[Serial Melahirkan] Tujuh Hari yang Berkesan Itu

Di rumah sakit tempat aku melahirkan, jika si ibu melahirkan normal, maka mesti menginap di rumah sakit selama 7 hari. Tetapi, jika melahirkan dengan SC, maka jumlah hari menginap di rumah sakit bertambah menjadi 10 hari. Aku melahirkan Fatah dengan persalinan normal, maka ada 7 hari di rumah sakit yang diisi dengan cerita-cerita berkesan. Beginilah ceritanya 🙂

Room in

Di rumah sakit tempat aku melahirkan, bayi bisa diletakkan di kamar kita saat malam dan siang hari kecuali saat si ibu mandi atau tidak berada di dalam kamar dalam selang waktu yang lama. Namun, jika kondisi tidak memungkinkan bisa juga meletakkan bayi di ruang bayi. Aku memilih cara pertama, meski saat malam tiba tidak ada yang menemani atau bergantian bangun malam. Oh yah, di rumah sakit tempat aku melahirkan jika memilih ruang tidur kelas ekonomi, si ibu tidak diperbolehkan untuk ditemani oleh keluarga saat malam hari.

Aku hanya menitipkan Fatah di ruang bayi saat pagi hari menjelang Fatah mendapat giliran mandi pagi, dan sekitar pukul 12 siang saat aku memilih jadwal mandi setiap harinya. Selebihnya, Fatah berada satu kamar denganku. Hal ini kupilih karena aku sudah berniat memberikan ASI kepada Fatah sejak dia lahir.

4 hari pertama, aku merasakan capek yang luar biasa karena saat malam hari, Fatah belum mempunyai jadwal yang pas saat minta mimik ASI. Apalagi kalau dia sudah menangis. Hmm, mesti segera ke ruang menyusui jika tidak ingin dianggap mengganggu pasien yang lain yang berada di kamar yang sama denganku. Tapi, 3 hari menjelang pulang, alhamdulillah sudah menemukan ritme menyusui Fatah saat malam tiba. Akhirnya, aku berusaha bangun sebelum Fatah bangun dan menangis. Dengan pola seperti ini, aku tidak terlalu capek, dan bisa menyusui di kamar tanpa harus pergi ke ruang menyusui.

Fatah dan ASI

Sejak hamil, aku sudah memastikan di rumah sakit tempat aku akan melahirkan bisa memberikan ASI tanpa tambahan susu formula. ASI-ku sudah keluar sejak hamil sekitar 8 bulan. Karena itulah, rencana memberikan ASI sejak hari pertama Fatah dilahirkan sudah semakin mantap.

Hari pertama

Saat sesi belajar menyusui pagi hari, Fatah masih terlelap tidurnya. Saat disodori payudara, dia tidak merespon apa-apa. Walaupun secara teori, aku mengetahui kalau bayi yang baru lahir hingga usia 3 hari tidak memerlukan asupan cairan apapun, namun nampaknya hal itu tidak berlaku di rumah sakit tempat aku melahirkan.

Melihat Fatah tidak menghisap payudaraku, bidan yang membimbingku belajar menyusui menyangka kalau ASI-ku belum keluar, dan akhirnya Fatah diberikan cairan sebanyak 10 ml yang ditempatkan di dalam botol. Aku pikir cairan ini adalah cairan antibiotik, karena malam sebelumnya, setelah dilahirkan Fatah ditempatkan di inkubator karena suhu badannya yang tinggi. Suhu badan Fatah yang tinggi ini karena pengaruh suhu badanku yang tinggi saat melahirkan.

Ternyata, saat bidan menuliskan laporan di kertas jadwal minum susu, BAB dab BAK Fatah, aku baru mengetahui kalau cairan yang diberikan oleh bidan tadi adalah cairan air gula. Hmm, aku kecolongan ternyata.

Saat sesi belajar menyusui di siang hari, Fatah juga masih terlelap dan tetap tidak mau menghisap payudaraku. Melihat hal yang sama terjadi, bidan yang mengajariku belajar menyusui segera ingin memberikan air gula lagi. Tapi, aku segera menanyakan berapa ml kebutuhan susu bayi yang baru lahir. Karena si bidan menjawab 10 ml, aku bersikeras untuk mempompa ASI dengan tangan. Alhamdulillah siang itu, Fatah sudah mendapatkan ASI sebanyak 10 ml meski masih melalui botol.

Setelah sesi belajar menyusui di siang hari itu, Fatah kubawa ke kamar. Kami berdua sama-sama belajar. Fatah belajar menghisap dan aku belajar menyusui Alhamdulillah, hari itu juga Fatah bisa menghisap ASI langsung dari sumbernya.

