[WLI] Masa Adaptasi Fatah di Daycare

Tanggal 1 Oktober, kami sekeluarga mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Hari ini, sekitar 27 hari, kami menetap di sebuah perumahan di daerah Cisauk, pinggiran Serpong. Masa-masa menjelang meninggalkan Jepang, ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala. Bagaimanakah proses adaptasi di tempat yang baru bisa berjalan dengan menyenangkan bagi kami semua; aku, suami dan Fatah. Terkait dengan Fatah, yang paling meninggalkan banyak pertanyaan adalah bagaimana daycare Fatah.

Aku dan suami memang sudah sepakat, Fatah akan dititipkan di daycare selama kami berada di kantor. Alhamdulillaah berdiskusi beberapa kali dengan seorang teman baik yang sudah lama bekerja di Puspiptek, akhirnya kami mantap menitipkan Fatah di daycare yang berada di lingkungan kantor, yang dikelola oleh istri salah seorang seniorku di kantor yang sekarang. Daycare ini bukanlah daycare yang ideal dalam pandanganku. Daycare ini hanya ada tiga ruangan, satu ruangan diperuntukkan untuk ruangan bermain dan kantor pemilik daycare. Satu ruangan diperuntukkan untuk tempat tidur anak-anak. Satu ruangan yang lain untuk dapur. Ruang makan anak-anak berada di teras daycare, biasanya digunakan juga untuk anak-anak yang sarapan di pagi hari dan saat makan snack di sore hari. Kedua ruangan ini menyatu dengan bangunan TK milik yayasan kantor.

Di depan teras tempat makan ini ada halaman yang cukup luas untuk anak-anak berlari-larian dan satu ayunan duduk. Di sore hari, anak-anak yang dititipkan di daycare kadang-kadang bisa menggunakan mainan TK yang memang cukup banyak. Selama di daycare, anak-anak yang dititipkan mendapatkan makan siang, snack pagi dan sore. Untuk sarapan pagi, jika anak-anak akan sarapan di daycare, mesti membawa dari rumah. Susu juga mesti membawa dari rumah. Fatah biasanya membawa 2 kotak susu UHT @125 ml. Biasanya diminum di pagi dan sore hari.

Anak-anak juga akan dimandikan di sore hari, sekitar pukul 4 sore. Karena itu, anak-anak diminta juga membawakan 2 stel pakaian dan handuk. Handuk ini mesti diganti seminggu sekali. Pengasuhnya ada 9 orang dengan umur yang rentangnya cukup jauh. Karena itu ada yang dipanggil teteh, bunda, ibu, oma dll 😀

Tentang kedisiplinan dan menumbuhkan kemandirian bagi anak, masih menganut style pendidikan di Indonesia; saat disusui anak-anak digendong, untuk anak di bawah satu tahun kadang makan juga digendong dan jam tidurnya tergantung jam tidur masing-masing anak.

Ada banyak hal yang kusukai dari daycare ini adalah dari kantorku hanya sekitar 10 menit, gak langsung berbatasan dengan jalan raya, masih di lingkungan yang hijau dan asri, para pangasuhnya terlihat sayang dengan semua anak yang dititipkan, Fatah yang gak mau makan siang pada minggu pertama di daycare dengan bujuk rayu yang menyenangkan akhirnya makan, biaya bulanannya masih terjangkau untuk kantong kami, pemiliknya adalah istri seniorku di kantor, dan rasa kekeluargaan di daycare (misalnya anak dan ortu yang cium tangan dengan pemilik daycare tanpa diminta oleh beliau), idealisme pemilik daycare yang hampir sama dengan idealismeku (mungkin juga karena dipengaruhi beliau pernah tinggal sekitar 10 tahun di Jepang) serta ada guru mengaji di hari Selasa dan Kamis.

Pada akhirnya, memang guru pertama bagi seorang anak adalah kedua orang tuanya. Daycare adalah sistem yang mensupport kedua orang tua yang bekerja dalam pengasuhan seorang anak, karena itu kekurangan yang kutemui di daycare maka itu adalah tugasku dan suami untuk mengurangi efeknya bagi tumbuh kembang Fatah.

Iklan

20 pemikiran pada “[WLI] Masa Adaptasi Fatah di Daycare

  1. Alhmdllh dgn adanya day care di sekitar puspiptek sangat membantu yah, putri saya juga di ti2p di sn juga sejak Agst 2014. Utk minggu2 pertama memang kalau ditinggal nangis, tp lama kelamaan sdh terbiasa malah jadi betah hehehe…skrg sdh bisa menghafal doa makan walau umurnya blm 2 tahun..Alhmdllh

  2. Mba inga, perkenalkan sy indri, temennya kiki yg lg sekolah di chiba. Sy pernah dikasi tau kiki kalo kita tinggal di kompleks yg sama, bahkan sptnya rumah kita belakang-belakangan deh 😉 Kalo lg nemenin anak2 maen dan pas lewat depan rumah mba inga sy selalu clingak-clinguk tp ga berani ngetok haha Kalo lg ga sibuk main atuh mba ke rumah, atau ke taman belakang, saya ibu2 berdaster yg ngangon 2 anak paling berisik se cluster ;p

    • Iya, Mbak Indri, Kiky pernah cerita. Iya nih belum sempat ketemu yah. Tapi saya udah nanya-nanya dengan Mama Aira yang rumahnya sebelah kontrakan saya. Katanya Mama Aira sering ketemu Mbak Indri yah? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s