[SPIdJ] Mendan; Sebuah Ujian Pilihan Hidup (2)

Sambungan dari sini.

Hari itu, aku (A), guru ahli gizi (AG) dan guru penanggungjawab kelas Fatah (PJ), masing-masing memegang kertas yang bertuliskan menu makan siang.

AG : Ibu, ini menu makan siang kelas Fatah. Kita mulai untuk tanggal 6 November yah.

Kemudian AG mulai menerangkan satu demi persatu komposisi menu harian makan siang kelas Fatah untuk bulan November 2012.

A : *mencermati kertas yang bertuliskan kanji yang cukup puyeng untuk dibaca*

Diskusi antara aku, guru ahli gizi dan guru penanggungjawab kelas Fatah terus berlangsung. Guru penanggung jawab kelas Fatah membantuku menjelaskan beberapa kanji makanan yang aku baru pertama kali mendengarnya. Tak lama kemudian.

AG : Jadi, kami minta tolong Fatah dibawakan menu daging ayam dari rumah yah ada tanggal 8 dan 29 November. Menunya dibuat kecil-kecil saja lalu diletakkan dalam wadah kecil dan diserahkan ke guru penanggungjawab kelas Fatah. Untuk menu lain yang ada daging babinya, tidak akan saya masukkan ke dalam menu makan siang Fatah. Lalu, kami minta tolong ibu mengenalkan mayonese dan ikan iwashi ke Fatah. Kedua makanan ini juga sering memunculkan alergi pada anak.

A : Baiklah, Bu Guru.

AG : Nah, sekarang menu snack. Kemarin saya mendapat laporan dari guru penanggung jawab kelas Fatah kalau ibu bertanya tentang merek roti yang digunakan di sekolah ini. Saya sudah menanyakan ke produsen roti yang digunakan oleh sekolah ini. Roti-roti mereka yang kami gunakan di sekolah ini tidak ada yang mengandung bahan dari hewan. Jadi, ibu tenang saja yah. *beliau tersenyum ke arahku*

A : Wah, Bu Guru. Terima kasih banyak. Maafkan saya sudah merepotkan. *beberapa kali  kuanggukkan kepalaku ke AG. Aku tidak menyangka beliau mau bersusah payah menanyakan roti-roti yang digunakan di sekolah Fatah. Padahal berdasarkan info dari guru penanggungjawab kelas Fatah ada tiga jenis roti yang digunakan yang berasal dari dua produsen roti*

AG : Untuk biskuit, saya dan teman-teman yang membuat sendiri. Jadi, kalau ada bahan-bahan yang beraal dari hewan tidak akan saya berikan untuk cookies Fatah. Kalau misalkan ada hal-hal yang dikhawatirkan lagi, mohon kami diberitahu yah.

A : Baiklah, Bu Guru.

Kami bertiga udah bersiap untuk meninggalkan meja diskusi itu, namun mataku tertumbuk ke tulisan vanilla essence yang ditulis di resep cookies yang digunakan oleh guru sekolah Fatah.

A : Bu Guru, maaf, saya mau menanyakan tentang vanilla essence ini.

Aku bertanya hal itu ke guru penanggungjawab kelas Fatah.

PJ : Memangnya kenapa, Bu?

A : Di dalam vanilla essence ini terdapat kandungan alkohol. Kami juga tidak diperbolehkan menggunakan ini.

PJ : Kalau dengan penyedap rasa-penyedap rasa yang lain bagaimana?

AG : Kalau sake (bir Jepang) dan mirin (cuka Jepang) juga gak boleh yah. Saya menggunakannya di beberapa makanan.

A : Iya, Sensei, itu juga gak boleh *sejujurnya aku menjawab ini dengan perasaan tidak enak, tapi aku tahu hal ini sudah menjadi pilihan hidup kami jadi memang mesti diutarakan*

AG : Oh gitu, baiklah, saya tidak akan menggunakannya untuk Fatah.

A : Terima kasih banyak, Bu Guru. Maafkan saya telah merepotkan.

Aku pulang dengan perasaan lega. Sama dengan saat akan negosiasi membekali Fatah ASIP selama dia di sekolah, negosiasi tentang makanan kali ini juga meninggalkan perasaan syukur di hati. Jika hasil negosiasi masalah ASIP adalah dibolehkan aku membekali Fatah ASIP beku sejak umur 6 bulan hingga kini (setelah usia 1 tahun, konsumsi susu Fatah di sekolah bertambah dengan susu sapi :)) saat dia di sekolahnya, hasil negosiasi kali ini adalah para guru di sekolah Fatah bersedia menyediaka makanan dan snack yang sesuai dengan kebutuhan Fatah sebagai seorang muslim. Alhamdulillah.

Pagi harinya, saat mengantarkan Fatah ke sekolahnya, guru penanggung jawab sekolah Fatah memanggilku lagi.

PJ : Terima kasih Ibu sudah datang kemarin sore. *membungkukkan badan ke arahku*

A : Maafkan jika permintaan saya merepotkan, Bu Guru. *kubungkukkan badanku beberapa kali*

PJ : Saya mau menanyakan kalau penggunaan wine juga tidak boleh yah di makanan?

A : *rupanya diskusi sore kemarin belum selesai* iya, Bu Guru.

PJ : Baiklah kalau begitu.

A : Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Guru. *kembali kubungkukkan badanku, berterima kasih ada mereka*

Alhamdulillah, para guru di sekolah Fatah menghargai adanya perbedaan. Perbedaan itu memang indah yah?

Catatan penutup :

1. Seluruh percakapan di atas merupakan rangkuman diskusi dan dilakukan di dalam bahasa Jepang, karena kekurangan ilmuku untuk menuliskannya dalam bahasa Jepang, jadi di ditulisan ini kutulis dalam bahasa Indonesia.

2. Di Jepang produsen makanan kecil senantiasa mencantumkan dengan detil komposisi bahan makanan sehingga kita mudah sekali mengenali bahan-bahan makanan yang berasal dari bahan hewani dan bahan nabati. Kalaupun ada bahan yang meragukan, kita bisa menelpon CS perusahaan tersebut untuk menanyakannya dan biasanya dilayani dengan sangat ramah.

3. Alhamdulillah tahun ini adalah menginjak tahun keempat kami tinggal di Jepang, jadi hal (misalnya masalah makanan ini) yang mungkin dipandang ribet oleh orang lain, Alhamdulillah sudah menjadi hal biasa bagi kami.

Iklan

13 pemikiran pada “[SPIdJ] Mendan; Sebuah Ujian Pilihan Hidup (2)

  1. Salam Kenal. Terimakasih atas share pengalamannya. Saya sekarang juga sedang di Jepang mbak. Udah 2 minggu disini. Saya tinggal di JICA International Center Obihiro Hokkaido. Alhamdulillah di penginapan disediakan makanan halal. Namun kalo udah di kampus suka pusing milih makanan di cafetaria. Ada saran ga mbak? trmkasih.. 🙂

  2. Setuju Mbak, kalau jelas manfaatnya dan memang dilarang dalam Al Quran, insyaAllah tidak pernah akan sulit.
    Ketika aku di Amerika, aku juga mulai aware dengan bahan kandungan dalam produk kemasan dan kalau ragu, aku biasa mengirim email untuk beritanya ke produsennya langsung. Dan kebiasaan itu terbawa sampai di Aussie. Ribet, tapi makan dengan hati tenang karena yakin halal. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s