[Serial LDM] Satu bulan pertama

Awal April 2014, ada sebuah perubahan besar dalam keluarga kecil kami. Adanya masalah studiku, dan diharuskannya si mas pulang ke Indonesia karena pekerjaan, membuat kami berhitung dengan banyak hal saat 6 bulan sebelum bulan April ini. Keputusan terbaik akhirnya adalah Fatah tetap bersama denganku di Jepang, dan mas pulang sendirian ke Indonesia serta menyiapkan segala hal sebelum kepulanganku dan Fatah. Hal yang sungguh berat apalagi dengan ketiadaan beasiswa. Alhamdulillaah ada tawaran part time job dari teman sebagai teman berdialog bahasa Inggris dengan mahasiswa/i di sebuah universitas swasta di Tokyo. Lumayan terbantu.

Satu bulan pertama belumlah terlewati, tetapi ada saja kejadian yang membuat hati dan pikiran menjadi tercurahkan. Capek, tentu saja. Tapi, memang mesti dilewati dan dijalani.

Minggu pertama bulan April. Fatah memasukkan mainannya ke dalam toilet. Akibatnya, air toilet tidak bisa mengalir dengan lancar. Kalau ada si mas, menangani hal kayak gini adalah hal yang mudah. Mas bukan orang yang penjijik, seperti istrinya. Sudah mencoba bertanya di grup orang-orang yang tinggal di Chiba. Ada beberapa solusi, yang pada akhirnya tidak ada satupun yang bisa aku lakukan. Akhirnya, aku pergi ke kantor pelayanan sehari-hari kompleks apato kami. Di sana, aku diminta menelpon jasa pembersihan apato, termasuk menangani masalah toilet ini. Alhamdulillaah, masalahnya selesai akhirnya di minggu kedua bulan April.

Memasuki minggu kedua bulan April, di suatu malam, Fatah mengeluh perutnya sakit. Aku pikir dia bercanda. Kepeluk Fatah. Biasanya dia akan tenang. Tapi, dia tetap mengeluh sakit perut. Kubaringkan Fatah. Kubalurkan minyak kayu putih di sekujur tubuhnya. Dia tetap mengeluh sakit perut. Kali ini disertai dengan gigilan di mulutnya, pertanda dia memang menahan sakit yang teramat sangat.

Alarm muncul di kepalaku. Ini sudah masuk tanda kegawatdaruratan. Berdua dengan Fatah saja ke rumah sakit yang UGD-nya melayani pemeriksaan di malam hari adalah hal yang gak mungkin. Akhirnya memberanikan menelpon seorang teman baik. Dia dan keluarganya bersedia mengantarkan ke rumah sakit itu. Hampir dua puluh menit menempuh perjalanan, beberapa kali melihat Fatah menahan sakit perutnya. Akhirnya tiba juga di rumah sakit. Sesampainya di UGD, Fatah diukur suhunya. 40 dercel. Itu sudah ambang maksimum suhu tertinggi bagi Fatah. Agak menunggu lama, akhirnya sampai juga giliran kami, Gastroentritis. Begitulah dokter menebut hasil diagnosanya. Dibekali obat penurun panas dan obat penahan mual, untuk berjaga-jaga kalau malam itu Fatah muntah beberapa kali.

Sesampainya di rumah, setelah minum obat penurun panas, akhirnya Fatah tidur juga. Tidur yang tidak lelap. Karena dia akan terjaga saat obat penurun panas sudah berhenti bekerja. Suhu tubuhnya kembali di sekitar 40 dercel. Keesokan harinya, Fatah kubawa ke dokter anak langganan. Diperiksa dengan lebih teliti. Bukan gastroentritis, tapi infeksi bronkitis. Fatah memang sudah satu minggu batpil. Tapi, dia tidak panas, jadinya kuabaikan saja batpilnya. Lumayan lega, karena bronkitis Fatah biasanya memang akan kena kalau dia sudah kelamaan batpil. Dibekali juga obat yang biasa dia terima dari dokter anak langganan. Aku berharap hari itu panas Fatah akan turun. Tapi, sampai dengan malam hari, panas Fatah hanya turun saat obat penurun panas berhenti bekerja. Setelah itu, panas tubuhnya akan kembali menyentuh angka 40 dercel. Malam kedua, kembali aku dan Fatah tidak lelap lagi tidurnya.

