Surrendering to Motherhood; I Love to Be A Mom

Judul: Surrendering to Motherhood: I Love to Be A Mom

Penulis: Iris Krasnow

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit; Serambi 

####

Berkisah tentang kehidupan pribadi penulis yang awalnya adalah seorang jurnalis profesional di United Press International di belahan bumi Amerika. Kemudian, di usia yang sangat matang dengan umur di atas 30 tahun, kemudian memasuki dunia pernikahan dan berikrar bersama suami untuk mempunyai empat orang anak sebelum umur 40 tahun. Maka, sebelum umur 40 tahun, penulis telah mengalami kehamilan sebanyak 6 kali, dengan 2 kali keguguran dan dikaruniai 4 orang anak laki-laki yang sehat dan aktif. Dua di antaranya adalah kembar.

Kemudian, naluri keibuannya akhirnya membuat penulis memutuskan dengan sadar untuk menjalankan perannya sebagai ibu dengan optimal, dia memilih meninggalkan pekerjaan yang sangat dia cintai (yang sudah membuatnya berkelana ke banyak tempat dan mewawancarai banyak tokoh nasional Amerika), dan memilih menjadi ibu bagi empat anaknya sambil sesekali mengambil pekerjaan paruh waktu.  Perjuangan yang tidak mudah bagi penulis dan tentu saja ada banyak dilema yang ditemui. Dilema-dilema ini diceritakan di banyak tempat di dalam buku ini.

Beberapa kutipan yang aku suka:

Untuk menyeimbangkan papan jungkat-jungkit antara pekerjaan dan anak-anak ini, penting bagi kita untuk mencoba dan menemukan apa yang mendasari sumber keinginan profesional kita, khususnya jika Anda seperti saya, yang terseret ke tempat kerja sebagian besar karena ego dan kebutuhan untuk mencinptakan dan bukan karena kebutuhan materi. Dari latihan ini kita bisa mendefinisi ulang makna “kebutuhan” dan “keinginan”. (hal. 183).

Setiap wanita harus bisa memilih apa yang tepat baginya berdasarkan kebutuhan emosional dan finansialnya tanpa harus dicela masyarakat, dan tanpa memunculkan rasa tidak suka dari teman-teman yang berada di jalur yang berbeda. Kita harus menghargai pilihan masing-masing, dan menyadari bahwa seorang ibu maupun seorang wanita profesional sama-sama kesulitan untuk memutuskan apakah ia harus bekerja penuh waktu atau tinggal di rumah. Keputusan itu sarat dengan pertimbangan untung-rugi. Mari kita berharap bahwa di masa sekarang ini kita akan menyaksikan berkurangnya celaan; semoga tidak ada lagi seorang anti-feminis, atau bahwa wanita yang bekerja di rumahnya itu menyia-nyiakan jam biologisnya. (hal. 205).

Kehidupan adalah sekarang, titik. Kita tidak dapat mengendalikan kejahatan yang ada di dunia. Satu-satunya yang dapat kita kendalikan adalah semesta kecil keluarga kita. Drngan berada di sana dan mencintai mereka sepenuhnya, kelak mereka akan berusaha mencintai diri mereka sendiri. (hal. 284)

Selama bertahun-tahun saya punya beberapa pengasuh hebat, tetapi suatu hal yang pasti: Anda dan saya dapat memiliki pengasuh terhebat di muka bumi, tetapi tidak ada orang yang secara fisik dapat menyentuh anak-anak kita seperti yang kita lakukan. Proses kimia yang sakral ini juga menentramkan kita, penenang jiwa yang optimal. Semua proses ini menjadi milik kita. (hal. 287)

Hadiah terpenting yang bisa Anda berikan kepada dunia adalah menghasilkan manusia berkualitas yang diberkati dengan limpahan perasaan, gagasan dan kasih sayang. Dan itu membutuhkan waktu. (hal. 304)

