[SPIdJ] Shalat di Jepang

Terinspirasi oleh jurnal mbak Iin tentang bagaimana beliau sholat di Galway, ingin pula berbagi melalui blog ini bagaimana caraku menunaikan kewajiban lima waktu selama 3.5 tahun ini berada di Jepang.

Di Jepang muslim termasuk kaum minoritas, maka jangan bayangkan ada banyak masjid di setiap sudut negeri matahari terbit ini. Meskipun demikian, di beberapa kota yang mempunyai komunitas muslim yang agak banyak memiliki masjid. Di tempatku tinggal di Chiba, tidak ada masjid tetapi perkumpulan komunitas muslim di Chiba menyewa sebuah ruko yang difungsikan sebagai mushala. Alhamdulillah cukup memudahkan para bapak-bapak untuk menunaikan shalat jumat. Di tempat ini juga dijual beberapa kebutuhan sehari-hari terutama daging halal.

Aku sendiri berkunjung ke mushala ini jika di mushala sedang diadakan pengajian ibu-ibu. Sehari-harinya, meski mushala ini berada persis di depan kampus, aku memilih menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar (dan ditambah shalat magrib jika musim dingin) di labku. Alhamdulillah ada tempat sepetak di depan printer lab yang bisa digunakan untuk shalat. Aku mengerjakan shalat di tempat itu jika teman-teman lab tidak terlalu banyak di ruangan.

Tetapi, kalau ada banyak teman-teman lab di ruangan aku memilih mengerjakan shalat di refresh room yang memang ada di setiap lantai di gedung labku atau di tempat sepetak di lantai paling atas gedungku. Meskipun tempat sepetak di lantai paling atas ini adalah tempat terbuka tetapi karena jarang dilalui orang maka cukup nyaman mengerjakan shalat di tempat tersebut. Dalam dua bulan ini, refresh room dan tempat sepetak di lantai paling atas gedungku juga berubah fungsi menjadi tempat merah ASI 🙂

Nah, yang menjadi perl diperhatikan dengan seksama adalah saat jalan-jalan atau saat sedang ada seminar di luar Chiba. Kalau aku dan suami jalan-jalan ke taman, kami memilih membawa karpet plastik dan shalat saja di taman. Tetapi, kalau aku sedang seminar di luar Chiba dan gedung yang didatangin untuk seminar baru pertama kali dikunjungi, biasanya ketika sampai di gedung tersebut langsung survey sudut-sudut yang bisa digunakan untuk shalat. Kadang juga pernah shalat di tempat sepetak di lantai sepuluh sebuah gedung karena lantai sepuluh ini adalah lantai yang paling tinggi dari gedung tersebut.

Pengalaman yang paling ‘mengesankan’ adalah pernah suatu saat sama sekali tidak menemukan tempat sepetak/sudut untuk menunaikan shalat. Untuk kembali ke hotelpun lumayan jauh. Akhirnya aku memilih menunaikan shalat di WC yang diperuntukkan untuk ibu hamil, orang yang membawa anak, orang tua dan orang berkebutuhan khusus. Di Jepang, WC yang diperuntukkan untuk orang-orang ini dibuat dengan cukup lebar. Ruangan itu biasanya diisi dengan wastafel, WC, tempat mendudukkan/menidurkan bayi. Karena biasanya ruangan ini jarang digunakan maka kondisinya sangat bersih. Jadi, bismillah saja saat itu menunaikan shalat di dalam WC 🙂

Jadi, berbehagialah teman-teman yang tinggal di Indonesia dan negera-negara muslim lainnya yang dengan sangat mudah menemukan tempat untuk menunaikan shalat 🙂

@kampus, Januari 2012

saat kangen dengan masjid di kantor Bandung

Iklan

24 pemikiran pada “[SPIdJ] Shalat di Jepang

  1. Repot juga ya tinggal di negara yg muslimnya minoritas. Mungkin sangat jarang terdengar suara azan. Tapi selama masyarakat memiliki rasa toleransi yg baik, insya Allah pasti ada jalan untuk beribadah.

    Shalat di dalam WC kalo kondisinya bersih sy rasa gak masalah…

  2. Ya, saya pernah melihat seorang Iran yang bersolat di bawah jembatan penyeberangan di Shibuya, sampai diliatin komuter yang lewat.
    Yang mau saya tanyakan bagaimana wudhunya? Apakah mencuci tangan dan kaki di wastafel? Pernah kejadian begitu di sebuah kantor/hotel sehingga pihak pengelola komplain kepada pantia penyelenggara seminar.

    • klo fety klo mmg wudhunya masih bisa di kamar mandi, cuci tangan dan kakinya mmg di wastafel mbak, tapi biasanya sedia tisu atau kain untuk ngelap tetesan air tapi klo mmg tidak ada air, dalam Islam diperbolehkan untuk bersuci dengan tanah. cara ini disebut tayamum.

  3. Tahun lalu ketika jauh dari Indonesia pengalaman menjadi minoritas buatku suatu hal yang berkesan sekali Mbak. Senangnya karna dari awal aku minta ke koordinator murid internasional kalo aku butuh tempat untuk sholat lima waktu, mereka menyediakan praying room di kampus dan saat bepergian mereka juga membantu mencari tempat, sholat lima waktu jadi mudah sekali untuk dilakukan.
    Di sisi lain saat pulang sebentar ke Indonesia, rasanya menyenangkan sekali ketika bisa mendengar suara adzan dari masjid dekat rumah. 🙂

  4. Ya ampun…
    repot juga ya mba..sampe di wc gitu…

    gak kepikiran sama sekali gimana sulitnya mau menunaikan kewajiban disono…
    Sedangkan disini mah di komplek aku aja mesjid nya ada 5 kali mba…

    Untunglah Islam kan gak mempersulit ya mba…
    masih bisa digabung kan shalatnya…Allah juga pasti ngerti kok mba…*sok tau…hihihi…*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s