[SPIdJ] Menjadi CS Harus Sabar

Sejak tahun lalu, niatan untuk membeli Kindle ada di hati. Tetapi, belum bisa direalisasikan karena banyak faktor. Tahun ini, teman-teman Indonesia yang tinggal di Chiba ngajakin untuk arisan. Sudah diniatkan dari awal kalau uang arisan itu akan dibelikan Kindle.

Setelah mendapatkan jatah arisan di bulan Oktober, sebenarnya udah langsung mau pesan Kindle Fire di http://www.amazon.com, tapi ternyata penjualan Kindle Fire hanya terbatas untuk US. Sempat kecewa awalnya.

Sudah tergerak untuk ganti membeli Google Nexus, alhamdulillah sebelum pesan Google Nexus, mendapatkan info dari http://www.amazon.co.jp kalau mereka melayani pemesanan Kindle Fire HD untuk wilayah Jepang dengan catatan mesti menunggu hingga pertengahan Desember.

Pertengahan Desember, sampailah si Kindle Fire HD di rumah. Alhamdulillah puas dengan beberapa aplikasinya. Masalah mulai timbul saat membeli buku yang ada diskon 100% di http://www.amazon.com, ternyata bukunya gak muncul di Cloud Reader di Kindle.

Akhirnya, berinisiatif menelpon CSnya d http://www.amazon.co.jp dan mendapatkan jawaban kalau mesti dilakukan proses pendaftaran sehingga pembelian buku di http://www.amazon.com bisa muncul di Cloud Readernya Kindle. Mereka yang akan melakukan prosesnya.

Pertama kali, aku ditanya alamat email yang digunakan untuk mendaftar di http://www.amazon.co.jp. Entah aku yang salah mengucapkan atau pihak CSnya yang tidak bisa menangkap maksudku, sampai hampir setengah jam berulang kali diminta menyebutkan alamat email.

Tentu saja karena hal ini, aku sampai kesal dan akhirnya nada suaraku meninggi. Akhirnya aku menawarkan solusi, apa gak ada cara lain sehingga masalahku terpecahkan. Diminta menunggu beberapa saat, akhirnya mereka meminta melihat riwayat pembelian aplikasi dengan cara langsung log in di http://www.amazon.co.jp melalui komputer. Kulakukan permintaan mereka.

Alhamdulillah, akhirnya pihak http://www.amazon.co.jp mengetahui keberadaan Kindle Fireku dalam database mereka. Ternyata prosesnya masih lama. Fatah juga sempat nangis. Pagi itu, masak di pagi haripun belum dimulai. Tapi, kepalang tanggung, akhirnya kuturuti semua proses dan data yang mereka minta. Dua jam kurang lebih, akhirnya selesai juga. Alhamdulillah, buku yang baru aku beli di http://www.amazon.com -meski bukunya gratis- bisa muncul di Cloud Reader si Kindle.

Itu cerita pertama.

Nah, rupanya, ada cerita lain. Cerita kedua tentang CS. Karena tanggal 29-30 Desember, suami gak berada di rumah, kami berdua sepakat untuk membuat sesuatu yang agak istimewa di tanggal 28 Desember malam. Tanggal 29 Desember, Alhamdullillah adalah 5 tahun kami bersama dalam ikatan pernikahan.

Nah, malam itu, kami pengen memesan pizza yang sebenarnya tokonya ada di dekat apato. Tapi, musim dingin dan malam hari adalah 2 alasan untuk malas keluar rumah di malam hari. Mencari website toko yang jualan pizza, akhirnya kami mengetahui nomor telpon untuk pesan online.

Untuk urusan pesan memesannya, suami menyerahkan kepadaku. Aku mulai menelpon. Masalah muncul saat aku diminta menyebutkan nama. Berulang kali menyebutkan namaku, si CS tetap saja tidak mengerti namaku. Selalu salah saat dia mengucapkannya lagi untuk konfirmasi. Akhirnya, aku memakai nama suami. Alhamdulillah, selesai juga masalah nama. Belum selesai proses pemesanan, Fatah menangis. Kututup telpon dan menenangkan Fatah. Setelah Fatah gembira lagi, kulanjutkan lagi menelpon tokonya. Ternyata semua prosesnya diulang dari awal. Kali ini langsung memakai nama suami sebagai pemesan. Tidak lama kemudian, selesai sudah proses pemesanan pizza.

Apakah kesamaan dua cerita di atas? Tentu saja, sebagai pembeli saat diminta berulang kali menyebutkan nama atau email, aku pastilah kesal dan berujung dengan tingginya suaraku di telpon. Tapi, nada suara kedua CS di dua toko yang berbeda itu sama sekali tidak berubah, dari awal hingga akhir.

Cat: CS = Customer Service

@rumah, Jan 2013

Iklan

17 pemikiran pada “[SPIdJ] Menjadi CS Harus Sabar

  1. Kebetulan pekerjaan de mengurus perkembangan gadget dan kindle adalah salah satu project yg di drop tahun 2010.

    Sruvey membuktikan kalau minat baca di Indonesia belum sebagus di Amrik dan Jepang. Jadi penjualan kindle di Indonesia sedikit sekali.

    Mencoba gandeng salah satu toko buku terbesar di Indonesia untuk supply kontennya, biar kami yang membuat aplikasi dan menyediakan device nya. Tapi sayang gak direspon baik. Mungkin tahun 2010 itu era buku digital memang belum mulai yah. Jadi tanggapannya gak serius.

    Sampe skrg mgmt belum tertarik untuk melanjutkan project ini *sigh*

    Dan beberapa kindle contoh dari supplier, masih memenuhi laci de. Suka bawa untuk iseng baca di kreta, tapi makin kesini kok lebih enak bawa tablet PC yah. Berwarna, bisa dipake utk baca – browsing – games – dll.

  2. emang jadi CS tuh cobaan hidup paling berat 😆 harus ngadepin orang yang beda-beda tiap hari kalo gue disuruh jadi CS, yakin pasti dalam waktu sejam udah minta resign 😆

    • Pernah pengalaman beli buku dan aplikasinya Kindle dari Indonesia, mbak? Berdasarkan info yang fety baca, aplikasinya hanya bisa dibeli di US klo beli Kindle di US. Fety beli Kindle di Jepang, jadi aplikasinya hanya bisa dibeli di Jepang.

      Btw, Kindlenya kindle apa, mbak?

  3. Hebat juga CSnya ga ikutan jadi emosi. Padahal pasti mereka cape juga harus berulang2 kali gitu..

    Tapi sekarang udah bisa baca buku online doong.. Selamaaat.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s