Dokter Anak 2F

Salah satu PR saat kembali ke Indonesia adalah mencari dokter anak untuk F1. Saat di Jepang, dokter anak F1 hanya 2. Dokter 1 untuk semua kondisi saat F1 sakit. Dokter 2 untuk imunisasi F1 yang sering bareng sekali datang.

Nah, saat balik ke Indonesia, pencarian dokter anak ini juga dengan jalan yang panjang, dan akhirnya memutuskan untuk kondisi sakit 2F dibawa ke dr. Najib Advani. Sebelum tiba pada keputusan ini, 2F pernah ke beberapa dokter.

  1. Dokter 1 di RS BH, karena antriannya yang panjang akhirnya tidak jadi konsultasi.
  2. Dokter 2 di RS H, F2 seingatku dibawa ke sini 2 kali dengan dokter 2 ini. Di kali kedua, saat itu F2 diare berdarah dan berlendir. Akhirnya dibawa ke sini, setelah konsultasi diberilah obat dan vitamin dengan harga yang lumayan. Selang 3 hari, F2 tidak sembuh. Meskipun sudah dibekali surat pengantar ke IGD, akhirnya lebih memilih membawa F2 ke dr. Najib, alhamdulillah berangsur-angsur sembuh
  3. Dokter 3 di RS M, ini saat F2 panas tinggi setelah iminusasi campak. Yang disalahkan adalah ibunya, mengapa anaknya diimunisasi di bidan dalam keadaan pilek walaupun tidak demam. Akhirnya dikasih obat. Di rumah saat diminumkan obat ini, F2 gak mau padahal F2 ini adalah tipe yang segala obat mau-mau saja. Penasaran, akhirnya saya coba obat itu dan ternyata obatnya pahit banget. Akhirnya F2 dibawa lagi ke dr. Najib, gak ada pernyataan menyalahkan ibunya F2, dan juga imunisasi campaknya. Alhamdulillah F2 berangsur-angsur sembuh.
  4. Dokter IGD di RS S, yang ini berganti-ganti dengan 2 dokter. Sejauh ini untuk kondisi darurat masih bisa dipertimbangkan karena dekat rumah.

Tentang dr. Najib ini, kalau bagi saya, yang agak gak enak itu jam prakteknya 🙂 Dari rumah kalau naik mobil bisa 30 menit-1 jam. Dari kantor kalau pulang kerja langsung ke praktek beliau bisa sampai 1.5 jam. Praktenya pagi sekali (06.00-08.00) atau sore sekali (18.00-21.00) karena siang hari beliau masih ngajar di RSCM. Dokternya tegas dan enak kalau ditanya-tanya. Ngasih obatnya juga irit dan porsinya kecil. Alhamdulillah selama ini 2F cocok dengan beliau. Kesenioran beliau dalam dunia kedokteran selalu mengingatkan ke dokter 1-nya F1.

Iklan

Menyapih F2

Hampir1.5 tahun hiatus dari blog ini. Semoga tulisan ini awal yang baik untuk membiasakan menulis (dan membaca) lagi.

###

Juli 2017, F2 berumur 24 bulan. Alhamdulillaah setelah mudik dari Bojonegoro saat momen Lebaran 1438 H, F2 sudah tidak menyusui lagi sepanjang hari dan sepanjang malam. Proses menyapih ini dimulai saat 1 Ramadhan 1438 H. Karena sudah niat untuk memulai puasa lagi, dan berdasarkan pengalaman membayar utang puasa 17 hari dua bulan sebelum puasa 1438 H, berpuasa dengan kegiatan full menyebabkan badan lemas-selemasnya, akhirnya setuju bersama suami untuk mulai menyapih F2.

Satu bulan selama Ramadhan 1438 H ( Mei-Juni 2017)

F2 diomongin kalau dia tidak ma saat siang hari. Kalau pas weekdays, ini adalah hal yang mudah karena F2 ditinggal di daycare. Tantangannya adalah weekend. Pekan pertama saat weekend, walaupun sudah diomongin berkali-kali kalau ma diganti dengan susu atau air putih tetap saja sejak pagi sudah minta ma. Kerjasama dengan suami, saat dia minta ma dialihkan ke yang lain dulu, ditawarin susu dll. Kalau tidak ngantu biasanya prosesnya bisa dialihkan. Nah, saat ngantuk dan mau tidur siang ini, dia biasanya keukeuh untuk ma.

