Menghabiskan Makanan

Sebuah cerita yang mengandung makna yang sudah lama muncul di pikiranku sejak setelah bermukim lebih tiga tahun di bumi sakura. Kemarin siang, aku menghadiri acara ibu-ibu di sekitar tempat tinggalku. Seluruh pesertanya adalah ibu-ibu dari Indonesia. Ini adalah acara bulanannya ibu-ibu Indonesia di tempat tinggalku.

Saat itu adalah waktu mengudap berbagai jenis snack yang dibawa juga oleh ibu-ibu yang hadir. Seorang teman yang baru dua minggu berada di Jepang, sebut sajalah mbak A, menyisakan sekitar tiga suap mie goreng di piringnya. Mungkin beliau sudah tidak berselera lagi mengunyah mie goreng tersebut. Entah bagaimana awalnya, seorang teman yang lain yang sudah sekiar 10 tahun menikah dengan orang Jepang dan sudah berputra dua orang, sebut sajalah mbak B, menegur mbak A yang menyisakan mie goreng di piringnya itu.

Saat melihat peristiwa itu, aku yang berada tidak jauh dari mereka berdua mencoba bersikap bijak.

“Iya, mbak A, di Jepang itu mulai dari sejak anak-anak diajari untuk menghabiskan makanan. Dilarang menyisakan makanan”, kataku.

Beberapa teman yang duduk di sekitarku juga mengamini perkataanku. Akhirnya, mbak B juga menerangkan tentang kebiasaan anak-anak di Jepang yang mesti menghabiskan makanan mereka.

Begitulah. Dulu saat awal-awal datang ke Jepang, aku sangat terkesima dengan teman-teman lab yang selalu menandaskan isi piringnya meskipun kadang makanan yang disajikan tidak enak di indera pengecap. Aku yang awal-awal juga sangat sering menyisakan makanan di piring mencoba belajar untuk  mengambil sedikit demi sedikit jika makanan yang disajikan adalah makanan yang baru di lidahku.

Pengalaman berinteraksi dengan teman-teman Jepang selama lebih kurang 3 tahunlah yang mengajariku kalau di Jepang sejak dari anak-anak, anak-anak di Jepang memang ‘dipaksa’ untuk menghabiskan makanan.

Maka, ada sebuah pengalaman yang tidak terlupakan di benakku saat menemani seorang teman ke tempat penitipan anaknya. Saat itu adalah waktu makan siang. Sambil menunggu sang teman menyelesaikan urusannya di tempat penitipan anak itu, aku mengamati sekelompok anak yang kutaksir berusia sekitar satu tahunan sedang duduk bersama di kursi dan meja kecil seukuran mereka dan ditemani beberapa orang guru. Sekelompok anak tersebut sedang asyik mengunyah sajian makan siang mereka.

Aku terkesima saat melihat seorang anak yang sambil matanya terpejam tetap disuapi menu makan siangnya oleh sang guru. Si anak rupanya sedang mengantuk tapi saat itu adalah saat  makan siang. Alhasil dia makan siang dengan mata terpejam. Sesekali sang guru memegang pipi si anak, untuk menyuruh si anak mengunyah makanannya, bukan mengemut. Usaha sang guru berhasil. Si anak kecil itu akhirnya menghabiskan menu makan siangnya  tetap dengan mata terpejam.

Peristiwa itu membekas di ingatanku. Sepertinya sikap untuk menghormati makanan dan menghabiskannya memang mesti ditanamkan dari awal.

@kampus, September 2011

Iklan

13 pemikiran pada “Menghabiskan Makanan

  1. Kalau dalam keluargaku, tak jarang tugas menghabiskan makanan yang ada di piring anak diambil alih oleh orang tuanya. Jadi makanin sisa anaknya gitu, daripada sayang terbuang 🙂

  2. Fety,
    Alm ibu akan marah kalau anak-anaknya menyisakan makanan di piring, jadi kami selalu berusaha mengambil sedikit saja, nanti jika kurang baru tambah. Dalam suku Jawa banyak dikenal berbagai kepercayaan, yang maksudnya mengajarkan anak hal-hal baik, seperti harus menghabiskan makanan yang diambil di piring dsb nya.

    Jika hal-hal baik diikuti secara disiplin, maka banyak hal yang membuat kita hemat,

  3. kalau makanannya gak dihabisin nanti ayamnya mati…hehehe itu kata ibuku dulu. waktu sudah agak gedean, saya protes..bukannya kalau makanan gak habis, sisanya bisa dikasihkan ayam…jd ayamnya tambah sehat hihihi. Anyway bagus banget disiplin yang diterapkan org jepang buat anak2 ya…. 🙂

  4. setuju fey, belajar menghargai makanan sedari dini.
    mama cerita bahwa dulu bila kakek makan, piringnya selalu dialas serbet putih, agar makanan yang tercecer bisa dimakan kembali, gak terbuang.

  5. hehehe bener banget itu mbak fety.. kan Rasulullah juga mengajarkan begitu..mending jangan ngambil banyak2 kalau malah nanti gak habis, dikit-dikit aja kalau kurang kan nanti bs nambah hahaha…

  6. Ah, tidak hanya di Jepang kok, di keluargaku jangan sampai pernah meninggalkan satu butir nasipun. Mama selalu bilang, “Nanti kamu akan cari dengan susah payah sebutir nasi yang kamu buang saat muda”.
    Aku malah kaget baca ini ternyata di Indonesia banyak juga ya yg meninggalkan makanan. Berarti jaman yang berubah. So, bisa ngerti kan kenapa saya gemuk? hahaha (ngga ada hubungannya, but its true 🙂 )

    • Saat saya kecil juga diajari spt itu mbak imel, tp seiring dengan pertumbuhan usia dan merantau ke Yogya dan Bandung sering sekali menjumpai orang-orang dewasa menyisakan makanannya. apalagi saat kondangan 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s