[Serial Melahirkan] Saat-Saat Menegangkan Itu

Setiap kelahiran pasti mempunyai ceritanya sendiri. Maka, beginilah cerita kelahiran Fatah Rifqy Wahyuriansyah, nama yang kami berikan untuk putra pertama kami.

1 Oktober, sekitar pukul 3-5 pagi

Saat hamil, aku memang sering terbangun saat jarum jam menunjukkan angka pukul 2 pagi. Begitu juga dengan hari itu. Sejak pukul 2 pagi, mata sudah terjaga. Beberapa kali ke kamar mandi dan pipis. Tapi, ada yang terasa aneh, aku merasa ada cairan yang keluar dengan sendirinya. Belum bisa memastikan apakah cairan tersebut adalah pipis atau ketuban. Kembali mencoba tidur, tapi tidurku tetap terganggu dengan cairan yang keluar berulang kali itu. Mencoba membangunkan si mas. Kamipun berdiskusi. Aku tetap yakin kalau cairan itu adalah pipis. Seusai witir, lalu dilanjutkan dengan shalat subuh, aku merasa cairan itu tetap keluar. Mengulang kembali gerakan shalat subuh dari awal dan mencoba menyelesaikan shalat subuh sebelum cairan itu keluar lagi. Alhamdulillah shalat subuh tertunaikan.

Mas sudah mulai curiga cairan itu adalah ketuban. Selama hamil, aku tidak pernah pipis di luar kontrol. Kami bersua memutuskan untuk membaca beberapa artikel tentang ketuban di internet. Tapi, tetap tidak ada pencerahan. Akhirnya dari sebuah artikel, didapatkanlah info untuk membedakan antara pipis dan ketuban, lebih mudah jika menggunakan pembalut. Kucoba menggunakan pembalut, cairan itu keluar lagi. Kali ini dengan keyakinan 100%, aku tahu kalau cairan yang keluar sejak tadi adalah cairan ketuban.

1 Oktober, sekitar pukul 5.30 pagi

Aku segera menelpon rumah sakit. Si mas menelepon taksi. Alhamdulillah, sejak beberapa hari yang lalu, kamu berdua sudah menyimpan dengan rapi nomor telepon pool taksi yang terdekat dengan apato. Setelah mendapat kepastian ada taksi yang bisa menjemput kami di apato dan mengantarkan ke rumah sakit, aku dan mas segera berkemas. Alhamdulillah, karena kecerewetan si mas, tas yang diperuntukkan ke rumah sakit sudah berisi barang-barang yang mesti dibawa ke rumah sakit.

Setelah menuruni tiat demi tiat anak tangga dari lantai lima, dan  menunggu beberapa saat, akhirnya taksi jemputan datang juga. Kamipun menuju rumah sakit.

1 Oktober, di rumah sakit, setelah pukul 5 pagi

Sesampainya di rumah sakit, sudah ada bidan yang menunggu kedatangan kami. Untukku sudah disiapkan kursi roda. Aku, si mas dan bidan menuju ke tempat rawat inap khusus melahirkan. Sesampainya di bagian rawat inap khusus melahirkan, sudah ada Kaneko Sensei, dokter yang selama ini menjadi sering memeriksa kehamilanku. Segera periksa dalam. Dengan yakin beliau memastikan kalau cairan itu adalah cairan ketuban. Akupun diminta langsung masuk rumah sakit.

Aku segera ditempatkan di ruang kontraksi (di rumah sakit Chiba Iryou Senta ada khusus kamar untuk menunggu kontraksi) dan dipasangi alat Non Stress Test (NST) untuk memantau detak jantung janin dan kontraksi.

Awal-awal di ruang kontraksi. Masih ceria🙂

1 Oktober, sekitar pukul 10 pagi

Kaneko Sensei melakukan kunjungan ke ruang kontraksi. Dari hasil NST, detak jantung janin masih bagus. Dari kondisiku dan kondisi janin, Kaneko Sensei mengatakan akan menunggu kontraksi alami hingga Senin pagi, 3 Oktober. Kalutlah diriku. Lama sekali menunggunya. Kujelaskan kegalauanku apakah kondisi janin dalam rahimku akan tetap bagus hingga Senin pagi? Beliau menenangkan dan menjelaskan kondisi janin akan tetap dipantau melalui alat NST dan apabila kondisi janin kelihatan memburuk sebelum Senin pagi segera akan dilakukan tindakan. Aku lumayan tenang namun tetap ada galau di dada.

