Sebuah Sarung Sederhana

Cerita kali ini bukanlah cerita tentang sarung asli Samarinda, tapi cerita tentang sebuah sarung sederhana yang sudah menemaniku selama 11 tahun lebih masa perantauanku. Sebuah sarung yang diberikan oleh ibu saat pertama kali aku akan merantau ke Yogya, selepas menamatkan bangku SMU di kota kelahiran. Bukan sarung khas kota kelahiranku, Bengkulu. Hanya sebuah sarung biasa.

Di keluarga besar nenek dari pihak ibuku, sangat jarang menggunakan mukena pasangan atas bawah saat menunaikan shalat lima waktu. Keluarga besar nenek dari pihak ibu lebih suka menggunakan mukena saja sebagai atasan dengan sarung sebagai bawahannya. Karena itulah, saat akan merantau ke tanah jawa, ibu juga membekaliku dengan dua lembar sarung kalau tidak salah sebagai bawahan untuk shalat. Sarung pertama yang berwarna merah jambu kugunakan sebagai bawahan untuk shalat setiap harinya selama kuliah lima tahun di Yogya. Sarung kedua yang berwarna agak gelap  ini jarang kugunakan. Tentu saja, sarung kedua ini lebih awet dibandingkan sarung pertama.

Melanjutkan perantauan ke Bandung, sarung kedua ini tetap menunaikan fungsinya sebagai bawahan saat aku menunaikan shalat dengan atasan yang tentu sudah berganti. Hawa kota Bandung yang dingin, menjadikan aku sangat sering tertidur lagi usai menunaikan shalat subuh, tetap dengan menggunakan sarung dan mukena sebagai atasan selepas shalat subuh. Sangat nyaman tertidur di atas sajadah tetap dengan menggunakan mukena dan sarung seusai shalat subuh. Terasa hangat.

Sarung kedua ini mulai menemukan penggantinya dan tidak lagi dipakai secara rutin setiap hari untuk bawahan saat shalat setelah aku menikah.  Penyebabnya adalah suami memberikan mukena atasan dan bawahan sebagai salah satu mas kawin. Namun, sarung ini tetap kupakai sebagai bawahan saat mukena mas kawin dari suami dicuci.

Sarung kedua ini juga kubawa serta saat perjalanan merantau menuju Jepang. Hampir 4 tahun menetap di Jepang, maka selama itu pula sarung ini kujadikan kembali sebagai bawahan shalat di lab. Sengaja sarung ini dan sebuah sajadah kutinggalkan di lab. Demi kepraktisan untuk menunaikan shalat dzuhur, ashar, magrib atau isya saat masih berada di lab. Saat musim dingin tiba dan ternyata aku tidak bisa shalat di ruanganku dan mesti menuju sebuah mushala kecil di gedung yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari gedung labku, maka sarung ini berubah fungsi sementara menjadi penghangat leherku.

Sarung kedua ini adalah tinggal satu-satunya barang pemberian ibu yang masih bersama denganku sejak pertama kali aku meninggalkan kota kelahiran. Barang-barang yang lain sudah lapuk dimakan usianya. Kalaupun aku ditakdirkan untuk merantau lagi ke belahan dunia yang lain, tetap ingin kubawa sarung ini, untuk menemaniku menunaikan shalat karena aku tahu sarung ini adalah sarung pengingat dari ibuku bahwa aku senantiasa mesti menjaga shalatku entah di belahan bumi manapun aku berada.

Dan inilah sarung sederhana yang diberikan dengan penuh cinta oleh ibuku 11 tahun yang lalu. Masih kelihatan bagus, bukan?:)

Tulisan ini disertakan pada giveaway Berbagi Cerita Tentang Sarung yang diadakan oleh Kaka Akin.

@rumah, Sept 2011

Iklan

24 pemikiran pada “Sebuah Sarung Sederhana

  1. Saya mengenal sarung sebagai bawahan mukena baru setelah kuliah di Bogor, karena dulunya saya sholat menggunakan mukena yang terusan, dibuat sendiri oleh alm ibu.

    Sarungnya bertuah ya Fety…

  2. Membayangkan jadi “sarung”..betapa nyamannya …dipeluk, dipakai menghadap Tuhan, dibersihkan, juga di sayang-sayang serta bisa menghangatkan orang yang dicinta.
    Makin lama umur sarung, pasti rasanya makin nyaman, serasa sudah menyatu dengan kita.

  3. Pagi mbak, insyaAllah itu termasuk barang bertuah, Yang didalamnya ada Cinta dan pesan. Mudah2an terus bisa menjaganya sebagai kenang2an dari orang yang menyayangi kita, Terlepas dari itu, di JAWA ada juga yang punya kebiasaan membawa SEWEK. Semacam kain yang diguanakan untuk menggendong bayi. Nah sewek yang dibawa biasanya adalah sewek yang digunakan waktu si bayi lahiran dan menggendong untuk pertama kalinya…

  4. Subhanallah… Sebelas tahun dan sarung ini masih dalam kondisi prima..
    Semoga dapat terus bermanfaat dalam beribadah 🙂

    Terima kasih telah turut “Berbagi Cerita Tentang Sarung”
    Sudah saya catat sebagai peserta 🙂

  5. bundo bisa bayangkan istimewanya sarung pemberian ibu tersebut.
    dikala cuaca panas, sarung itu terasa sejuk.. dikala musim dingin ia akan terasa hangat. 😀

  6. Mengharukan kisah sarung ini Fety, benda kenangan yang sangat berguna, akupun jadi teringat menerima warisan kain sarung bekas pakai almarhum ompung , papa dan mertua belasan tahun lalu dan masih dipakai sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s