Saya tetap seorang wanita Tipe A yang dikuasai pekerjaannya, hanya saja pekerjaan utama saya sekarang adalah anak-anak saya. Dengan melihat mereka tumbuh, belajar, dan saling mencintai, saya merasa lengkap; saya sudah merasa sampai ke tujuan, dan inilah tempat yang ingin saya rasakan. Semua ini membuat saya sadar sepenuhnya bahwa menjadi seorang ibu bagi anak-anak adalah pribadi terbaik yang sudah saya miliki, dan yang mungkin saya miliki. Setelah semua petualangan selama ini, saya merasakan kepuasan terdalam justru ketika berada di rumah bersama anak-anak. (hal. 318-319)

Mencintai adalah menjadikan diri kita tidak terpisah dan tidak terpotong-potong, dan hadir dengan sepenuh hati. Mencintai adalah memberikan perhatian kita secara penuh. (hal. 326)

Ketika kita memilih untuk menjadi ibu, kita membuat komitmen yang paling mendasar sebagai seorang manusia, sebuah janji yang tidak dapat ditarik kembali untuk merawat keturunan kita. Kita tidak dipaksa untuk mempunyai anak. Kita menjadi ibu karena kita ingin menjadi ibu, banyak di antara kita menginginkan ini lebih dari keinginan yang lainnya. )hal. 344)

Saya pernah mendengar tentang ibu-ibu baru lainnya, yang saling mengunggulkan diri dengan berbagai cerita tentang betapa cepatnya mereka melakukan perjalanan bisnis pertama, betapa cepatnya mereka kehilangan berat badan yang dulu naik sebesar empat puluh pon, betapa cepat mereka kembali memimpin rapat komite pendapatan museum, atau betapa cepatnya mereka kembali mengangkat barang-barang berat. Sebagai orang yang pernah keluar dari pintu itu terlalu cepat, saya katakan kepada mereka bahwa urusan tubuh, pekerjaan, dan urusan sosial mereka bisa ditunda. Saya katakan bahwa bayi mereka akan masuk taman kanak-kanak besok, dan bahwa mereka pasti tidak ingin melewatkannya, bahwa mereka sebaiknya tidak melewatkannya, bahwa saat seperti itu tidak akan kembali. Dan ketika mereka menuduh saya sebagai penganut garis keras yang sudah meninggalkan cita-cita feminis, saya yakinkan mereka bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan secara lebih kuat sebagai wanita daripada menolak menanggalkan naluri kita sebagai ibu. (hal. 346)

###

Bagiku, membaca buku ini, mengingatkan kembali kepada masa April-September 2014, saat aku dan Fatah saja tinggal di Jepang di akhir masa studiku. Suami tidak mendapatkan ijin dari kantornya lagi untuk menemani kami. Satu semester itu aku juga belajar makna skala prioritas, berani menetapkan prioritas dan mematuhinya. Fatah, kuliah, part time job dan agenda ruhani mingguan. Itulah keempat prioritas tersebut. Artinya, tidak ada kegiatan kumpul-kumpul bersama teman-teman Indonesia di akhir minggu, atau bahkan saat makan siang. Saat Fatah sakit, itu berarti aku tidak bisa ke kampus dan mengerjakan pekerjaan lab setelah dia tidur. Capek tentu saja, karena tidak ada yang menggantikan urusan domesti rumah tangga juga. Namun, pada akhirnya, aku belajar, mematuhi skala prioritas itu memang perlu meskipun kadang kita agak diabaikan teman-teman.

Iklan

9 pemikiran pada “Surrendering to Motherhood; I Love to Be A Mom

  1. Bukunya bagus ya?? Buku-buku begini bikin kita jadi lebih semangat memaknai peran kita sebagai ibu yaa? Dan bener, dalam hidup, kita perlu menetukan skala prioritas, sampai kadang heran lihat ada orang yang bingung tidak punya kerjaan, sementara kita, berasa waktu 24 jam kurang padahal banyak kewajiban yang belum diselesaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s