuh angkan 40 dercel.

Menemani sosialisasi F1 pun juga menjadi PR tersendiri. Melihat sekarang F1 punya 4 teman dekat yang disebutnya sebagai teman baik, hari-harinya yang senantiasa semangat berangkat ke daycare dan sudah bisa bercerita panjang lebar dengan kalimat yang cukup runut adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi F1 yang memang sejak kecil selalu butuh waktu yang agak lama untuk berkenalan dengan dunia luar selain ayah ibunya. Masalah sosialisasi F1 dan terlambatnya dia ngomong juga yang akhirnya membuat kami mengambil keputusan tidak ada TV di rumah sejak F1 berumur sekitar 1.5 tahun.

Masa-masa awal berada di Indonesia adalah masa-masa berat bagi F1. Dia bingung mengapa mesti salaman ke semua orang saat awal bertemu dan ketika akan pulang. Dia bingung mengapa ada banyak kontradiksi yang dia temukan di lingkungan luar rumahnya. Dia bingung saat menemukan laba-laba, cicak atau semut di sekitar rumah. Dia juga masih bingung dengna banyaknya suara abang-abang penjual makanan. Dia juga bingung dengan becek dan kotor. Sekarang pun masih pelan-pelan menemani dia beradaptasi dengan semua hal yang baru dia temui di umur menjelang 4 tahun.

Proses menemani dia tumbuh dan berkembang akan terus berlanjut. Teruslah tumbuh dan berkembang dalam koridor kebaikan, F1.

Kelahiran anak pertama dan kedua

10 hal tentang 2F di saat kehamilan dan melahirkan mereka;

  1. F1 lahir di RS, F2 lahir di klinik bidan. F1 sejak tahu hamil sampai melahirkan gak pernah ganti RS, F2 hampir tiap kontrol ke dokter selalu berganti dokternya di RS yang berbeda dan akhirnya memilih melahirkan di bidan.
  2. F1 dan F2 sama-sama lahir kecepatan. F1 lahir di minggu ke-37, F2 lahir di minggu ke-36.5. Kondisi ini membuat awal-awal kelahiran F1 dan F2 tidak ditunggui ortu dam ortu mertua. Ibu baru bisa datang menjenguk setelah F1 berumur 1 bulan. F2 baru dijenguk ortu setelah berumur 2 hari dan kita udah pulang ke rumah. Kalau melahirkan F1 masih ditemanin suami, kelahiran F2 hanya dengan bidan, karena suami mesti momong F2 di teras rumah bidan. Pulang dari RS saat kelahiran F1 dan dari klinik bidan saat kelahiran F2, aku dan suami sama-sama capek dan bobok lama bgt hingga sore hari di saat rumah berantakan ;)
  3. F1 dan F2 sama-sama lancar menyusui sejak hari pertama. Alhamdulillaah di bulan ke 8 sejak kehamilan F1 dan F2, ASI memang sudah keluar.
  4. F1 dan F2 sama-sama dititip di daycare sejak bayi. F1 sejak umur 6 bulan, F2 sejak umur 2.5 bulan.
  5. Melahirkan F1 diawali dengan pecah ketuban selama 2 hari, melahirkan F2 diawali dengan kontraksi yang mulus.
  6. Di bukaan delapan, menjelang melahirkan F1 dan F2, kontraksinya sama-sama hilang. Alhamdulillah dipertemukan dengan tenaga medis yang senantiasa menyemangati untuk lahiran normal. Alhamdulillaah keduanya lahir dengan normal dan dibantu induksi.
  7. Berat badan F1 saat lahir 3 kg dengan panjang 48 cm, berat badan F2 3.5 kg dengan panjang 53 cm.
  8. F1 dan F2 sama-sama berjenis kelamin laki-laki dengan inisial FRW, nama keduanya sama-sama mengandung arti berjuang dan menang. Kalau kehamilan F1 ibunya sedang berusaha menyelesaikan S3, kehamilan F2 ibunya berjuangnya karena kita masih beradaptasi dengan semua hal yang baru di tempat tinggal sekarang dan pernah juga jatuh dari motor saat kehamilan 5 bulan. Semoga nama ini senantiasa mengingatkan F1 dan F2 untuk senantiasa berjuang di masa-masa yang akan datang.
  9. Orang yang pertama memandikan F1 dan F2 setelah pulang dari RS dan klinik bidan adalah ayahnya ;)
  10. Saat melahirkan F1, 10 hari berada di RS. Setelah melahirkan F2, 2 hari di klinik bidan. F2 sempat kuning sedangkan F1 gak kuning.

Sehat-sehat terus yah F1 dan F2.

Rutinitas sekarang ini

Hampir delapan bulan tidak menuliskan cerita di blog ini. Ada banyak kisah yang terjadi. Kelahiran F2 di awal Juli, menjalani rutinitas sebagai ibu bekerja dengan dua anak yang dititipkan di daycare dan mengerjakan pekerjaan RT dengan bantuan suami. Dan yang terpenting selama 8 bukan ini belajar bahwa semua keputusan kita senantiasa mempunyai konsekuensi dan meskipun setiap keputusan kita mendapatkan tentangan dari orang-orang sekitar saat kita yakin dengan keputusan itu, jalanilah dengan senantiasa memohon kemudahan dari Allah sepanjang perjalanan menjalaninya…

.