Tapi selalu dibilangin gini;

“Adek sudah mau 2 tahun. Kalau siang ma diganti air susu yah. Atau mau air putih?” Tapi biasanya tetap nangis kuat.

“Adek, ibu tetap saya adek. Sekarang tidurnya digendong yah.” Diam sejenak dan mengangguk minta gendong. Akhirnya biasanya bisa tidur pulas.

Nah, setelah berbuka biasanya dia minta ma dan mesti sambil tiduran. Sesi mimik setelah berbuka ini bisa sampai 1-1.5 jam. Sampai sudah ‘kemeng’ rasanya ;). Proses seperti ini berlangsung selama bulan Ramadhan.

Sekitar 5 hari sebelum Lebaran 1438 H kita mudik ke Bojonegoro. Karena pertama kali mudik dengan mobil, akhirnya diambil kelonggaran, F2 boleh ma lagi sepanjang dia minta. 2 hari perjalanan ke Bojonegoro (karena malamnya kita nginap di Pekalongan) dan 2 hari perjalanan balik ke Serpong (karena 1 malam kita nginap di Tegal), F2 menyusu lagi hampir mungkin setiap dia ngantuk. Beberapa kali bisa dialihkan dengan susu kotak, air putih atau cemilan. Kalau gak bisa dialihkan yah menyusui lagi.

Di rumah mertua, juga gitu. Selagi bisa dialihkan tetap dialihkan, kalau gak bisa dialihkan lagi yah menyusui lagi.

Tapi satu hal yang konsisten dilakukan, setiap gak bisa dialihkan dan dia keukeuh minta menyusui dibilangin:

“Ok, sekarang ma yah. Ntar kalau sudah di rumah adek gak ma lagi, baik siang atau malam. Ma diganti susu atau air putih.” F2 biasanya ngangguk atau bilang iya.

Baca lebih lanjut

F2 di usia 6 bulan

6 Januari 2015, F2 alhamdulillah berumur 6 bulan. Alhamdulillah sudah bisa merayap. Sudah kenal dengan sosok ibu dan berada di fase gak mau ditinggal ibu. Jadinya pagi hari saat menyiapkan keperluan F1 (masak air hangat, nyiapin handuk, nyiapin baju ganti, nyiapin sabun, sikat gigi dan pasta gigi), saat masak sederhana pagi hari, menyapu rumah dan menyiapkan keperluan anak-anak di daycare, F2 digendong di belakang. Sore hari juga seperti pagi hari.

Yang agak tricky adalah saat mandi pagi dan sore hari. Kalau sedang beruntung, F2 mau diletakkan di ruang tengah dengan banyak mainan ditemanin F1. Kalau tidak beruntung, dia akan nangis jerit-jerit dan merayap sampai depan kamar mandi.

Baca lebih lanjut

F1 di usia 4 tahun

Bulan Oktober kemarin, F1 berumur 4 tahun. Sesuai tradisi keluarga, tidak ada perayaan apapun. F1 minta dibawain kue coklat ke daycare dan ayahnya mesti datang di hari potong kue. Akhirnya pesan dengan teman di Pamulang dan dia sendiri yang nganterin ke daycare F1. Potong kuenya juga mundur sekitar 3 minggu, karena pas hari lahirnya, F1 dan F2 menemani saya yang ada seminar di Bandung. 2 minggu kemudian, jadwal ayahnya di kantor gak bisa diganggu gugat. Di hari H pun, yang rencana doa bersama dan potong kuenya di sore hari, akhirnya pindah ke pagi hari karena ayahnya ada rapat di sore harinya.

Menemani perjalanan tumbuh kembang F1 selama 4 tahun ini bagaikan belajar menulis pada lembaran-lembaran kehidupan. 3 tahun pertama F1 berada di Jepang, menemani ayah ibunya sekolah. Masa 3 tahun ini adalah masa-masa sulit untuk kami sebagai ortu yang juga sedang sekolah. F1 hampir tiap bulan mesti ke THT karena sejak umur sekitar 1 tahun terkena otitis media. Otitis medianya tambah parah saat musim dingin. Jika otitis medianya kambuh, panas tubuhnya bisa menyentuh angkan 40 dercel.

