[Serial Melahirkan] Sebulan dalam kenangan

Sebenarnya Hari Perkiraan Lahir (HPL) Fatah tanggal 14 Oktober 2011. Dengan pertimbangan ibu tidak ada teman di rumah  kami nanti karena suami juga masih mesti ke kampus dan di rumah sakit tempat aku melahirkan anggota keluarga dilarang menginap, maka kami mengundang ibu datang ke Jepang rencananya tanggal 25 Oktober 2011.

Tapi, Allah berkehendak lain. Didahului dengan pecah ketuban tanggal 30 September, akhirnya Fatah melihat indahnya dunia tanggal 3 Oktober 2011. Karena permasalahan pengiriman dokumen-dokumen untuk aplikasi visa di kedutaan Jepang di Indonesia dari Jepang ke rumah orang tua di Manna memakan waktu lebih dari perkiraan kami, akhirnya ibu baru sampai di Jepang tanggal 1 November 2011. Hal ini berarti, ada waktu sekitar sebulan, hanya aku dan suami yang mengasuh dan merawat Fatah di awal hadirnya dia di dunia.

Hmm, tidak akan membayangkan sebelumnya, hanya berdua merawat anak pertama di negeri orang yang notabene jauh dari keluarga besar. Di tengah-tengah urusan  kampusku dan suami pula. Karena ketiadaan bantuan, akhirnya aku mengajukan ijin tidak ke kampus selama sebulan dengan professor. Alhamdulillah ijinku dikabulkan.

Selama sebulan hanya bertiga, tentu saja ada banyak cerita yang terurai. Kuabadikan di jurnal ini sebagai cerita bagi kami bertiga di hari-hari yang akan datang 🙂

1. Kalau biasanya ada larangan bagi bayi untuk keluar rumah setelah 40 hari, maka 2 hari setelah keluar dari rumah sakit tanggal 10 Oktober 2011, Fatah sudah kami bawa ke kampusku. Aku mesti ke kampus untuk urusan beasiswa dan suami mesti juga berangkat pagi. Menimbang waktu jika suami menunggui Fatah di rumah selama aku ke kampus, maka kami memutuskan membawa Fatah ke kampusku. Suamilah yang mengasuh Fatah selama aku membereskan urusan kampus. Dalam waktu sebulan ini ada sekitar 2 kali Fatah kami bawa ke kampus.

2. Karena ketiadaan orang yang menunggui Fatah di rumah sedangkan suami sudah ke kampusnya dan secara tiba-tiba aku ditelpon pihak kampus untuk segera ke kampus, maka ada 2 kali Fatah dititipkan dengan tetangga di sekitar apatoku. Alhamdulillah dikaruniai tetangga-tetangga yang baik hati dan mau direpotkan untuk menjaga anak berumur kurang dari satu bulan selama sekitar 1 jam.

3. Suamilah orang yang pertama memandikan Fatah setibanya Fatah di apato mungil kami. Sampai sekarang tugas memandikan Fatah adalah tugas suami. Alhamdulillah dikaruniai suami yang pernah merawat adiknya sejak kecil.

4. Suami pula yang mengajari Fatah minum ASI perahan saat beberapa kali aku ke kampus di waktu sore menjelang malam hari saat suami sudah tiba di rumah sekembalinya beliau dari kampus. Ada di suatu hari yang membuatku begitu terharu. Fatah kecil tertidur di pangkuan suami yang juga tertidur dengan bersender di kasur. Botol ASI yang sudah habis tampak tergeletak di pinggir keduanya. Karena kecapekan pula, suami dan Fatah tertidur dalam kegelapan karena suami tidak menghidupkan lampu rumah sebelum tertidur.

5. Sepulang dari rumah sakit, kami mengira tali pusar Fatah sudah lepas sehingga tidak ada was-was di hati kami berdua. Ternyata, satu minggu berada di rumah, kami sadar kalau tali pusar Fatah belum lepas setelah keluar dari rumah sakit karena saat itu aku menemukan sebuah benda lembut berwarna hitam di dalam baju Fatah. Wuah, itu ternyata tali pusarnya Fatah yang baru lepas 😀

6. Di saat sebulan itu, ada satu kali aku meninggalkan Fatah sendirian yang sedang tertidur di apato kami di lantai 5 karena aku mesti membeli sayur dan lauk-pauk yang sudah habis. Membawa Fatah berarti akan membangunkan tidurnya dan juga belum menemukan cara bagaimana membawa Fatah sekalian belanjaan ke lantai 5. InsyaAllah meninggalkan Fatah sendirian ini adalah yang pertama dan terakhir karena ibu benar-benar melarang setelah aku bercerita ke ibu tentang hal ini.

