[SPIdJ] Saat Air Kran Menyala

Hari itu adalah hari minggu. Di rumah hanya ada aku dan Fatah. Si mas lagi part time. Fatah lagi tidur. Aku bersegera mandi dan menyuci [baca : menekan tombol START-nya mesin cuci]. Mandi dengan bergegas, lalu mengganti baju. Tak lama kemudian, Fatah menangis. Kugendong dan kutenangkan dia.

Samar-samar terdengar suara air di luar. Dengan perasaan curiga, aku menuju ke sumber suara. Baru saja menggeser pintu kamar, kulihat air sudah menggenang di lantai dekat pintu masuk. Ternyata selang air yang digunakan untuk membersihkan popok Fatah di WC lepas. Air yang sedang menyala muncrat ke mana-mana. Bahkan sudah menggenang. Segera kuambil beberapa kain untuk meminimalkan permukaan air yang menggenang. Kuletakkan Fatah dan tentu saja dia semakin menangis keras. Yang kutakutkan adalah air sudah merembes ke apato di bawah apato kami.

Tak lama terdengar suara orang yang mengetuk pintu depan dengan keras. Segera kubuka pintu sambil menggendong Fatah yang masih menangis keras. Ternyata tetangga yang apatonya persis di bawah apato kami. Kami berada di lantai 5. Beliau berada si lantai 4. Dia berbicara dengan suara yang agak keras. Mungkin untuk mengimbangi kerasnya tangisan Fatah.

Dia memberitahuku kalau air telah merembes ke apatonya dan telah mengenai beberapa barang miliknya. Aku meminta maaf dan menjelaskan penyebab rembesan air. Kemudian dia berlalu sambil tetap menggumam. Kulanjutkan lagi mengepel. Tak lama pintu depan diketuk lagi. Kali ini adalah seorang pegawai dari pemilik apato kami. Di kompleks apato kami memang ada sekitar tiga orang pegawai yang berkantor di kantor khusus pegawai dari pemilik kompleks apato kami. Biasanya tugas mereka adalah tugas-tugas yang berkaitan dengan tugas administrasi. Sudah kuduga tetangga kami telah melaporkan peristiwa rembesan air dari apato kami.

Pegawai itu adalah seorang laki-laki. Kepalanya sudah dipenuhi uban. Saat aku membuka pintu, dia mencoba tersenyum. Aku memang sudah beberapa kali bertemu dengannya. Beliau biasanya berada di kantor khusus pegawai pemilik kompleks apato. Aku sering bertemunya saat aku meminjam kunci ruang pertemuan untuk kegiatan-kegiatan orang-orang Indonesia yang tinggal di kompleks apato kami.

“Apanya yang bocor?” tanyanya.

“Mesin cuci?” lanjutnya lagi.

Bukan,” jawabku. Dia masuk ke dalam rumah. Kutunjukkan kran yang berada di samping mesin cuci.

Kran itu,” tunjukku.

“Lah, itu untuk apa?” tanyanya lagi.

“Untuk membersihkan popok anakku,”  jawabku.

“Kamu udah ke bawah?” tanyanya lagi.

Belum. Aku hanya sendiri hari ini. Suamiku kerja part time,jawabku.

“Pukul berapa suamimu pulang?”  tanyanya lagi.

“Sekitar pukul 6 sore. Kalau suamiku pulang kami akan ke bawah,” jelasku.

“Ok,” jawabnya. Kemudian beliau memotret beberapa bagian dari kran itu.

Fiuuhhh. Aku bisa bernafas sejenak. Kulanjutkan lagi mengepel dan menenangkan Fatah.

Pukul 6 sore, suamiku baru saja pulang dari kerja part time. Terdengar pintu diketuk dengan keras lagi. Kali ini si mas yang membukanya.

Samar-samar kudengar si mas berbicara dengan seseorang di luar sana.

“Fey, mas ke bawah yah,” terdengar suara suamiku. Lalu pintu rumah ditutup. Oh ternyata orang bawah, batinku.

Segera kuganti pakaianku. Setelah memakai jilbab, dengan menggendong Fatah, aku pun menyusul suamiku ke bawah. Kemampuan bahasa Jepang suamiku sangat terbatas.

Setelah mengetuk pintu, kutemui ada empat orang di rumah tetangga apato kami. Suamiku, tetangga kami yang sudah berusia sangat sepuh, dan sepasang suami istri. Aku tidak mengetahui dengan detail apakah yang perempuan atau yang laki-laki yang merupakan anak tetangga kami.

Seorang laki-laki muda menunjukkan tempat-tempat yang telah basah akibat rembesan air. Di kamar tetangga kami, 2 buah tatami sudah menjadi lembab. Di ruang dapur, lemari beserta isinya juga menjadi lembab dan basah di beberapa bagian. Kerusakan yang terjadi sangat lumayan 😦

“Kami minta diganti tataminya ini,” ujar laki-laki muda itu sambil menunjuk 2 buah tatami yang telah basah kuyup.