Menemani sosialisasi F1 pun juga menjadi PR tersendiri. Melihat sekarang F1 punya 4 teman dekat yang disebutnya sebagai teman baik, hari-harinya yang senantiasa semangat berangkat ke daycare dan sudah bisa bercerita panjang lebar dengan kalimat yang cukup runut adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi F1 yang memang sejak kecil selalu butuh waktu yang agak lama untuk berkenalan dengan dunia luar selain ayah ibunya. Masalah sosialisasi F1 dan terlambatnya dia ngomong juga yang akhirnya membuat kami mengambil keputusan tidak ada TV di rumah sejak F1 berumur sekitar 1.5 tahun.

Masa-masa awal berada di Indonesia adalah masa-masa berat bagi F1. Dia bingung mengapa mesti salaman ke semua orang saat awal bertemu dan ketika akan pulang. Dia bingung mengapa ada banyak kontradiksi yang dia temukan di lingkungan luar rumahnya. Dia bingung saat menemukan laba-laba, cicak atau semut di sekitar rumah. Dia juga masih bingung dengna banyaknya suara abang-abang penjual makanan. Dia juga bingung dengan becek dan kotor. Sekarang pun masih pelan-pelan menemani dia beradaptasi dengan semua hal yang baru dia temui di umur menjelang 4 tahun.

Proses menemani dia tumbuh dan berkembang akan terus berlanjut. Teruslah tumbuh dan berkembang dalam koridor kebaikan, F1.

Kelahiran anak pertama dan kedua

10 hal tentang 2F di saat kehamilan dan melahirkan mereka;

  1. F1 lahir di RS, F2 lahir di klinik bidan. F1 sejak tahu hamil sampai melahirkan gak pernah ganti RS, F2 hampir tiap kontrol ke dokter selalu berganti dokternya di RS yang berbeda dan akhirnya memilih melahirkan di bidan.
  2. F1 dan F2 sama-sama lahir kecepatan. F1 lahir di minggu ke-37, F2 lahir di minggu ke-36.5. Kondisi ini membuat awal-awal kelahiran F1 dan F2 tidak ditunggui ortu dam ortu mertua. Ibu baru bisa datang menjenguk setelah F1 berumur 1 bulan. F2 baru dijenguk ortu setelah berumur 2 hari dan kita udah pulang ke rumah. Kalau melahirkan F1 masih ditemanin suami, kelahiran F2 hanya dengan bidan, karena suami mesti momong F2 di teras rumah bidan. Pulang dari RS saat kelahiran F1 dan dari klinik bidan saat kelahiran F2, aku dan suami sama-sama capek dan bobok lama bgt hingga sore hari di saat rumah berantakan 😉
  3. F1 dan F2 sama-sama lancar menyusui sejak hari pertama. Alhamdulillaah di bulan ke 8 sejak kehamilan F1 dan F2, ASI memang sudah keluar.
  4. F1 dan F2 sama-sama dititip di daycare sejak bayi. F1 sejak umur 6 bulan, F2 sejak umur 2.5 bulan.
  5. Melahirkan F1 diawali dengan pecah ketuban selama 2 hari, melahirkan F2 diawali dengan kontraksi yang mulus.
  6. Di bukaan delapan, menjelang melahirkan F1 dan F2, kontraksinya sama-sama hilang. Alhamdulillah dipertemukan dengan tenaga medis yang senantiasa menyemangati untuk lahiran normal. Alhamdulillaah keduanya lahir dengan normal dan dibantu induksi.
  7. Berat badan F1 saat lahir 3 kg dengan panjang 48 cm, berat badan F2 3.5 kg dengan panjang 53 cm.
  8. F1 dan F2 sama-sama berjenis kelamin laki-laki dengan inisial FRW, nama keduanya sama-sama mengandung arti berjuang dan menang. Kalau kehamilan F1 ibunya sedang berusaha menyelesaikan S3, kehamilan F2 ibunya berjuangnya karena kita masih beradaptasi dengan semua hal yang baru di tempat tinggal sekarang dan pernah juga jatuh dari motor saat kehamilan 5 bulan. Semoga nama ini senantiasa mengingatkan F1 dan F2 untuk senantiasa berjuang di masa-masa yang akan datang.
  9. Orang yang pertama memandikan F1 dan F2 setelah pulang dari RS dan klinik bidan adalah ayahnya 😉
  10. Saat melahirkan F1, 10 hari berada di RS. Setelah melahirkan F2, 2 hari di klinik bidan. F2 sempat kuning sedangkan F1 gak kuning.

Sehat-sehat terus yah F1 dan F2.