Hari kedua

Aku sudah menyusui Fatah sebelum menyerahkan Fatah ke ruang bayi untuk menunggu giliran mandi. Aku menyusui Fatah sekitar pukul 6 pagi. Aku pikir saat menunggu giliran mandi, Fatah tidak boleh disusui. Aku baru mengambil Fatah di ruang bayi sekitar pukul 11 siang. Ternyata Fatah sudah sangat kelaparan. Dia menangis. Segera kususui. Dan entah berapa jam Fatah tidak lepas dari kegiatan menyusui.

Saat menyusui itu, aku diberi tahu oleh bidan yang bertugas hari itu kalau berat badan Fatah turun sebanyak 236 gr. Mereka khawatir Fatah tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup dan menyarankan untuk memberikan susu formula. Aku hanya menjawab, tidak apa-apa berat badan Fatah turun sebanyak itu dan aku menolak Fatah diberikan susu formula. Alhamdulillah beliau mengerti.

Tetapi, ternyata aku mendapatkan pengawasan yang sangat ketat dari bidan-bidan yang berjaga hari itu. Sekitar 5 kali dengan bidan yang berbeda di waktu yang berbeda, mereka ingin melihat caraku menyusui Fatah dan memastikan kuantitas ASI-ku cukup untuk Fatah. Aku sempat sebal dan stres di hari kedua ini. Seakan-akan aku tidak dipercayai kalau memang ASI-ku cukup untuk Fatah.

Saat menyusui, kubisikan ke Fatah, kalau kami lagi berjuang, dan kuminta dia minum ASI sebanyak-banyaknya sehingga berat badannya naik saat ditimbang keesokan harinya.

Hari ketiga hingga hari ketujuh

Saat ditimbang di hari ketiga, alhamdulillah berat badan Fatah bisa naik 80 gr. Wuah, syukur yang dalam mengalir di ruang hatiku. Hari ketiga ini berkurang pengawasan bidan terhadapku. Hanya sesekali mereka melihatku menyusui. Hari keempat, alhamdulillah berat badan Fatah naik lagi 100 gr. Melihat berat badan Fatah yang selalu naik dari hari ke hari, alhamdulillah tidak ada lagi bidan yang menyaksikan dan mengawasiku saat menyusui Fatah. Begitu juga dengan hari kelima hingga hari saat kami pulang dari rumah sakit di hari ketujuh. Saat pulang berat Fatah sudah menjadi sekitar 3200 gram dari berat lahir 3152 gr.

Pernak-pernik setelah melahirkan

Melahirkan Fatah adalah pengalaman pertamaku melahirkan. Maka tentu banyak cerita saat berada di rumah sakit selama 7 hari. Saat hari pertama setelah melahirkan, aku diberikan jadwal apa-apa saja yang mesti dilakukan/diikuti selama 7 hari berada di rumah sakit. Maka di bawah ini adalah beberapa di antaranya :

1. Aku diajari cara menyusui yang benar. Terkait dengan menyusui ini, saat di rumah sakit aku pernah mengalami payudara bengkak, meski setiap saat Fatah menyusui. Namun, kejadian ini ternyata membawa berkah untukku. Aku juga diajari memerah ASI dengan tangan, menyimpan ASI perahan, dan memberikan ASI perahan kepada Fatah melalui botol.

2. Aku diajari cara memandikan Fatah dan juga diminta memandikan Fatah dengan pengawasan langsung dari para bidan. Pelajaran ini menjadi sangat berharga untukku dan suami. Karena ibuku baru bisa datang satu bulan setelah Fatah lahir, maka di hari pertama setelah pulang ke rumah, suamiku dan aku sudah bisa memandikan Fatah.

3. Aku diberikan pelajaran tentang hal-hal yang mesti dan tidak mesti dilakukan setelah melahirkan hingga satu bulan setelah pemeriksaan kondisi tubuhku.

4. Aku diberikan pelajaran bagaimana mengatur gizi untukku sebagai ibu menyusui.

Secara garis besar, aku bersyukur mempunyai pengalaman melahirkan di Jepang. Ada banyak pengetahuan yang kudapatkan langsung dari tenaga medis di rumah sakit tempat aku melahirkan. Karena itulah, satu bulan pertama, hanya berdua mengurus anak pertama kami, tanpa bantuan dari keluarga tidak menjadikan menjadikan kami berdua sebagai orang tua yang panik dan bingung berhadapan dengan bayi yang baru lahir.

Cerita dari ruang menyusui

Ada hal yang menarik terkait dengan menyusui di kalangan ibu-ibu jepang yang kutemui di ruang menyusui, ruangan yang khusus disediakan untuk ibu-ibu menyusui di rumah sakit tempat aku melahirkan. Ruang menyusui itu dipenuhi dengan ibu-ibu jepang yang menyusui anaknya bahkan hingga saat anak-anak itu menangis di malam hari dan meminta ASI.