1 Oktober hingga 2 Oktober

Masa-masa menunggu kontraksi di ruang kontraksi. Masa-masa yang bikin stres. Alhamdulillah dari hasil NST, kondisi detak jantung janin masih bagus. Tidak ada perubahan angka yang menunjukkan detak jantungnya. Tapi, hasil NST juga menunjukkan tetap tidak ada kontraksi. Aku mencoba melakukan massage pada payudara yang di beberapa forum dikatakan bisa memacu kontraksi alami. Tetapi, hasilnya nihil. Aku dan mas tetap berdoa. Beberapa sms dari keluarga dan teman juga menanyakan kemajuan pembukaan dan kondisiku. Kami berduapun juga bingung untuk menjawabnya karena memang tidak ada kontraksi selama dua hari itu, walaupun sempat terasa ada nyut-nyutan di tanggal 2 Oktober malam hingga subuh.

Masih di ruang kontraksi. Sudah terlihat lelah.

3 Oktober pagi, sekitar pukul 10 pagi

Pagi ini aku dijadwalkan periksa dalam lagi. Ternyata kali ini periksa dalam dilakukan oleh Enchou Sensei (Dokter Kepala). Beliau mengatakan aku baru pembukaan 3 dan akan diinduksi. Wuah akhirnya ada tindakan induksi, batinku dalam hati. Sekitar pukul 10 pagi, Enchou Sensei langsung yang menusukkan jarum infus untuk memacu kontraksi. Ternyata, aku baru mengetahuinya, semua prosedur tindakan induksi dan caesar mesti disetujui oleh Enchou Sensei. Jika induksi ini tidak berhasil hingga sore atau malam, maka baru besok harinya akan dilakukan tindakan caesar. Tindakan ini juga harus dengan persetujuan Enchou Sensei. Mungkin karena itulah aku diminta menunggu selama dua hari kemarin. Bersyukurnya kondisi jantung si dedek baik-baik saja selama waktu menunggu itu.

Awal proses induksi dengan infus induksi dan alat NST yang menemani. Masih ceria🙂

Alhamdulillah kontraksinya datang. Sungguh perjuangan melahirkan itu baru dimulai di hari ini. Sakitnya sungguh tak terkira. Tapi, entahlah selama sakit itu datang sejak 10 menit sekali, 5 menit sekali hingga 2 menit sekali, ada semacam kata-kata semangat dari si dedek. Ayo, Ibu, sebentar lagi kita ketemu, bagitulah kata-kata penyemangat itu. Namun, ternyata tetap ada kendala. Karena dianggap pembukaan maju terus, akhirnya induksi dihentikan. Akibatnya, pembukaan jalan lahir tetap berada di pembukaan 8. Beberapa lama tidak maju hingga pembukaan 9 atau 10. Aku juga sudah merasa lemas. Capek yang jelas. Sejak tanggal 1 Oktober aku tidak bisa tidur saat malam tiba. Ini adalah kebiasaan jelekku kalau aku tidak tidur di rumah dan tidak ditemani si mas. Artinya sudah 3 malam, aku tidak tidur. Ditambah lagi mesti ada tenaga terkuras sesaat setelah induksi.

Kestresanku saat itu juga bertambah saat seorang dokter muda, setelah melakukan periksa dalam, mengatakan kalau aku tidak bisa melahirkan normal karena kondisiku tetap di pembukaan 8 dan kalau pun akan dilakukan operasi harus menunggu esok harinya, 4 Oktober, karena kondisi staf rumah sakit yang terbatas saat malam hari. Sebenarnya dokter ini bukan dokter yang menanganiku, tapi entah mengapa, beliau berada di ruanganku dan mengatakan hal itu. Padahal Kaneko Sensei dan Enchou Sensei tidak mengatakan apa-apa. Kukatakan pada dokter muda itu, aku tidak sanggup kalau harus menunggu operasi hingga esok hari dan kukatakan aku menyerah.

Entah apa yang dikatakan oleh dokter muda itu kepada para bidan dan Enchou Sensei. Seorang bidan senior dan Enchou Sensei mencoba menyemangatiku lagi. Akhirnya aku berterus terang tentang perkataan dokter muda itu. Kata-kata menenangkan akhirnya keluar dari Enchou Sensei.

