[Serial Kehamilan] Semua Ada Prosedurnya

Selama tinggal di Jepang, memang terasa sekali semua urusan ada prosedurnya. Di satu sisi, ada efek positifnya: aku belajar teratur untuk semua hal. Walaupun di sisi lain, tentu saja, di awal-awal berurusan dengan semua prosedur itu ada perasaan ngedumel 🙂 Sekarang, semakin lama perasaan ngedumel itu semakin menghilang. Semakin merasa nyaman dengan prosedur-prosedur itu. Begitu juga dengan kehamilan pertama ini.

10 Februari 2011 adalah saat aku melakukan testpack pertama kali. Hasilnya dua garis merah muncul di alat testpack yang kupakai. Belum percaya dengan hasil tes pertama, tes kedua kulakukan keesokan harinya. Hasil tetap sama. Dua garis merah tetap muncul. Hampir satu tahun setelah peristiwa keguguran itu berlalu. Alhamdulillah.

Yakin dengan hasil kedua tes tersebut, akhirnya tanggal 14 Februari 2011, aku pergi ke rumah sakit di dekat rumah. Nama rumah sakitnya adalah Chiba Iryou Senta. Rumah sakit ini adalah rumah sakit tempat dulu aku melakukan operasi kuret. Di rumah sakit ini, hampir seluruh dokter kandungan dan perawatnya adalah perempuan. Pengalaman saat operasi kuret setahun dulu, hanya saat memasukkan infus menjelang operasi dan saat di ruang operasi aku bertemu dengan perawat laki-laki. Tentu saja perawat laki-laki yang aku temui di ruang operasi itu bertindak melakukan tugasnya saat aku sudah dibius untuk operasi kuret.

Saat pemeriksaan tanggal 14 Februari itu, aku bertemu lagi dengan dokter yang menangani operasi kuretku.  Nama dokternya Noda Asuka. Aku memanggilnya Noda Sensei. Sudah hampir setahun tidak bertemu dengan beliau. Masih ada senyum manis di wajahnya yang masih sangat muda. Memasuki ruang pemeriksaan, standar pemeriksaan adalah USG transvaginal. Kantong janinnya sudah kelihatan tetapi si dedek belum kedengaran detak jantungnya. Aku langsung diperbolehkan untuk pulang dan diminta datang kembali tanggal 11 Maret 2011. Hanya membayar biaya periksa akhirnya aku pulang ke rumah.

Beberapa teman-teman yang sudah pernah hamil dan melahirkan di Jepang memang telah bercerita dokter di Jepang tidak akan memberikan obat apapun selama kehamilan, sepanjang kehamilannya dinyatakan sehat dan si ibu juga sehat. Begitu juga dengan aku, di pemeriksaan pertama tidak ada obat apapun yang diberikan oleh dokter.

Kurang lebih empat minggu kemudian, tanggal 11 Maret 2011, aku kembali ke rumah sakit. Aku kembali ditangani oleh Noda Sensei. Pemeriksaan yang dilakukan tetap sama, USG transvaginal. Alhamdulillah si dedek sudah kedengaran detak jantungnya. Selesai pemeriksaan, Noda Sensei cuma berpesan agar aku segera mengambil boshi techo (buku kehamilan -gambarnya bisa dilihat di sini-) di kantor kecamatan Inage, tempat kami tinggal. Boshi techo ini nantinya akan diisi data riwayat kesehatan ibu selama hamil dan data kesehatan anak mulai dari kelahiran hingga usia 6 tahun. Usia 6 tahun adalah usia wajib masuk SD di Jepang, dan menjelang masuk SD data riwayat vaksinasi anak mesti diserahkan ke sekolah. Selesai pemeriksaan USG transvaginal, aku diperkenankan pulang dan direncanakan akan pemeriksaan lagi tanggal 28 Maret 2011.

Tanggal 24 Maret 2011, aku pergi ke kantor kecamatan Inage, mengambil boshi techo. Selain boshi techo dengan versi bahasa Jepang, aku juga meminta buku kesehatan ibu dan anak versi bahasa Inggris untuk digunakan saat nanti kami sudah pulang ke Indonesia. Bersamaan dengan boshi techo ini juga disertakan buku kupon pemeriksaan yang terdiri dari 14 lembar kupon pemeriksaan selama kehamilan bagi si ibu, 2 lembar kupon pemeriksaan gigi (1 lembar digunakaan selama kehamilan dan 1 lembar lagi digunakan setelah 1 tahun kelahiran anak), 2 lembar kupon pemeriksaan untuk si anak (1 lembar kupon pemeriksaan untuk usia 3-6 bulan dan 1 lembar untuk usia 9-11 bulan). Biaya kehamilan dan melahirkan di Jepang memang sangat mahal dan kupon-kupon ini nantinya berguna sebagai potongan biaya yang mesti dikeluarkan.

Aku juga diberikan beberapa brosur dan sebuah gantungan yang khusus menandakan kalau si empunya gantungan sedang hamil (gambar gantungannya bisa dilihat di sini). Gantungan ini berguna saat kita menggunakan kendaraan umum saat bepergian yang berarti kita bisa menggunakan kursi yang khusus digunakan untuk ibu hamil, orang tua, orang berkebutuhan khusus, dan ibu yang masih membawa bayi. Untuk diketahui meski kami adalah orang asing, kami juga harus mendaftarkan diri dengan program asuransi kesehatan di Jepang. Biaya asuransi ini cukup mahal dibayar perbulannya, tapi karena statusku dan suami adalah mahasiswa maka mendapatkan potongan.