Awalnya, ada perasaan salut dengan sesama ibu muda yang berusaha keras untuk memberikan ASI ke anak-anaknya, meski beberapa orang memberikan tambahan susu formula setelah memberikan ASI. Aku lupa di hari ke berapa aku berada di rumah sakit, akhirnya aku menemukan jawabannya.

Saat itu, seorang ibu yang baru melahirkan yang berada satu kamar denganku, di hari kedua atau ketiga setelah melahirkan tetap menggunakan caranya sendiri untuk meminta susu formula kepada para bidan yang berjaga. Dia memencet tombol darurat yang sedianya disediakan untuk memanggil para bidan/suster yang berjaga bila ada kondisi darurat terhadap pasien untuk memanggil bidan/suster yang berjaga untuk meminta susu formula.

Hari-hari sebelumnya permintaan dia masih dipenuhi oleh para bidan karena memang kondisi tubuhnya yang masih lemah setelah melahirkan. Tetapi di hari itu, seorang bidan yang berjaga menolak untuk memberikan langsung susu formula yang dimintanya, dan meminta sang ibu untuk mencoba memberikan ASI di ruang menyusui dan bila si anak merasa kurang dengan ASI yang diberikan ibunya, maka bidan akan memberikan susu formula.

AKu menjadi lebih mengerti tentang hal ini saat di suatu siang, ketika aku sedang menyusui Fatah, seorang ibu yang lain berujar ke anaknya saat memberikan susu.

“Mulai hari ini kita minum susu formula”, begitu ujarnya. Aku yang mendengar cuma terdiam. Ah, biarlah, mungkin sang ibu memang mempunyai alasan tersendiri dengan pilihannya untuk memberikan susu formula kepada anaknya yang baru saja berusia 7 hari.

Iklan

19 pemikiran pada “[Serial Melahirkan] Tujuh Hari yang Berkesan Itu

  1. Hai Fety…
    lama gak berkunjung ternyata udah melahirkan ya?
    alhamdulillah, semoga jadi anak yang sholeh dan sehat selalu…

    hm, buat saya berasa cepet, hehe… kayaknya belum lama fety posting tetnang kehamilan.. eh udah ngelahirin.. hehe… buat Fety yang ngerasain pasti berasa lama ya…

    sekali lagi selamat… 🙂

  2. Hmm bersyukurlah jika kita mampu memberikan ASI buat anak kita tersayang. Dan Fety bisa memberi ASI buat Fatah.
    Saya memberi ASI selama 2 tahun untuk si sulung, tapi untuk si bungsu hanya 7 bulan karena saya yang saat itu menjadi asisten manager harus mulai tugas ke luar kota.

  3. Assalamualaikum…..Salam kenal Inga fety, selamat untuk kelahiran Fatah… senangnya ketemu blognya Inga, seneng bgt ktemu sama sodara sekampung, namaku lia (klo dirumah panggilannya juga Inga lia)…papaku orang manna. Aku Ada di Yokohama Dan lagi hamil muda, butuh info mengenai hamil Dan melahiran dijepang…. mohan bantuannyaaa

      • Terima kasih, lia panggilnya inga aja yaaa..Mau Tanya Inga, a pa semua rumah sakit di jepang boleh menggunakan hokken utk pemeriksaan kehamilan? A pa kita mesti Tanya dulu ke rs ybs.. sebenernya sih yg mau ditanyain banyak, enaknya gimana ya? Atau boleh nggak Inga aku minta japri, ym atau gtalk? Trmh kasih

  4. selamat ya mb…sudah melahirkan, semoga fatah menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, menjadi anak yang sholeh, berguna bagi nusa dan bangsa.
    Wah sama mb, saya juga satu bulan pertama bayinya kurawat sendiri, ibu dan ibu mertua belum bisa membantu…
    semangat ya!
    sekarang fatah dan bisa ngapain aja mb?
    salam cup2 mmuuah deh,fotonya di uplod dong mb..

  5. walaupun sudah 2 kalimelahirkan,masa-masaitu selalu dinanti ya.
    btw mbak kalau dirumah sakit tempataku melahirkan cesar 3-5 hari loh. aku saja 3 hari sudah pulang, kalau normal lebih cepat lagi. beda kebijakan mungkin ya

    • di jepang, klo persalinan normal mmg harus berada di rumah sakit selama 7 hari dan klo SC berada di rumah sakit 10 hari karena kebijakan ini diatur oleh pihak asuransi di sini, mbak.

  6. Thank you for sharing 🙂
    Mbak Fety, kalo boleh request, aku mau dong cerita mengenai teknik memerah asi dengan tangan, thanks before! 🙂
    Kiss-kiss buat dik Fatah yah!

    • klo ditanya cara memerah dengan tangan, aku bingung mbak jelasinnya, karena kemarin sewaktu di rumah sakit itu praktek langsung. cb aja bergabung dengan grup tambah asi tambah cinta di FB, ada penjelasan memerah asi dg tangan di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s