Jalan Kaki

Semua orang sepakat, jalan kaki akan memberikan banyak manfaat jika dilakukan secara rutin. Untuk kesehatan ataupun dalam rangka menjaga kebugaran tubuh. Bagiku, ada manfaat lain dari jalan kaki. Menghilangkan sedih.

Sewaktu kuliah, kadang aku memilih pulang pergi kampus-kos dengan berjalan kaki. Kala itu, pertimbangan ekonomi yang menjadi prioritas utama. Demi penghematan uang bulanan dari bapak ibu.

Rute jalan kaki kampus-kos yang diteduhi pepohonan kayu putih yang berada di sepanjang jalan menjadikan kegiatan jalan kaki sekitar 20-30 menit itu tidak mesti berteman dengan terik panas matahari. Semilir angin siang yang memberikan wewangian minyak kayu putih, seakan ingin berlama-lama menghirup dalam-dalam wewangian itu dan membiarkannya mengisi ruang kosong paru-paru.

Pelajaran hidup di suatu harilah yang memberikan makna lain dari jalan kaki. Bahwa dengan berjalan kaki, kesedihan akan menguap. Menjauh dari pikiran. Saat itu aku sedang terhempas oleh kenyataan dua kali tidak bisa mengikuti tes dosen di dua universitas yang berbeda dalam kurun waktu empat hari. Kedua universitas itu berada di kota lumpia, Semarang dan kota apel, Malang.

Kenyataan itu kutemui masih di tahap pertama, saat menyertakan berkas-berkas syarat pendaftaran. Hanya karena nama program studiku tidak tercantum di jurusan yang membuka lowongan dosen. Itulah penyebabnya. Saat itu info tentang lowongan dosen memang kudapatkan dari alumni yang bekerja di kedua universitas tersebut, bukan dengan melihat jurusan-jurusan yang mana membuka lowongan dosen.

Berteman dengan rasa capek menempuh perjalanan Yogyakarta-Semarang-Malang-Yogyakarta dalam kurun waktu empat dari tanpa jeda, saat pukul 2 malam di hari keempat tiba di perbatasan selatan kota Yogyakarta, kuputuskan untuk berjalan kaki menuju kos. Ada beberapa tukang becak atau tukang ojek yang menghampiri; menawarkan jasanya mengantarkanku hingga kos yang terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta. Ada juga beberapa taksi yang mangkal di tempat pemberhentian bis. Tapi, saat itu, aku hanya ingin mengurai sedih dengan sendiri. Maka, aku memilih berjalan kaki hingga kosku.

Hampir 2 jam aku berjalan kaki menuju kos saat itu. Bertemankan langit malam yang dihiasi oleh gemerlap bintang. Bersama dengan bulir-bulir bening yang masih saja merembes di kedua pelupuk mata, yang memang sudah jatuh sejak memulai perjalanan dari Malang. Berkawan dengan dinginnya angin malam yang memberikan kesyahduan dan membangkitkan rasa lapar.  Tapi, saat itu aku memang ingin sendiri. Mengurai sedih dan melanjutkan hari besok dengan senyum dan ceria. Maka, hanya gigitan beberapa batang coklat di sepanjang perjalananlah yang kupilih sebagai teman pembunuh lapar.

Ternyata, menatap luasnya langit malam yang tengah gemerlap oleh cahaya bintang selama 2 jam perjalanan itu mampu membangkitkan sebuah semangat: ada banyak rejeki di tempat yang lain, InsyaAllah. Bahwa ternyata cita-citaku sejak lama untuk menjadi dosen belum tercapai saat itu, mungkin ada banyak pelajaran dan hikmah yang tengah Allah siapkan untuk kehidupanku selanjutnya. Seperti langit yang luasnya tidak memiliki batas, maka rejeki dari Sang Pengatur Kehidupan juga tanpa sekat. Itu yang kudapatkan di malam itu.

Maka, sesaat tiba di kos menjelang adzan subuh dan akhirnya tidur pulas seusai menunaikan shalat subuh karena capek yang mendera, di pagi harinya aku bangun dengan senyum dan keceriaan. Sedih itu sudah menguap. Entah kemana.

Sejak itu aku mulai jatuh cinta pada langit yang terlihat semakin elok saat ditatap dengan berjalan kaki. Entah di saat malam atau siang. Di saat siang, aku jatuh cinta pada birunya langit yang bertemankan arak-arakan awan putih. Di saat malam, aku jatuh cinta pada langit yang dihiasi oleh gemerlap bintang atau cahaya menyejukkan sang rembulan.

Sampai saat ini, saat ada sedih yang bergelayut entah oleh beragam penyebab, aku masih tetap memilih jalan kaki sambil menatap langit untuk mengurai sedih. Kadang berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas. Hanya ingin menatap luasnya langit, bercakap-cakap dengan diri sendiri, membangkitkan semangat di tengah sedih dan melanjutkan fase kehidupan selanjutnya dengan senyum dan keceriaan.

Maka kawan jika suatu saat engkau digelayuti oleh sedih yang tak kunjung terurai, berjalan kakilah meski tanpa tujuan yang jelas. Tataplah luasnya langit. InsyaAllah engkau akan menemukan kedamaian sesudahnya dan kesedihan akan meninggalkanmu.

@kampus, Juni 2011

-mengenang peristiwa 6 tahun silam-

Iklan

22 pemikiran pada “Jalan Kaki

  1. mba Fety…
    serius jalan kaki 2 jam?

    Waduh kalo aku mah paling banter jalan kaki keluar komplek aja tuh mba…
    itu pun dengan berkeluh kesah…hihhi…

    Tapi pas jaman hamil terpaksa harus rajin jalan kaki tuh mba…
    biar lancar…
    Rajin ngepel jongkok juga mba…hihihi…

  2. Dulu Saya pernah jalan kaki dari rumah ke kampus (15 kilo kali), karena nazar, kalau nilai matakuliah yg saat itu menrut saya cukup sulit, minimal dpt C. Ternyata dapat B, akhirnya saya jalan kaki, ngelewatin malioboro segala. Sempet beli es di jalan hehehe.

  3. Hehehe…Fety…kok kayak anak bungsuku…
    Dia kalau sedih atau ada yang dipikirin jalan kaki, katanya jalan kaki bisa membuat ide lancar.

    Beda denganku, jalan kaki untuk senang-senang, untuk lihat pemandangan alam.
    Kalau sedih, saya nangis…dan tidur, bangun tidur sedihnya hilang…..tiap orang memang berbeda-beda ya.

  4. Ya ampun Fety, dini hari begitu jalan sendirian, ngeri banget, untung nggak ada apa2. Tapi bagus juga kalau bisa menurunkan emosi ya. juga kalau bisa menurunkan emosi ya.

  5. Iya, aku juga suka jalan kaki, apalagi klo bareng Bilal en Papanya, bisa ngobrol macem2, liat macem2, belajar macem2…
    Mudah2an di Indonesia nanti kebiasaan jalan kaki ini ga hilang..v_v

    Btw, maaf lama banget bales komentarnya mbak Fety..akhir2 ini ga buka FB (dan masih males buka FB), trus barus sekarang internetan lagi..(bukan karena lahiran sih mbak, masih anteng gerak2 di perut nih, si dedeknya, tapi males aja internetan akhir2 ini,,,^_^;)… Bener mbak, insya Allah agustus ini aku back for good ke Indonesia…v_v..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s