“Kami yang mengganti atau Anda yang menggantinya?” tanyanya lagi.

Aku berpandangan dengan si mas. Aku sama sekali tidak tahu toko yang mana yang menjual tatami ini.

Silahkan Anda yang menggantinya. Tolong telpon kami kalau sudah diganti. Kami akan membayar uang yang telah Anda keluarkan,” akhirnya aku yang memutuskan.

“Tolong telepon kami di akhir minggu. Kami berdua adalah mahasiswa. Kami ada di rumah di hari sabtu dan minggu,” lanjutku lagi.

Suamiku mencatat nomor telponnya di kertas yang diberikan oleh perempuan muda itu.

“Dari mana kalian berasal?” laki-laki muda itu berupaya untuk mencairkan suasana tegang sore itu.

“Dari Indonesia,” jawab suamiku.

“Kalian berdua mahasiswa?” tanyanya lagi.

Iya,” jawab suamiku.

“Wah, kasihan yah,” ujarnya.

Akhirnya kami berpamitan. Sesampainya di rumah, aku segera mengecek harga tatami di internet. Wuah, kami berdua kaget melihat harga yang tertera di layar komputerku. Bisa sampai 1 jutaan untuk sebuah tatami. Harga yang tertera di layar komputer itu sangat mahal bagi kami berdua. Aku dan suamiku sedang krisis uang saat itu.

Tapi, kami mesti bertanggung jawab karena peristiwa rembesan air kran itu. Kami diam sejenak, memikirkan solusinya. Akhirnya suamiku menelpon temannya, meminjam sejumlah uang, untuk berjaga-jaga jika di akhir minggu si tetangga menelpon kami untuk meminta penggantian uang pembelian tatami.

Dua minggu berlalu. Aku dan suamiku belum juga mendapatkan telpon.

Suatu sore, kubulatkan niat untuk kembali ke rumah tetangga bawah. Sesampainya di depan pintu rumahnya, kupencet bel.

“Siapa yah?” terdengar suara orang dari speaker bel.

“Kami, tetangga atas,” jawabku.

Tak lama kemudian, seorang kakek tua menyembulkan mukanya dari belakang pintu.

“Ada apa?” tanyanya.

“Saya mau menanyakan berapa harga penggantian tatami kemarin,” tanyaku.

“Oh, tidak usah. Lain kali hati-hati yah,” jawab beliau sambil tersenyum dan menggoda Fatah yang ada di gendonganku.

“Makasih,” jawabku sambil membungkukkan badan. Berterima kasih ala orang Jepang.

Allahu Akbar. Alhamdulillah uang pinjaman itu bisa kami kembalikan dengan utuh.

@kampus, Sept 2012

Iklan

15 pemikiran pada “[SPIdJ] Saat Air Kran Menyala

    • Untuk alasan penghematan biaya hidup, kami kan tinggal di danchi, mbak. Dan di danchi tempat kami tinggal gak ada komponen pembayaran asuransi untuk jangka waktu 2 tahun itu. Jadi klo ada masalah kayak di atas, yah mesti dibayar sendiri.

  1. Sukur alhamdulillah yah nggak perlu mengganti 🙂
    Kebayang memang Mbak paniknya seperti apa kalau harus ngeluarin uang besar seperti itu diluar rencana… *istri mahasiswa jauh dari kampung hahahaha…*

  2. Kak fety, aku desy masih pelajar sma kelas 3. Karena ayah dan ibuku lulusan sekaligus tinggal di jepang, aku jd tertarik juga untuk belajar disana. Kak fety dapat beasiswa dari pemerintah indonesia, jepang, atau perusahaan? Anyway, waktu di UGM kak fety ambil jurusan apa? Im waiting your reply kak 🙂 terima kasih. Sukses terus ya

    • Ayah ibu Desi tinggal di mana? Beasiswa S2 saya diberikan oleh INPEX, perusahaan minyaknya Jepang. Sedangkan beasiswa S3 saya sekarang diberikan oleh Lotte, sebuah perusahaan makanan dan minuman di Jepang. S1 saya di UGM adalah jurusan Geofisika. Eh, Desi kenapa gak coba aja beasiswa Monbusho yang untuk anak S1?

  3. Puji Tuhan….
    Orang Jepang baik2 ya Inga. Orang Indonesia jg ding 🙂
    Trnyt tatami harganya mahal ya? Pdhl pernah pengen punya rmh ala Jepang. Wah, buat tataminya aja udh berapa tuh… Tp ttp pengen, minimal 1 ruang kecil bertatami.. Hehe…
    Fatah sehat kn Inga?

  4. Alhamdulillah…. ikut lega baca endingnya mb… untung orang jepangnya baik yah,, memang di jepang mahasiswa itu tergolong masyarakat tidak mampu ya (katanya sih begitu…hehe) jd mungkin mereka kasian yah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s