[SPIdJ] Terima kasih Tango

Tempat kelahiranku adalah sebuah kota kecil di Provinsi Bengkulu. Dari bandara miliknya Provinsi Bengkulu, untuk sampai ke rumah ibu bapak mesti menggunakan kendaaran roda empat yang memakan waktu sekitar 3 jam. Jangan bayangkan perjalanan akan mulus seperti halnya jalan tol yang menghubungkan Jakarta-Bandung. Seperti karakteristik jalan-jalan penghubung di pulau Sumatera yang berkelok-kelok, begitu juga dengan perjalanan dari bandara -yang terletak di kota- ke kota kelahiranku. Dulu saat masih SMU, menempuh perjalanan dari kota kelahiranku ke kota Bengkulu, aku selalu muntah selama di perjalanan karena tidak kuat dengan berkelok-keloknya jalan yang dilewati selama perjalanan 3 jam itu.

Semenjak merantau ke Yogya dan setelah berpengalaman menempuh perjalanan darat Jakarta-Kota kelahiran atau Yogyakarta-kota kelahiran dengan waktu tempuh sekitar 12 jam bahkan bisa lebih kalau saat mudik Lebaran, akhirnya mabuk darat selama di perjalanan ini hilang begitu saja. Mabuk darat ini berganti dengan mengantuk di sepanjang perjalanan. Kalau dulu, aku akan mabuk selama perjalanan darat yang berkelok-kelok, sekarang sebagai gantinya mataku akan mengantuk mulai dari awal hingga akhir perjalanan 🙂

Konsekuensi berasal di kota kecil ini adalah ketidakadaan fasilitas internet yang memadai. Saat liburan lebaran tahun 2012, kami sekeluarga benar-benar menikmati liburan. Menggunakan internet jika memang sangat butuh dan itupun butuh perjuangan. Berdasarkan pengalamanku, sepertinya facebooklah yang bisa diakses dengan agak cepat selama kami liburan tahun 2012. Karena itu pula, semenjak merantau ke Jepang, aku hampir tidak pernah melakukan video call dengan bapak dan ibu di rumah. Paling sering adalah menelpon (voice call) lewat Skype.

Jadi, aku menelpon ke hp bapak atau ibu melalui Skype. Dari beberapa kali menggunakan fasilitas menelpon yang disediakan oleh beberapa web, menurutku dengan biaya yang murah aku bisa bisa menelpon bapak dan ibu dengan kualitas suara yang bagus. Kalau dengan keluarga suami yang berada di Pulau Jawa, fasilitas video call-nya Skype bisa digunakan dengan memuaskan. Hampir tiap minggu, kami melakukan video call dengan keluarga suami.

Setelah si adek bungsu mengganti hp, mulailah si kakak tengah -aku- berusaha untuk mengompori si adek bungsu untuk meng-install beberapa aplikasi yang memungkinkan aku bisa melakukan video call dengan bapak ibu. Alhamdulillah si adek bungsu mau direpotkan oleh si kakak tengahnya. Akhirnya melalui Viber, aku dan si adek bungsu bisa saling menelpon dengan gratis. Aku memang berlangganan internet melalui hp. Sedangkan si adek bungsu membeli paket data internet untuk hp-nya. Tetap saja si kakak tengah tergelitik untuk bisa melakukan video call dengan bapak dan ibu. Si adek bungsu sudah berusaha meng-install Skype, Google + (untuk memanfaatkan fasilitas google hangout-nya), tetapi karena hp si adek bungsu tidak mempunyai kamera depan (front camera), ternyata video call tetap saja tidak bisa dilakukan.

Akhirnya, berulang kali menelusuri google dengan memasukkan beberapa kata kunci, akhirnya pencarianku berujung ke tango. Aku dan si adek bungsu lalu meng-install tango di hp kami masing-masing. Untuk menyiasati ketiadaan kamera depan di hp si adek bungsu, berdasarkan petunjuk di sebuah diskusi di sebuah website yang membahas tentang tango ini, si adek bungsu menggunakan cermin saat kami melakukan video call. Yippie, akhirnya kami bisa melakukan video call. Kualitas videonya juga bagus. Paket data yang digunakan untuk melakukan video call juga masih bisa diusahakan kalau kata si adek bungsu, sekitar 8.3 Mb selama 1 menit.

Iklan

13 pemikiran pada “[SPIdJ] Terima kasih Tango

  1. Huuuaaaa Inga Fe *peluk
    Suprise sekaligus terharu saya baca-baca postingannya. Dari kota Manna ya inga? Saya juga dari Bengkulu. Ini lagi cari2 info tentang program Teacher Training di Jepang. Saya pengen ikutan tapi masih berat ninggalin keluarga, meski suami sudah mengizinkan. Kalau tak keberatan saya butuh sharingnya.
    Sebelumnya terimakasih.

    Salam manis dari Bengkulu

  2. Huuuuaaaa Inga fe *peluk, dari kota Manna ya?
    Senang bisa nyasar ke blog ini (sksd)
    Saya juga dari Bengkulu, saat ini sedang nyari-nyari info tentang TT. Pengen ikutan
    Tapi masih terasa berat ninggalin keluarga walau suami dah restu. Boleh kita japrian via imel inga..
    Salam manis dari Bengkulu

  3. aku jg waktu kecil dulu suka mabok darat mba,, jd kalau mau kemana mana harus siap kantong plastik deh (buat itu tuuuh),,hee
    tp krna sering melakukan perjalanan jauh hilang deh penyakit mabok daratnya

  4. ide cerdas pake cermin …, jempol

    btw, lewat kampung halamanmu itu pernah mabok juga, padahal biasanya nggak ….., emang jalannya berliku banget ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s