“Operasi itu sangat mudah. Tinggal menggunting. Tapi, kondisi setelah itu yang perlu dipikirkan. Kita usahakan normal dan bisa melahirkan malam ini.”, ucap beliau.

Beliau melakukan periksa dalam lagi.

“Sudah pembukaan 9.”, ucap beliau.

Akhirnya, aku dibawa ke ruang melahirkan dengan menggunakan kursi roda. Ruangan ini berjarak sekitar 5 meter dari ruangan kontraksi. Sesampainya di ruang melahirkan, aku segera ditempatkan di kursi tempat melahirkan. Ternyata ada kendala lagi. Kontraksrinya melemah. Suhu tubuhku juga menyentuh angka 38.5 derajat Celcius. Akhirnya, dua orang bidan di ruangan melahirkan itu mengambil tindakan untuk memasang infus yang berisi obat induksi lagi ke tanganku. Terasa lagi sakitnya. Di bawah kepalaku juga diletakkan bantal yang berisi es. Mungkin untuk menjaga suhu tubuhku tidak naik lagi.

Aku dibiarkan mengejan. Walaupun dari pembicaraan para bidan, aku tahu pembukaan jalan lahir belum lengkap. Secara teori, aku juga masih lama akan melahirkan. Tapi, mungkin itulah cara para bidan tersebut untuk menyemangatiku. Beberapa kali Kaneko Sensei dan Enchou Sensei menengok, memastikan kondisiku. Di ruangan melahirkan yag satu lagi, ada seorang ibu yang juga tengah berjuang untuk melahirkan. Mungkin,karena itulah perhatian ketiga dokter itu terpecah.

Entahlah aku sudah berapa kali mengejan. Saat-saat awal mengejan, aku melakukan kesalahan. Untunglah seorang bidan mengajariku cara mengejan yang baik dan tidak menghabiskan tenaga. Si mas yang posisinya berada di atas kepalaku terus menyemangati. Aku tahu beliau juga tengah berdoa yang terbaik untuk istri dan anaknya. Aku sudah tidak mempedulikan lagi sudah berapa lama berjuang untuk melahirkan. Fokusku saat itu adalah mengejan dan melahirkan normal.

“Rambut bayi sudah kelihatan.”, pekik seorang bidan yang sedari tadi menungguiku.

“Ayo mengejan lagi.”, perintahnya.

Selang beberapa lama, di antara kesadaran yang tidak penuh, aku melihat Kaneko Sensei datang.

“Ayo mengejan lagi. Saya gunting yah untuk membantu si bayi keluar.”, kata beliau.

Aku hanya mengangguk. Tenagaku benar-benar sudah habis. Tapi, perjuangan memang belum usai. Aku merasakan ada robekan di jalan lahir, dan tak lam kemudia terdengar suara tangisan yang sangat keras.

Putra pertama kami ditakdirkan melihat indahnya dunia dengan persalinan normal pada pukul 19.18 waktu Jepang. Proses induksi itu memakan waktu kurang lebih 10 jam. Bayi mungil itu dalam kondisi normal dan sempurna. Dia diletakkan di dadaku.

“Terima kasih, sayang. Arigatou.”, hanya itu yang sempat terucap. Ada genangan bening menitik di pelupuk mataku. Si mas juga segera mengazankan dan mengiqomahkan putra pertama kami.

Setelah diukur panjang dan berat badan serta dilakukan test APGAR, bayi mungil itu segera ditempatkan di ruang bayi. Karena suhu badanku yang panas saat melahirkan, suhu bayi mungil itu juga ikut panas. Akhirnya, bayi mungil kami ditempatkan di inkubator. Prosedur selanjutnya, si mas yang mengikutinya. Termasuk sesi mengambil foto dan menempatkan gelang merah jambu di kedua kaki bayi mungil kami.

Aku diminta berada di ruang melahirkan. Kaneko Sensei menjahit guntingan tadi. Setelahnya, aku kembali dipasangin infus. Kali ini adalah infus antibiotik. Alhamdulillah kondisiku dan bayi mungil kami membaik keesokan harinya. Badanku tidak lagi panas. Putra pertama kami juga sudah dikeluarkan dari inkubator. Ah, akhir yang indah dari perjuangan 3 hari itu. Lelah itu sudah terobati. Wajah ganteng itu adalah obatnya.