Hari ketiga. Aku sudah membatalkan part time job minggu ini. Sudah dua hari juga tidak ke kampus dan menyentuh bahan penelitian. Hanya membaca-baca jurnal yang disempatkan saat Fatah tertidur sebentar. Pagi hari, panas Fatah masih di kisaran 40 dercel. Aku mulai cemas. Ada sesuatu yang salah. Bukan hanya batpil. Saat menidurkan Fatah di pagi hari, kucek seluruh tubuh Fatah. Tidak ada ruam-ruam merah di kaki atau tangannya. Kucek telinga Fatah. Takutnya, otitis medianya kambuh lagi. Sejak umur kurang dari satu tahun sampai dengan sekarang 2.5 tahun, sudah beberapa kali Fatah kena otitis media.

Ada cairan yang keluar dari telinga Fatah. Ini pasti penyebab panas tingginya, batinku. Aku harus segera membawa Fatah ke THT. Sehabis mandi siang, aku baru ingat kalau hari itu adalah hari Rabu yang berarti hari libur klinik THT langganan Fatah. Gak mungkin nunggu sampai keesokan harinya. Fatah sudah sangat lelah dengan panas tingginya yang sudah 3 hari itu. Aku juga sudah lelah.

Akhirnya mencoba mencari di internet dengan kata kunci “耳鼻科稲毛区” (dokter THT sekitar Inage-ku). Alhamdulillah menemukan satu tempat yang aku cukup familiar tempatnya. Aku mencoba menelpon, memastikan hari itu klinik THT mereka tidak tutup. Alhamdulillaah ada suster yang mengangkat telponku. Kuceritakan kondisi Fatah. Dia menyarankan untuk ke klinik saat sesi sore. Di akhir telpon, dia menanyakan tempat tinggalku. Kusebutkan alamat rumah. Dia menjelaskan kalau klinik mereka cukup jauh dari tempat tinggalku. Lebih baik aku ke klinik THT yang dekat dengan tempat tinggalku. Dia memberikan 2 pilihan klinik THT dekan rumah. Kucoba mencari lagi di internet posisi kedua klinik THT itu. Alhamdulillaah bisa menemukan di internet. Kucoba satu klinik yang lumayan dekat. Telponku diangkat. Kuceritakan lagi kondisi Fatah, alhamdulillaah Fatah bisa diperiksa di sesi siang.

Pukul setengah tiga, aku bersiap-siap bersama Fatah. Berjalan sedikit ke depan komplek apato, alhamdulillaah ada taksi lewat. Aku ke klinik dengan taksi. Sesampainya di klinik, menunggu sebentar, akhirnya Fatah diperiksa. Dugaanku benar. Otitis medianya kambuh lagi. Dokter sedikit memarahiku. Kata beliau, lain kali kalau Fatah sudah panas dan batpil jangan hanya pergi ke dokter anak, tapi juga ke THT.

Setelah periksa akhirnya aku dan Fatah pulang. Kali ini aku menggunakan monorail. Dengan bekal petunjuk dari suster di klinik THT tadi, akhirnya sampai juga kami di apato setelah menyambung dengan sedikit berjalan kaki dari stasiun monorail terdekat dengan komplek apato kami. Fatah sudah ceria. Panasnya sudah mulai turun. Malam itu, disambi menelpon ayahnya, Fatah makan banyak sekali. Aku sudah sangat capek. Kuajak Fatah bobok cepat. Alhamdulillaah Fatah mau. Malam itu akhirnya kami tidur lelap.

Keseokan harinya, panas Fatah sudah normal. Fatah sudah mulai sekolah. Aku ke kampus lagi. Alhamdulillaah, berbekal asuransi untuk semua penduduk Jepang dan asuransi untuk anak dari pemerintah kota tempat kami tinggal, biaya konsultasi dokter dan obat adalah 0 yen. Aku berfikir, suatu saat jika tidak tinggal lagi di Jepang, kemudahan untuk mengobati anak ini adalah salah satu yang akan aku rindukan dari tanah kelahiran Fatah ini.

Iklan