Tanggal 28 Maret 2011, aku berkunjung lagi ke rumah sakit. Hari ini juga dilakukan pemeriksaan urine, cek dalam (waktu cek dalam ini terasa ada sesuatu yang diambil, menurut analisa si mas yang diambil adalah air ketuban untuk mengetahui si dedek sehat atau tidak) dan tes  darah lengkap yang terdiri dari tes TORCH,  Rh, Hepatitis C, Hepatitis B, Syphilis, AIDS dan sistem imunitas tubuh. Alhamdulillah hasil tes menyatakan semuanya normal. Saat ini juga Noda Sensei bercerita kalau ada polip di rahimku, tapi ukuran polipnya tidak besar dan tidak mengganggu.

Selesai pemeriksaan dengan Noda Sensei, aku diminta untuk menunggu lagi dan akan diajak ngobrol oleh seorang bidan di ruangan lain. Ternyata sang bidan menerangkan beberapa hal terkait dengan kehamilan hingga nanti melahirkan. Alhamdulillah mendapatkan gambaran perkembangan si dedek hingga nanti melahirkan, tata cara pemeriksaan di RS (hingga kehamilan 27 minggu pemeriksaan dilakukan 4 minggu sekali, antara kehamilan 28 minggu hingga 35 minggu pemeriksaan dilakukan 2 minggu sekali dan setelah kehamilan 36 minggu hingga melahirkan pemeriksaan dilakukan 1 kali seminggu, pemeriksaan dilakukan berselang-seling antara dokter kandungan dan bidan, setiap pemeriksaan akan dilakukan tes urine dsb), apa saja yang boleh dilakukan dan tidak dilakukan (termasuk juga masalah hubungan suami istri 🙂), dan banyak hal lagi (sayangnya buku panduan yang diberikan ini tidak ada versi bahasa Inggrisnya, jadi mesti berteman dengan kamus untuk membaca beberapa kanji yang sulit).

Ternyata hari ini dihitung sebagai hari pertama aku melakukan pemeriksaan sebagai ibu hamil karena aku sudah membawa boshi techo dan buku kupon (hal ini kuketahui dari kuitansi pembayaran yang menyertakan biaya konsultasi dengan dokter kandungan. Di dua pemeriksaan sebelumnya tidak dicantumkan biaya konsultasi ini). Hari ini dihitung sebagai pemeriksaan 11 minggu menjelang 12 minggu si dedek. Begitulah prosedur kehamilan hingga usia kehamilan 3 bulan. Merasa baru dengan prosedur-prosedur ini, sengaja prosedur-prosedur ini kutulis dalam halaman khusus, rekam jejak buah hati 🙂

Aku yang baru kali ini hamil dan jauh dari orang tua maupun mertua, tentu saja sangat terbantu dengan prosedur-prosedur ini. Alhamdulillah.

@rumah, Mei 2011

Iklan

26 pemikiran pada “[Serial Kehamilan] Semua Ada Prosedurnya

  1. Alhamdulillah, sehat-sehat ya Bu Fety…

    Oyen juga hamil dah tiga bulanan, dan Oyen sendiri meminimalkan konsumsi obat kimia selama asupan makanan bisa masuk, kemarin all day sickness sebulan penuh saja Oyen biarin, biar mual parah sampai muntah hingga 7 kali pun obat anti mual gak Oyen minum, semua Oyen nikmatin walaupun harus bedrest sebulan penuh dan off ngantor, tapi insyaAllah yang penting dedeknya gak bermasalah, yang penting tetep dipaksa makan makanan yang mencukupi kebutuhan dedeknya…

    semoga selalu sehat dan dimudahkan hingga kelahiran ya Bu, berarti anak kita entar sepantaran dong yah… 🙂

    sukses untuk Bu Fety 🙂

  2. Wah.. gak ada obat sama sekali??
    Kereeenn 😀
    Kalo di tempatku, biasanya masih ngasih kalk dan fe ke ibu hamil 😀
    Mungkin karena di Jepang sudah bagus2 nutrisinya, beda dengan di negara kita 🙂

  3. Sebetulnya prosedur di Indonesia juga cukup rumit kok Fety, saya dulu dikasih buku agenda untuk catatan, diberikan buku untuk prosedur selama kehamilan. Atau mungkin saya periksa di rumah sakit khusus ibu dan anak di Jakarta?

    Selamat ya Fety, tetap hati-hati, dan sebaiknya ibu hamil tidak makan obat…saya dulu hanya minum panadol (isinya parasetamol) jika hanya terpaksa. Jadi oleh dokter hanya diminta lebih banyak istirahat….

  4. polip itu maksudnya kinshu? 筋腫? Kalau aku dibilang kinshuu = myom yang cukup besar, ada 5 cm, yang nantinya akan hidup bersama si janin s/d 10 cm.
    Kalau ada kanji yang tidak tau bisa difoto kirim aja via email, kalau perlu cepat 😉
    Gambatte and enjoy ya

    EM

    • cb nnt fety ty lagi saat periksa bulan ini, mbak imel. soalnya senseinya cuma bilang polip aja. ok deh, mbak klo ada kanji yang fety gak tahu, akan ny dengan mbak imel.

  5. ternyata hamil di negeri org banyak keuntungannya ya Fet…jauuuh sekali perbandingannya dg kerumitan proses di negeri sendiri. selamet menjalani akhir trimester pertama ya!!

  6. good luck ya mbak Fety…. smoga lancar terus kehamilannya, hingga persalinan nanti 🙂
    klo dipikir2, hamil di jepang emang enak sih. lebih tenang karena segala sesuatunya lebih terjamin. ganbarimashou…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s