Wajah ganteng yang menjadi obat lelah setelah sekitar 10 jam proses induksi🙂

@rumah, Oktober 2011

31 thoughts on “[Serial Melahirkan] Saat-Saat Menegangkan Itu

  1. Ping-balik: Award dari Mbak Chita « Fety

  2. Fety,
    Selamat ya…
    Tak terasa ya, tahu-tahu Fety sudah melahirkan…semoga Fatah menjadi anak yang sholeh, sehat, pintar seperti papa mamanya dan berbakti pada orangtua.

  3. Alhamdulillah…barakallah
    Selamat atas kelahiran dek Fatah
    semoga menjadi anak sholih yang membawa banyak kebaikan di muka bumi. Amin.

    mewek baca cerita kelahirannya Mbak
    jadi ingat waktu melahirkan Dito, dinduksi juga, hampir 10 jam juga prosesnya.
    semoga Mbak Fety segera pulih ya…

  4. Alhamdulillah…Barakallah…
    ganteng banget dedeknya Mbak
    Mewek nih baca cerita kelahirannya. Subhanallah…
    jadi inget waktu melahirkan Dito dulu, induksi juga dan Alhamdulillah lancar. hampir 10 jam juga prosesnya.
    Selamat jadi orang tua ya Mbak&suami, semoga adek Fatah sehat selalu, jadi anak shalih dan membawa banyak kebaikan. Mbak Fety juga segera pulih. Amin.

  5. Subhanallah… mendebarkan sekali cerita melahirkannya mbak Fety! Panjang sekali ya prosesnya ya. dan alhamdulillah akhirnya bisa lahiran normal juga ^^. saya dulu diinduksi 2 hari, dan ngga berhasil juga.. akhirnya cesar juga….

  6. Subhanallah…. perjuangan luar biasa. salut sama mbak fety yang tidak patah semangat meski berhari2 di rs menunggu kelahiran.
    beda dengan anak anak pertama dan kedua, anak saya yang ketiga kira2 sama seperti baby fatah. masuk rs hari senin siang karena flek, tapi pembukaan nggak maju2 dan stop di pembukaan 3 hingga hari rabu. dan kamis pagi akhirnya cesar juga😀
    nggak tau deh, yang patah semangat saya atau dokternya, hahaha…
    makanya salut deh sama mbak fety yang tetep semangat melahirkan dengan cara normal walau perjuangannya sangat luar biasa.
    peluk cium buat baby fatah dan ibunya ya….. *kecup*

  7. ada genangan di pelupuk mataku Inga Fey…
    membaca tahap demi tahap… Ah, lega akhirnya si dede lahir dengan selamat…
    Puji Tuhan…..selamat ya Inga…
    Semoga mjd anak sholeh dan bermanfaat ya Fatah syg….
    Peluk cium dr tante di Naruto..
    Semoga suatu saat bisa cium d’Fatah langsung…🙂

  8. aih, senang lihat bundanya fatah masih ceria menunggu dalam saat2 yang menegangkan tersebut.😛

    Alhamdulillah cucu nek Bundo dah lahir dengan sehat selamat.
    jadi anak sholeh ya cu.
    mmwwaahhh..!!!

    • Fatah hanya diletakkan di dada fety sebentar, mbak akin karena suhu tubuhnya lumayan tinggi. Para bidan dan dokter yang membantu kelahiran memutuskan harus segera dimasukkan ke inkubator. Tapi, setahu fetypun, IMD masih jarang di Jepang.

  9. hai Inga,…selamat ya..:)
    sekarang saatnya berjuang memberikan ASI sebagai makanan terbaik Dek Fatah..
    tetap semangat ya Inga..hebat nih dah posting tulisan meski beru seumur jagung..Ibu Inga ga tetap semangat menulis hehehe

  10. Omedetooouuu…membacanya saja sudah menegangkan mba, tapi alhamdulillah Dek Fatah dan bundanya sehat2 saja ya… Semoga saya segera bisa menyusul, Aamiin🙂

  11. Subhanallah..bergetar membacanya… Alhamdulilah…ganteng banget baby…mg jd anak sholih… oiya … kyknya itu baru belum lama denger cerita fety hamil..eh tiba2 dah lahiran….

    oiya gelangnya merah jambu ya? kl disini kyknya buat baby cowok gelang biru..di tangan..kl buat baby cewek gelang pink..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s