[SPIdJ] Mendan; Sebuah Ujian Pilihan Hidup (1)

Catatan pembuka :

1. Tulisan kali ini berisi pengalamanku sebagai seorang muslim yang saat ini sedang merantau di Jepang. Ingin dituliskan di sini karena terfikir siapa tahu akan memberikan manfaat untuk orang lain. Kalaupun di akhir cerita nanti terbersit di fikiran teman-teman “ih ribet banget yah”, mohon dihargai pilihan keluarga kami sebagai seorang muslim. Selain itu, tolong juga jangan membandingkan keluarga kami dengan keluarga muslim lain yang mungkin juga sedang merantau di negeri lain. Percayalah, setiap keluarga punya pilihan dan norma-norma tersendiri yang dijadikan sebagai pilihan hidup.

2. Mendan ( 面談) secara harfiah berarti interview. Tapi, secara pribadi, aku lebih suka menyebutnya diskusi 🙂 [edit: kata seorang teman, mendan lebih berarti konsultasi]

###

Aku yakin, dua peristiwa sebelumnya yang melatarbelakangi adanya mendan di sekolah Fatah tanggal 5 November 2012. Peristiwa yang pertama adalah terjadi beberapa minggu sebelum mendan. Saat itu, aku menjemput Fatah di sekolahnya lebih awal, saat dia sedang makan snack bersama teman-temannya. Kelas Fatah sebenarnya adalah kelas anak di bawah 1 tahun, tapi karena kelas ini sudah berjalan hampir satu tahun (April 2011-April 2012) maka ada dua kelompok usia anak yaitu kelompok usia di bawah 1 tahun dan di atas 1 tahun.

Dua kelompok ini, saat jam makan siang dan makan snack dibedakan posisi duduknya. Kelompok anak usia 6-12 bulan makan menu makan siang dan snack di kursi yang masih ada traynya (model mini highchair). Kelompok anak usia di atas satu tahun, makan di kursi makan dengan meja (model mini satu set kursi makan). Fatah baru berusia satu tahun dan hari ini dia masih makan snack bersama dengan anak kelompok usia 6-12 bulan. Menu snack Fatah hari itu adalah bubur nasi dan sayur-sayuran (di sekolah Fatah, menu snack adalah didominasi oleh karbohidrat). Menu anak kelompok usia di atas 1 tahun adalah roti dan sekotak susu.

Beberapa hari berikutnya, aku mendapatkan kertas yang berisi menu makan siang dan snack Fatah selama satu bulan. Kertas itu bertuliskan sangat detil bahan-bahan apa yang digunakan. Di kertas itu juga tertulis cara membuat cookies yang digunakan sebagai menu snack anak-anak usia 1-3 tahun. Kertas ini dibagikan untuk anak usia di atas 1 tahun. Gurunya memang sudah memberitahukan kalau mulai bulan November 2012, menu makan siang dan snack Fatah akan dinaikkan teksturnya dan dia akan berada di kelompok anak usia di atas satu tahun saat jam makan siang dan makan snack.

Kuamati kertas itu, di beberapa menu tertera beberapa makanan yang komposisinya adalah daging ayam dan daging babi. Di menu cookies ada vanila essence. Di menu snacknya juga tersedia beberapa menu roti. Selama tingga di Jepang, pilihan keluarga kami adalah makan daging yang halal dan makan roti yang tidak mengandung komposisi yang berasal dari hewan. Dengan pilihan ini, maka tentu saja kalau makan di restoran Jepang, pilihan kami adalah menu non daging. Untuk roti, biasanya kami memilih roti yang direkomendasikan oleh teman-teman yang sebelumnya telah dikonfirmasi tidak mengandung komposisi bahan-bahan yang berasal dari hewan.

Beberapa hari setelah mencermati menu itu, saat mengantar Fatah ke sekolah, kutanyakan dengan gurunya Fatah, bagaimana dengan menu makan siang Fatah yang mengandung daging babi dan daging ayam. Aku juga menanyakan merk roti yang digunakan di sekolah Fatah. Saat menananyakan hal ini, aku juga menawarkan solusi, aku tidak keberatan membawakan menu pengganti makan siang Fatah juga roti pengganti yang InsyaAllah bisa dikonsumsi oleh Fatah. Gurunya berkata akan mendiskusikan hal itu dengan ahli gizi yang ada di sekolah Fatah. FYI, sekolah Fatah memang punya ahli gizi yang bertugas mengatur menu anak-anak yang berada di sekolah Fatah.

Maka, hadirlah undangan mendan di tanggal 5 November 2012. Kuusahakan untuk datang tepat waktu di sekolah Fatah, di jam yang telah kusepakati dengan gurunya Fatah sebelumnya.

Di ruang kantor sekolah Fatah, aku, ahli gizi dan guru penanggungjawab kelas Fatah duduk di kursi dengan sebuah meja persegi empat. Sejujurnya, ada rasa grogi. Bahasa Jepangku masih belum bagus. Takutnya apa yang kusampaikan nanti tidak dimengerti oleh gurunya Fatah. Selain itu juga ada ketakutan, guru-gurunya tidak mau menerima pilihan hidup kami mengenai masalah makanan ini.

Bersambung ke sini.

@kampus, 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s