[SPIdJ] Kebaikan yang Berulang

Kemarin kedua kalinya kebaikan itu berulang. Suatu hal yang sangat sepele. Tapi, berada di negeri minoritas, kebaikan itu menjadi sebuah hal yang melelehkan hati. Menjadi pengingat bahwa memang kebaikan itu tidak mengenal ruang dan sekat yang bernama perbedaan.

Masih dengan latar belakang yang sama dengan kebaikan yang sebelumnya. Kampus menjelang sore. Waktunya menjemput Fatah di sekolahnya. Tapi, langkah mengambil sepeda terhenti sejenak. Angin kuat di sore itu juga di sore kemarin terlalu kuat untuk membuat sepedaku tetap pada posisi awalnya. Ambruklah dia. Masalahnya parkiran sepeda di kampus itu berderet-deret, sehingga satu sepeda rubuh akan berimbas kepada rubuhnya sepeda yang lain.

Masih mendingan kalau rubuhnya sepeda itu satu-satu, tanpa terkait satu sama lain. Kemarin sore itu, ada tiga sepeda yang berdekatan dan rubuh. Sepedaku dan dua sepeda yang lain. Sepeda yang bertepatan di sisi sepedaku, stangnya masuk ke pedal sepedaku. Bagian belakangnya menyerempet bagian belakang sepedaku, saling berkaitan. Sepeda yang satu lagi yang terletak di sebelah sepeda yang jatuh di sebelah sepedaku posisinya hampir sama dengan sepeda di sebelah sepedaku, tetapi kaitan antar keduanya tidak serumit kaitan antara sepedaku dan sepeda di sebelah sepedaku.

Kucoba cara yang paling simpel, berusaha menegakkan sepedaku dengan harapan tegaklah pula kedua sepeda di sebelah sepedaku. Tapi, apa daya, solusinya tidak sesederhana yang dibayangkan. Ketiga sepeda itu tetap saling berkaitan.

Akhirnya, kuletakkan icebag yang berisi ASIP di tanah. Kucoba melepaskan kaitan antara dua sepeda yang terletak di sebelah sepedaku. Alhamdulillah berhasil. Perlu waktu yang agak lama untuk melakukan pekerjaan selanjutnya, melepaskan kaitan antara sepedaku dengan sepeda yang satunya. Sudah beberapa kali mencoba tidak berhasil.

Tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang datang ke tempatku. Sepertinya dia adalah salah satu dari kelompok mahasiswa/i yang entahlah sedang berdiskusi apa yang berada sekitar  5 meter dari tempatku.

Tanpa bicara, langsung memegang sepeda yang berada di sebelah sepedaku. Berusaha melepaskan kaitannya. Akhirnya, kami bekerja sama. Dia yang memgang sepedanya, aku yang melepaskan kaitannya. Kaitan yang di bagian pedal sepedaku terlepas, lalu kami melakukan hal yang sama dengan kaitan di belakang sepeda. Alhamdulillah bisa.

Kuucapkan terima kasih. Dia membalas dengan senyuman lalu melangkah kembali menuju kelompoknya. Kebaikan seperti ini sudah berulang dua kali. Dengan kejadian yang sama dan melibatkan komponen yang sama; angin, sepeda, aku dan mahasiswa Jepang.

@kampus, Juli 2012

Iklan

6 pemikiran pada “[SPIdJ] Kebaikan yang Berulang

  1. Dimanapun selalu ada orang baik ya mbak, meski kita berada di belahan dunia sebagai minoritas. Dan saya yakin, kita mendapat kebaikan orang lain karena kita pernah melakukan kebaikan sebelumnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s