Puasa di Jepang

Ramadhan 1434 H kali ini adalah Ramadhan tahun kelimaku di Jepang. Bertepatan dengan puncak musim panas. Suasananya panas dan lembab. Meskipun gak bergerak, tahu-tahu badan terasa berkeringat dan tentunya juga terasa haus. Bersyukurnya Ramadhan kali ini aktivitas di kampus lebih banyak berada di ruangan, meskipun untuk ruanganku suhu maksimal AC-nya hanya diset minimal 28 dercel. Gak bisa lagi lebih rendah dari itu.

Lima tahun aku menjalankan puasa Ramadhan di Jepang.ย  Empat kali berhari raya Idul Fitri (kami sekeluarga mudik dan berhari raya di Indonesia tahun 2012) di negeri sakura ini. In shaa Allaah tahun depan akan berpuasa dan berhari raya di Indonesia karena kami sekeluarga sudah memutuskan akan pulang dan menetap di Indonesia mulai tahun depan.

Tentu saja, berpuasa di Jepang berbeda sekali dengan berpuasa di Indonesia. Apalagi bagiku yang juga seorang ibu dari anak berumur 21 bulan yang juga adalah seorang mahasiswi. Puasa di tahun kelima ini, aku merasa lebih capek. Mungkin juga karena aktivitas diam dalam arti yang sebenarnya adalah saat tidur di malam hari dari pukul 21.30-2 malam. Apalagi, puasa kali lebih panjang, 16 jam. Berpuasa dimulai sejak pukul 3 dini hari sampai pukul 7 malam. Meskipun tetap menyempatkan tidur lagi seusai shalat subuh, ternyata tetap saja tidak berpengaruh dengan stamina badan. Bersyukurnya puasa kali ini tetap bisa bersama keluarga kecil, alhamdulillaah.

Bagiku berpuasa di rantau adalah berpuasa dengan makna yang sebenarnya. Apalagi di lab yang sekarang, prof dan teman-teman lab juga tidak mengerti kalau aku menjalankan ibadah puasa. Mungkin juga karena mayoritas orang-orang yang berada di lab ini adalah laki-laki. Bersyukur lagi berada di lingkungan kaum laki-laki ini adalah tidak terlalu banyak aktivitas ngobrol gak jelas. Hidup memang rentetan peristiwa hidup yang sangat layak untuk disyukuri, ternyata. Apapun kondisi yang sedang dihadapi ๐Ÿ™‚

Berpuasa kali ini tetap dengan menu yang seadanya. Bedanya, aku berusaha untuk membuat menu takjil setiap hari. Tentu saja dengan syarat menu yang cepat waktu pembuatannya dan enak :). Tentang waktu pembuatan ini sangat penting bagiku karena aku hanya bisa membuat menu takjil itu 1 jam saja, antara pukul 18.00-19.00. Alhamdulillaah di meja makan tetap bisa ada dua gelas es teh, buah, dan menu takjil.

Untuk menu lauk-pauk malam hari dan bersahur dibuat di pagi hari, karena si kecil juga mesti makan pagi sebelum berangkat ke daycare. Langsung dipisah ke dalam 2 tempat. Satu tempat untuk makan di malam hari. Satu tenpat lagi disiapkan untuk menu sahur. Sebelum meninggalkan rumah di pagi hari, makanan-makanan tersebut mesti disimpan di kulkas karena musuh makanan di musim panas adalah makanan akan cepat sekali menjadi basi. Bersyukur lagi, suami juga bukan tipe orang yang menu di malam hari dan menu sahur mesti berbeda. Benar kan, hidup adalah renteten peristiwa yang mesti disyukuri? ๐Ÿ™‚

