[SPIdJ] Perkara Sampah

Situasi kali ini masih bercerita tentang sisi lain orang Jepang 🙂

###

Saat itu malam sudah menyelimuti bumi, meskipun waktu baru menunjukkan pukul 17.30. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah, sepulang menjemput Fatah dari sekolahnya. Kondisiku hari itu setengah kepayahan. Ransel berada di gendongan belakang. Fatah berada di gendongan depan. Kedua tangan juga menjinjing bawaan. Langkahku agak kupercepat. Hujan sudah mengintai datang, Satu demi satu rintik sudah menyentuh permukaan bumi.

Hamir membelok menuju ke arah apato, aku bertemu dengan tetangga bawah. Kamu sekeluarga berada di lantai lima dan dia berada di lantai 3. Seorang nenek yang menurut cerita beliau sudah puluhan tahun menempati apatonya sekarang. Jadi, bisa dibayangkan tuanya gedung apato kami. Bagi kami, para perantau yang sedang bersekolah, sennatiasa harga murah sebuah apato adalah syarat utama mencari sebuah hunian tinggal.

Setelah berbasa-basi menyapa Fatah dan kabar keluarga kami, mulai tetangga kami ini (T) membincangkan pokok persoalan utamanya. Rupanya tentang sampah.

T : Oh yah, kalian sering buang sampah pagi-pagi kan? Kalau buang sampah pagi-pagi, kantong sampahnya jangan diletakkan di tempat biasanya. Kalau ada burung, maka isi sampahnya akan terburai dan membuat kotor

A : Eh ?!?!*dalam kondisi terkejut* Tapi, suami saya jarang buang sampah pagi-pagi *yang bertugas membuang sampah di keluarga kami adalah si mas, dan aku sangat yakin beliau sangat jarang membuang sampah pagi-pagi. Lebih seringnya hampir telat, setelah terdengar mobil pengangkut sampah menghampiri blok apato kami*

T : Oh yah? Pokoknya kalau kalian buang sampah pagi-pagi letakkin aja di dekat tangga.

A : *pengen membantah lagi, tapi sungguh sore itu aku sudah capek* Iya, saya mengerti.

Hampir saja aku hendak melangkahkan kaki. Ternyata tema pembicaraan kali itu belum usai.

T : Terus, kalau kalian membuang sampah diletakkan dulu di dalam kantong plastik kecil-kecil itu. Kalau kalian tidak ada, saya akan memberikannya untuk kalian.

A : Oh, yah, mesti seperti itu yah? Karena sepengetahuan saya, sampah hanya mesti dimasukkan ke dalam plastik sampah khusus kota Chiba.

T : Masukkan dulu ke dalam plastik kecil.

A : Iya, saya mengerti.

T : Satu lagi, sampah kalian itu banyak kecoanya yah?

A : Aaa ?!?! *dengan suara agak tinggi* Tapi, di rumah kami jarang ada kecoa *kami berada di lantai 5, dan semesti tetangga kami ini tahu kalau rumah lantai 5 itu jarang sekali ada kecoa*

T : Tolong diperhatikan yah sampahnya.

A : *inginnya membantah banyak-banyak tentang tuduhan itu, tapi mengingat kami adalah orang asing di negeri sakura ini dan tempat tinggal sekarang harganya sangat cocok dengan kantong mahasiswa kami maka aku memilih menjawab dengan kata-kata biasa* Iya, saya mengerti.

Masih ada basa-basi yang lain dari si tentangga, tapi aku sudah kadung capek badan dan juga hati. Kutanggapi dengan seperlunya, dan akhirnya pamitan duluan.

Sesampainya di rumah, aku ceritakan kejadian itu dengan mas (M).

A : Mas, tadi si tetangga bilang ini itu tentang sampah kita *merujuk cerita di atas*

M : Loh, kok dia nuduh sampah kita sih? *sangat sewot sekali, karena tetangga yang sama juga pernah mengingatkan beliau dengan bahasan yang sama: tentang sampah*

A : Yah, sudahlah, Mas. Mungkin karena kita orang asing.

M : $&%@ *masih tetap sewot*

Sejujurnya, aku juga masih penasaran tentang sampah itu. Setiap plastik sampah tidak dinamai atau dinomori berdasarkan pemiliknya dan saat suami membuang sampah juga tidak ada pengawas yang bertugas mengawasi setiap orang yang membuang samapah. Jadi, pertanyaan yang tersisa di pikiran kami adalah bagaimana si tetangga bisa menyimpulkan ‘si pembuat onar’ di tempat sampah adalah sampah kami. Sayangnya pertanyaan ini tidak kunjung menemukan jawabannya.

Mungkin, beberapa teman-teman nanti menyarankan untuk bertanya langsung kepada tetangga kami. Tapi, sungguh, dengan alasan murahnya tempat hunian sekarang, dekat jaraknya ke sekolahku dan Fatah, ada tamannya, dan paling tidak hanya sekitar 1.5 tahun lagi kami menempatinya, maka kami lebih memilih untuk lebih merapikan lagi sampah kami.

@kampus, november 2012

Iklan

6 pemikiran pada “[SPIdJ] Perkara Sampah

  1. setuju saran mbak Em di atas.. fey dan masnya kasih lihat sama itu tetangga setiap kali akan buang sampah.. biar sama2 mengerti dan tidak berprasangka.

    hehhe, di manapun selalu ada cerita dalam hidup bertetangga
    hanya kebetulan di sana posisi fey adlh orang asing
    dan pasti rasanya sungguh gak enak dituduh begitu.
    tapi, ah.. ini perkara kecil bukan.. 🙂

    semangat ya fey.. sun sayang wat fatah.

  2. cuekin aja.
    Krn banyak juga kok orang Jepang yang tidak menaati cara-cara pembuangan sampah. banyak! Di mansionku gitu juga. Sampai kadang aku sukarela buangin sampah botol dan kaleng mereka 😀

    Nah, kalau perlu kalian ketuk dulu pintu si tetangga kasih lihat setiap mau buang sampah, biar dia tahu bhw bukan kalian yang tidak taat. Pasti ada penghuni lain yg berbuat, dan disangkanya kalian. Biar kapok 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s