Ibarat Sebuah Sekoci; Poligami

Pembahasan tentang poligami pernah memenuhi ruang diskusi rumah tangga kami. Masih sangat awal saat biduk rumah tangga ini baru hendak dikayuh. Beberapa minggu setelah mistaqan ghaliza itu diucapkan.

Saat itu aku dan suami berada di salah satu sudut stasiun Senen. Kami hendak silahturahim ke rumah mertua yang terletak di salah satu kota yang menjadi perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kunjungan itu adalah cara kami memenuhi janji sebelum ada ikatan pernikahan antara aku dan suami untuk berkunjung ke keluarga besar suami.

Ketiadaan uang untuk pulang-pergi Jakarta-Cepu dengan menggunakan kereta api bisnis, akhirnya kami memilih alternatif lain. Kami menggunakan kereta api ekonomi untuk perjalanan menuju Cepu dan memilih menggunakan kereta api bisnis untuk perjalanan kembali ke Jakarta.

Saat menunggu jadwal keberangkatan kereta api ekonomi itulah, pembicaraan tentang poligami antara aku dan suami dimulai.

“Apa pendapat mas tentang poligami?”, aku yang berinisiatif untuk bertanya kepada suami.

“Bagi mas poligami itu ibarat sekoci pada sebuah kapal, hanya digunakan saat kondisi darurat terjadi”, jawaban singkat dari suami yang pada akhirnya aku juga menyetujui.

Pembicaraan tentang poligami saat itu adalah pertama kali dan terakhir kalinya hingga hampir 5 tahun biduk rumah tangga ini dinakhodai oleh seorang laki-laki yang ditetapkan oleh Allah untuk bersama-samaku mengarungi samudera kehidupan.

Kami berdua sepakat jika poligami adalah ibarat sekoci pada sebuah kapal, hanya digunakan saat kondisi darurat terjadi dan tentu saja kondisi darurat bagi setiap kapal itu berbeda.

Catatan akhir : Disertakan untuk lomba Gado-Gado Poligami.

@kampus, Juni 2012

Iklan

7 pemikiran pada “Ibarat Sebuah Sekoci; Poligami

  1. Saya setuju sih, poligami ibarat sekoci yang digunakan dalam keadaan darurat. Cuma kadang ada beberapa laki2 yang memaknai keadaan darurat dengan dangkal. Sama dengan mam Lidya, semoga sekoci itu tidak pernah dipakai. Amin 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s