Rangkuman 99 Cahaya di Langit Eropa

Buku ebook kedua yang dibeli di gramediana. Buku pertama yang dibaca dengan disambi mengetikkan kata banyak kata kunci di google. Buku ke sekian yang meninggalkan banyak hikmah, tidak hanya di pikiran tetapi juga di hati.

###

Di tengah retorika teriakan jihad untuk memerangi negara-negara barat, kita dihadapkan pada suatu realitas : tidak ada satupun negara Islam yang mempunyai kemampuan teknologi untuk melindungi dirinya sendiri saat ini. (5)

Tetapi, buat saya sendiri, hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tsb harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yg dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. (7)

Perjalanan ini membuka mata cahaya bahwa Islam dulu pernah mjd sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan. (8)

Perang memang tidak pernah menjadi jawaban untuk meraih kekuasaan. Yang ada hanya kehilangan. (74)

Aku berusaha membaca pesan yg tertera dalam kertas besar tersebut. Bahasa Jerman yg rumit membuatku lama berdiri menatapnya, berusaha menyerap arti kata per kata.
Syiar muslim di Syiria :
1. Tebarkan senyum indahmu
2. Kuasai bahasa jerman dan inggris
3. Selalu jujur dlm berdagang (90)


Aku yakin, sebagian besar manusia yg berpindah agama untuk memeluk Islam bukanlah mereka yang terpengaruh debat dan diskusi antaragama. Bukan karena terpaksa menikah dengan pasangan. Bukan karena mereka mendengarkan ceramah agama Islam yg berat dan tak terjamah oleh pikiran awam manusia. Bukan karena semua itu. Sebagaimana Ezra yg tadinya apatis pada agama, dia jatuh cinta kepada Islam karena pesona umat pemeluknya. Seperti Latife yg selalu mengumbar senyumnya. Seperti Fatma yg membalas perlakuan para turis bule di Kahlenberg dg traktiran dan memberikan alamat untuk membuka perkenalan. Seperti Natalie yg percaya restoran ikhlasnya bisa merekahkan kebahagiaan para pelanggan. Saat itu aku yakin, orang-orang ini memahami dan mengerjakan tuntunan Islam dg kaffah. Mereka paham bahwa dg mengucap syahadah, melekat kewajiban sbg manusia yang harus terus memancarkan cahaya Islam sepanjang zaman dengan keteduhan dan kasih sayang (95)

“Hidayah turun tak pernah tahu di mana dan bagaimana. Tidak semua orang yang mengucapkannya saat di Sungai Danube. Banyak cara dan jalan ketika hidayah itu muncul, lalu meresap ke dalam hati dan jiwa” (118)

“Pada dasarnya semua orang mendapatkan hidayah itu. Pada suatu titik dalam kehidupannya setiap manusia di dunia ini pada dasarnya pernah berfikir tentang siapakah dirinya, mengapa dan untuk apa dia hidup, dan adalah kekuatan di atas kekuatan hidupnya. Hanya saja ada yg kemudian mencari dan menelisik, ada pula yang membuangnya jauh-jauh atau melupakannya. Yang mencaripun ada yg caranya salah atau keliru. Dan sebagainya dan sebagainya (119)

Sejauh-jauhnya orang terhadap agama, pada akhirnya dia tak akan sanggup menjauhkn Tuhan dari hatinya. Meski pikiran dan mulutnya bisa mengingkari-Nya, ruh dan sanubari manusia tidak akan pernah sanggup berbohong (137)

Klopun Tuhan itu tidak ada, kita tetap harus mencari-Nya (138)

Ilmu pengetahuan itu pahit pada awalnya, tetapi manis melebihi madu pada akhirnya (155)

Agama dan ilmu harus membentuk keseimbangan yg tak bisa dibentur-benturkan. Keduanya tak boleh mengkafiri yg lainnya. Baik agama dan ilmu pengetahuan harus membuka diri satu sama lain. Kalau tidak, keseimbangan itu akan runtuh. Kekuatan ying dan yang harus saling melengkapi, tidak boleh saling mengingkari (156)

Janganlah menelantarkan harapan. Perjuangan masih panjang (157)

Mengalah itu tidak kalah, melainkan menang secara hakiki (208)

Puasa itu melatih kita jujur terhadap diri sendiri. Aku ingin puasaku hanya dinilai oleh Tuhanku, karena memang melakukannya untuk-Nya (214)

Aku bisa menganalogikan semua ibadah yg kulakukan sebagai premi yg harus kubayarkan kepada Tuhan. Agar aku merasa tenang dan damai (216)

Ibadah menyangkut dimensi spiritual yg hanya bisa dimaknai dalam kerangka keikhlasan (216)

“Kalau Tuhan ternyata tidak ada…nothing to lose, Stefan. Toh aku tak kehilangan apapun di dunia ini. Setidaknya aku bahagia ada ‘perasaan’ yg membuatku menjalani hidup lebih baik, tenang, damai tanpa was was. Aku tak ingin menyesal pada hari tuaku, bahwa hidupku kuhabiskan dengan kesia-siaan. Itu saja…” (218)

Kau tidak akan bisa melarang orang, tidak boleh ini tidak boleh begitu, atau ini haram dan itu halal, jika perut orang yang kau ceramahi itu keroncongan (250)

Manusia terlalu ingin terlihat mulia dan setia di hadapan Tuhan dengan membela mati-matian apa yg dianggap benar di mata Tuhan. Padahal blm tentu Tuhan berkenan …. (275)

…yang paling penting dari mempelajari sejarah adalah bukan hanya kemampuan menjabarkan siapa yang menang siapa yang kalah, melainkan mengadaptasi semangat untuk terus menatap ke depan, mengambil sikap bijak darinya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan dunia (332)

…Aku ingin suatu saat nanti, dari awal kedatangan di dunia ini seluruh anak muslim tahu tiada kebanggaan yang berarti kecuali menjadi muslim. Aku ingin mereka lahir sebagai muslim karena mereka memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, merasakan dan mencintai Islam, bukan karena paksaan orang lain. Dan aku ingin mereka tahu bahwa dalam setiap waktu, dalam masa depan mereka, mereka akan menemui orang-orang yang berbeda dalam kepercayaan, bahasa dan bangsa. Aku akan mengajarkan pada mereka bahwa perbedaan terjadi bukan karena Tuhan tidak bisa menjadikan kita tercipta sama. Menciptakan manusia homogen itu bukan perkara sulit untuk-Nya. Itu semua terjadi justru karena Tuhan Maha Tahu, jika kita semua sama, tidak ada lagi keindahan bagi manusia. Jadi, nikmatilah perbedaan itu… (368)

… Bahwa membuat orang bahagia sekaligus diri kita bahagia itu sangat mudah, asalkan kita membuka mata hati kita..(371)

Penjelajahan terhadap masa lalu hanyalah suatu usaha untuk lebih mengenal diri sendiri, mengenal kuasa Tuhan atas jiwa-jiwa kita (374)

Seribu tahun Islam bersinar, lalu pelan-pelan memudar. Aku bertanya, mengapa? Karena sebagian umat Islam sudah mulai melupakan apa yang telah diperdengarkan Jibril kepada Muhammad pertama kali. Karena kita sudah terlalu sibuk bercumbu dengan kata jihad yg salam dimaknai dg pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan) (391)

###

Iklan