[WLI] Masa Adaptasi Fatah di Daycare

Tanggal 1 Oktober, kami sekeluarga mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Hari ini, sekitar 27 hari, kami menetap di sebuah perumahan di daerah Cisauk, pinggiran Serpong. Masa-masa menjelang meninggalkan Jepang, ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala. Bagaimanakah proses adaptasi di tempat yang baru bisa berjalan dengan menyenangkan bagi kami semua; aku, suami dan Fatah. Terkait dengan Fatah, yang paling meninggalkan banyak pertanyaan adalah bagaimana daycare Fatah.

Aku dan suami memang sudah sepakat, Fatah akan dititipkan di daycare selama kami berada di kantor. Alhamdulillaah berdiskusi beberapa kali dengan seorang teman baik yang sudah lama bekerja di Puspiptek, akhirnya kami mantap menitipkan Fatah di daycare yang berada di lingkungan kantor, yang dikelola oleh istri salah seorang seniorku di kantor yang sekarang. Daycare ini bukanlah daycare yang ideal dalam pandanganku. Daycare ini hanya ada tiga ruangan, satu ruangan diperuntukkan untuk ruangan bermain dan kantor pemilik daycare. Satu ruangan diperuntukkan untuk tempat tidur anak-anak. Satu ruangan yang lain untuk dapur. Ruang makan anak-anak berada di teras daycare, biasanya digunakan juga untuk anak-anak yang sarapan di pagi hari dan saat makan snack di sore hari. Kedua ruangan ini menyatu dengan bangunan TK milik yayasan kantor.

Di depan teras tempat makan ini ada halaman yang cukup luas untuk anak-anak berlari-larian dan satu ayunan duduk. Di sore hari, anak-anak yang dititipkan di daycare kadang-kadang bisa menggunakan mainan TK yang memang cukup banyak. Selama di daycare, anak-anak yang dititipkan mendapatkan makan siang, snack pagi dan sore. Untuk sarapan pagi, jika anak-anak akan sarapan di daycare, mesti membawa dari rumah. Susu juga mesti membawa dari rumah. Fatah biasanya membawa 2 kotak susu UHT @125 ml. Biasanya diminum di pagi dan sore hari.

Baca lebih lanjut

Uang dan Dokter

Selama 3 tahun usia Fatah, sudah sangat sering berurusan dengan beberapa dokter, misalnya dokter umum, dokter anak dan dokter THT. Karena tergolong penduduk Chiba yang tidak berpenghasilan (status mahasiswa dianggap sebagai penduduk yang tidak berpenghasilan), berdasarkan pengalaman, saat ke dokter untuk membayar obat paling besar mengeluarkan uang 30 yen. Ini karena, setelah dipotong oleh asuransi, untuk anak-anak untuk wilayah Chiba seluruh penduduknya (termasuk juga orang asing) masih mendapatkan potongan khusus sehingga biasanya seluruh biaya pengobatan (termasuk biaya dokter) menjadi 0 yen.

Nah, karena pengalaman inilah, saat Fatah sudah batuk yang lumayan mengganggu waktu tidurnya, saat ke dokter hari Senin, 7 Juli 2014 kemarin, aku gak ngecek dompet. Setelah diperiksa oleh dokter umum langganan dekat rumah, beberapa saat menunggu, nama Fatah dipanggil oleh resepsionis. Setelah menjelaskan resep obat yang mesti ditebus dan surat yang ditujukan ke sekolah Fatah karena ada satu obat yang diberikan setelah makan siang, terjadilah percakapan berikut :

Resepsionis (R) : Ini resepnya dan ini surat untuk daycare.

Aku (A) : Ok

R : Untuk suratnya tolong bayara 300 yen.

A : *mengecek isi dompet. Langsung terdiam, ternyata yang tertinggal di dompetku hanyalah uang recehan. Setelah dihitung gak cukup 300 yen.* Aduh, maaf, uangnya gak cukup. Nanti sore boleh saya membayarnya?

R : Iya, gpp. Saat berobat lain kali juga gpp.

A : Terima kasih. Maaf.

Setelah itu, aku menuju apotek milik dokter umum itu. Sesuai dugaan, aku diminta menebus satu jenis obat seharga 30 yen. Obat yang lain gratis.

Sorenya aku kembali lagi ke dokter umum tersebut untuk membayar hutang. Ternyata setelah pukul 5 sore, beliau sudah tidak praktek lagi. Keeseokan harinya aku datang lagi ke tempat beliau, dan membayar hutang 🙂