Selama puasa Ramadhan ini, tugas menjemput Fatah diambil alih oleh suami. Bersyukur sekali, suami hanya di hari Senin mesti berada di kampusnya di Tsukuba (yang waktu perjalananannya hampir sekitar 2.5 jam dengan kereta). Biasanya tugas mengantar dan menjemput Fatah di daycare adalah tugasku. Tapi, karena Ramadhan kali ini, sepulang dari kampus sekitar pukul 17.00, aku mesti membuat takjil, terasa sangat capek bagiku jika aku mesti menjemput Fatah dari sekolahnya. 15 menit mengayuh sepeda lalu menaiki tangga hingga lantai 5 (karena apato kami berada di lantai 5 dengan gedung yang tidak ada lifnya) saat berpuasa itu benar-benar menguras energi. Energinya akan semakin terkuras jika ditambah saat menaiki tiat demi tiat anak tangga hingga ke lantai 5 dengan membawa tas di punggung dan menggendong Fatah yang bobotnya hampir 10 kg di depan serta menjinjing baju kotor Fatah selama di daycare di tangan kanan. Alhamdulillaah suami mau mengambil tugas menjemput Fatah di sore hari.

Yang menjadi berbeda lagi di puasa kali ini adalah adanya ifthar bersama teman-teman dari Indonesia dan negara-negara lain. Ifthar bersama teman-teman Indonesia sudah 2 kali dilaksanakan, tanggal 14 dan 20 Agustus kemarin. Tanggal 27 Agustus ini, In shaa Allaah ada ifhtar bareng dengan teman-teman muslim dari negara lain.

Begitulah cerita Ramadhan kali ini ๐Ÿ™‚

Iklan

25 pemikiran pada “Puasa di Jepang

  1. Ping balik: Dua Hari Satu Malam Tanpa Fatah | Fety

  2. bakal jadi kenangan yang menyenangkan someday pas diinget ya, Fet. Apalagi karena sekarang ngejalaninnya juga dibawa seneng. Titip salam sama kaki yang ramping ya ihihi

  3. Salut dengan perjuangannya berpuasa selama musim panas, mbak. Nanti kalau sudah pulang ke Indo akan jadi kenangan indah ya? Semoga puasanya lancar dan sehat selalu disana.

  4. Minggu lalu de juga merasakan puasa 16 jam di Qingdao. Yah secara lokasinya gak jauh dari Jepang, pasti periode waktunya juga mirip sih.

    Sayang nya gak ada penerbangan transit Jepang, adanya via Korea. Itu pun kehabisan tiket karena musim liburan.

    Nanti kalo pulang ke Indo, kita jadi tetanggaan kan?

    • Tetanggaannya sekitar BSD/Pamulanglah De, kalau tetanggaan rumah belum tentu nih karena kalau ternyata rumah-rumah di sekitar rumahnya De jauh di atas anggaran rumah yang kami tentukan maka mesti melipir ke tempat yang lebih masuk di kantong ๐Ÿ˜€

  5. Jempol dulu untuk segala perjuangan Fety…
    Ini akan menjadi pengalaman berharga dan memperkaya hidup.
    Dan kerasa banget ketika merantau ini, kerja sama suami-istri itu mutlak banget. Tapi itu sungguh jadi mendekatkan satu sama lain ya..

    • Iya,, benar, mbak Titi. Setelah menikah saya dan suami gak pernah tinggal lama di rumah orti atau mertua. Efek positifnya yah memang harus ada kerja sama untuk mengurusi urusan domestik rumah tangga.

    • Iya mbak monda, sekarang udah 21 bulan. Aamiin, mbak. Konsekuensi jauh dari keluarga besar sambil sekolah dan punya anak yah kayak gini ๐Ÿ™‚ Yang penting tetap bahagia, mbak ๐Ÿ™‚

  6. Bundo belum liat foto fatah yang terbaru… ๐Ÿ™‚

    semangat terus puasanya ya fey.. apalg banyak kegiatan berkumpul dengan sahabat dari berbagai negara.. menyenangkan!

  7. semangat menjalankan ibadah puasa ya kak. walaupun jauh dari keluarga dengan suasana yang berbeda dari kampung halaman, semoga Allah SWT selalu memudahkan dan melapangkan ya kak…aamiin… ^_^

    • Aamiin, Arman, untuk doanya. Iya nih konsekuensi tinggal di apato yang udah tua dan gak ada liftnya, olahraga tiap hari naik ke lantai 5 ๐Ÿ™‚

  8. selamat menikmati ramadhan terakhir di negara sakura ya.. Semoga puasanya juga penuh. tahun ini hari-hari panasnya jauh lebih cepat dan banyak daripada tahun lalu ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s