7. Sebulan itu pula, aku diajari untuk lebih multitasking sebagai seorang ibu. Jadi mengerti bagaimana caranya mengetik di komputer sambil menyusui  Fatah :D. Jadi mengerti pula caranya bagaimana menidurkan Fatah dalam jangka waktu lama sehingga urusan domestik rumah tangga bisa diselesaikan.

8. Sebulan itu aku belajar untuk bisa bersikap tenang dan tidak ikut menangis saat anak menangis sedangkan kita dalam kondisi yang sangat capek.

9. Sebulan itu aku belajar, kalau menjadi ibu rumah tangga itu adalah tugas yang terberat, termulia dan terhormat bagi seorang wanita 🙂

10. Sebulan itu aku belajar bahwa Fatah adalah anugerah terindah dari Allah hari ulang tahun pernikahan kami yang keempat.

Tumbuh sehat, kuat dan sempurna yah, Nak. Semoga selalu ada senyum di bibirmu saat melangkah 🙂

@rumah, Jan 2011

saat Fatah genap 3 bulan

Iklan

28 pemikiran pada “[Serial Melahirkan] Sebulan dalam kenangan

  1. bravo untuk fety !!! KIta memang dididik menjadi kuat di sini.
    ibu mertuaku tidak bantu aku sama sekali karena jauh
    yang bermasalah hy waktu belanja. Jadi aku ikut coop belanja yang dianter seminggu sekali. dan biasanya Gen yang belanja sebelum pulang ke rumah.
    TAPI aku memang tidak berstatus mahasiswa waktu itu

  2. whuaaaa…
    mba Fety kereeeeeen….

    memang berat mengurus bayi sendirian mba..
    kita harus kompak sama suami…

    aku juga sempet merasakan gitu karena waktu Fathir lahir mamaku dan mama mertua udah meninggal…jadi sempet merasa stres juga…karena waktu Kayla masih bayi, aku dengan manjanya nginep di rumah mama sampai Kayla usia 3 bulan…hihihi…
    persis kayak tulisan mba Fety deh…berusaha untuk gak kutan nangis ketika sang bayi menangis…hihihi…

    sekarang de Fatah udah 3 bulan ya? lagi lucu lucunyaaaa….

    semangat ya mbaaaa 🙂

  3. saat jauh dari keluarga di Indonesia, berasa banget perjuangannya ya Mbak 🙂
    tapi dengan begitu kita jadi tahu kalau kita mampu.
    dariNya datang ujian, dariNya pula datang pertolongan.
    semoga selalu bisa memberikan yang terbaik buat keluarga dan lancar studinya. Amin…

  4. Senang membaca ini Fety…dan menyenangkan bisa merawat Fathah berdua, dan nyatanya bisa kan. Sejak awal saya cuma merawat kedua anakku berdua, apalagi di awalnya tak ada pembantu, ibu sudah mulai sakit dan ikut adikku, ibu mertua sudah dipanggil Tuhan.

    Dengan kerjasama yang baik antara suami isteri, semua bisa dilakukan, dan menjadi kenangan yang manis.

  5. Subhanallah, salut buat mbak Fety dan mas Aan. 🙂
    Kalau berada di luar negeri dan harus merawat bayi yang baru lahir ternyata banyak hal yang tidak perlu dikhawatirkan seperti saat di Indo yah. Orang tua dan anak jadi lebih mandiri. 🙂

    • Bukan 2 hari tante monda, tapi 2 hari setelah keluar dari rumah sakit. saat itu fatah sekitar umur 9 hari karena saya beradadi rumah sakit 7 hari. sekarang kepalanya baru lancar miring kiri kanan.

  6. wahh.. hebat.. bisa membagi waktu sebagai mahasiswa, istri, dan ibu. Beruntung dikaruniai anak yang tidak rewel, suami yang baik, dan tetangga- tetangga yang mau membantu.. 🙂 indahnyaa…

  7. subhanallah.terharu mbak baca ceritanya. pembelajaran karena keadaan menjadikan mbak fety dan suami bisa bertahan bagaimana menyikapi keadaan yang sangat mengharu biru… sama denganku mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s