(Bukan) Resensi Surat Dahlan

Menandai, akhirnya, selesai juga membaca buku ini setelah mencicil berbulan-bulan, ada beberapa kalimat penyemangat yang bisa dijadikan sebagai motivasi.

@@@
“Barangkali aku cuma punya harapan yang bertumpuk setiap saat di kepala. Itulah sebabnya kunamai kepalaku dengan kebun harapan. Kebun yang segala jenis bibit bisa tumbuh di sana. Lucunya, aku tak pernah tahu, atau mungkin belum tahu, bibit apa yg paling tepat di tanam di kebun harapan itu.” (SD, 27)

“Hidup bukan rentetan kenikmatan belaka. Kadang kita butuh kegagalan untuk memahami betapa nikmatnya keberhasilan.”(SD, 32)

“Aku ingin menjadi ibu dengan keluarga yang hanya mengenal satu sumber air mata : karena bahagia.”(SD, 33)

“Kukenang-kenang rupa bapak yang tirus. Memang beliau tidak pernah kuliah atau sekolah tinggi-tinggi. Namun, Bapak tahu bagaimana semestinya menitipkan petuah soal budi pekerti. Ya, dengan bercerita. Bukan lewat keras larangan, bukan pula lewat hukuman. Maka, petuah-petuah itu mengakar di dalam kalbu.” (SD, 62)

“Tuhan memang selalu punya cara untuk membahagiakan hamba-Nya. Dan, kegembiraan terbesar bagiku adalah ketika menemukan dengan apa dan bagaimana semestinya mengatasi masalah.”(SD, 66)

“Kita hidup dari apa yg kita dapatkan dan kita bahagia dari apa yg kita berikan.” (SD, 84)

“Jika semangat diibaratkn roda, sekarang semangatku untuk kuliah sedang berada di titik bawah. Malah paling bawah. Seandainya bisa, akan kuciptakan roda-roda lain yang baru, yang lebih banyak. Dengan jumlah yang lebih banyak, aku akan menggunakan roda lain tang sedang di atas. Akan tetapi, kata-kata selalu jauh lebih mudah dari aplikasi.” (SD, 90)

“Wahai para pengikutku, kalian tidak akan berhasil meraih cita-cita kecuali kalian bersabar atas apa yg kalian tidak inginkan. Kalian takkan sanggup meraih keinginan kecuali kalian meninggalkan apa yg kalian gandrungi.” (kata-kata Usamah ibn Munqidz dlm kitan Lubabul Adan, SD, 93)

“Kita memang dilahirkan bersama rasa takut, tapi kita tidak boleh gentar menghadapi apapun.” (SD, 218).

“Kadang kita lupa mensyukuri anugerah yang kita terima. Mungkin karena rahmat itu kita anggap kecil atau memang sesuatu yang lumrah, lantas kita lalai menjaganya.” (SD, 263)

“Ada 3 hal di dunia yang selalu kurawat. Kepercayaan, rasa hormat dan cinta. Kehilangan kepercayaan adalah pintu gerbanh kehilangan rasa hormat. Sebaliknya juga begitu. Dan kehilangan kedua hal itu otomatis dapat membuat seseorang kehilangan cinta.” (SD, 311).

“Apa yang paling besar di dunia ini? Apa yang paling berat di dunia ini? Apa yang paling dekat di dunia ini? Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah amanah. Dan yang paling dekat adalah kematian.” (SD, rangkuman hal.360-363)

“Saat menderita, janganlah terlalu berduka. Kalau bisa, hadapilah dengan senyuman.” (SD, 372)
@@@

12 thoughts on “(Bukan) Resensi Surat Dahlan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s