.

.

.

.

karena hidup sejatinya adalah berbicara tentang bagaimana kita berjuang dan bertahan.

From New Zealand to Netherlands

from NZ to NT

From New Zealand to Netherlands
— Inspiring Journey of Muslim Travelers

oleh: Ust. Khairul Umam, Rahmadiyanti Rusdi, dkk
Penyunting: Noviyanti Utaminingsih
Penyelaras Aksara: Nuraini
Desain Isi dan Layout: Ade Damayanti
Ilustrasi: Febriani Triastuti

Penerbit Jasa Penerbitan Halamanmoeka
Harga: Rp55.000,-

Royalti dan sebagian keuntungan didonasikan ke LAZ Ibadurrahman, Duri. Sebuah lembaga zakat yang sudah memberikan beasiswa kepada ribuan anak dari berbagai jenjang pendidikan.

=============

Merentang 29 catatan penuh hikmah dari 19 penulis, saat melintas atau menetap di berbagai negara. 4 benua.

Menuai hikmah perjalanan yang bukan sekadar mengisi waktu luang, “jalan-jalan”, tapi lebih dari itu… meresapi makna dan nilai kehidupan.

From New Zealand to Netherlands. Wherever we stood, Allah sees and helps. For sure!

Dapat dibeli di
Khansa Store
Parcel Buku
Retnadi Nur’aini (Halaman Moeka)
Buku Inspirasiku

Atau dapatkan di Islamic Book Fair, Stand Putaka Ikadi, Ruang Arofah pada 27 Februari-8 Maret 2015, ruang Arofah 1, stand no. 20 & 23

Surrendering to Motherhood; I Love to Be A Mom

Judul: Surrendering to Motherhood: I Love to Be A Mom

Penulis: Iris Krasnow

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit; Serambi 

####

Berkisah tentang kehidupan pribadi penulis yang awalnya adalah seorang jurnalis profesional di United Press International di belahan bumi Amerika. Kemudian, di usia yang sangat matang dengan umur di atas 30 tahun, kemudian memasuki dunia pernikahan dan berikrar bersama suami untuk mempunyai empat orang anak sebelum umur 40 tahun. Maka, sebelum umur 40 tahun, penulis telah mengalami kehamilan sebanyak 6 kali, dengan 2 kali keguguran dan dikaruniai 4 orang anak laki-laki yang sehat dan aktif. Dua di antaranya adalah kembar.

Kemudian, naluri keibuannya akhirnya membuat penulis memutuskan dengan sadar untuk menjalankan perannya sebagai ibu dengan optimal, dia memilih meninggalkan pekerjaan yang sangat dia cintai (yang sudah membuatnya berkelana ke banyak tempat dan mewawancarai banyak tokoh nasional Amerika), dan memilih menjadi ibu bagi empat anaknya sambil sesekali mengambil pekerjaan paruh waktu.  Perjuangan yang tidak mudah bagi penulis dan tentu saja ada banyak dilema yang ditemui. Dilema-dilema ini diceritakan di banyak tempat di dalam buku ini.

Beberapa kutipan yang aku suka:

Baca lebih lanjut

[WLI] Masa Adaptasi Fatah di Daycare

Tanggal 1 Oktober, kami sekeluarga mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Hari ini, sekitar 27 hari, kami menetap di sebuah perumahan di daerah Cisauk, pinggiran Serpong. Masa-masa menjelang meninggalkan Jepang, ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala. Bagaimanakah proses adaptasi di tempat yang baru bisa berjalan dengan menyenangkan bagi kami semua; aku, suami dan Fatah. Terkait dengan Fatah, yang paling meninggalkan banyak pertanyaan adalah bagaimana daycare Fatah.

Aku dan suami memang sudah sepakat, Fatah akan dititipkan di daycare selama kami berada di kantor. Alhamdulillaah berdiskusi beberapa kali dengan seorang teman baik yang sudah lama bekerja di Puspiptek, akhirnya kami mantap menitipkan Fatah di daycare yang berada di lingkungan kantor, yang dikelola oleh istri salah seorang seniorku di kantor yang sekarang. Daycare ini bukanlah daycare yang ideal dalam pandanganku. Daycare ini hanya ada tiga ruangan, satu ruangan diperuntukkan untuk ruangan bermain dan kantor pemilik daycare. Satu ruangan diperuntukkan untuk tempat tidur anak-anak. Satu ruangan yang lain untuk dapur. Ruang makan anak-anak berada di teras daycare, biasanya digunakan juga untuk anak-anak yang sarapan di pagi hari dan saat makan snack di sore hari. Kedua ruangan ini menyatu dengan bangunan TK milik yayasan kantor.

Di depan teras tempat makan ini ada halaman yang cukup luas untuk anak-anak berlari-larian dan satu ayunan duduk. Di sore hari, anak-anak yang dititipkan di daycare kadang-kadang bisa menggunakan mainan TK yang memang cukup banyak. Selama di daycare, anak-anak yang dititipkan mendapatkan makan siang, snack pagi dan sore. Untuk sarapan pagi, jika anak-anak akan sarapan di daycare, mesti membawa dari rumah. Susu juga mesti membawa dari rumah. Fatah biasanya membawa 2 kotak susu UHT @125 ml. Biasanya diminum di pagi dan sore hari.

Baca lebih lanjut