Pertanyaan yang Tak Mengenal Tanda Titik

Selepas ujian SMP, pertanyaan yang telah menunggu adalah mau melanjutkan ke SMU mana? Lalu sederet petuah akan terdengar, wah mendingan SMU itu saja, lebih bagus soalnya. Atau nasehat yang lain, kayaknya lebih bagus SMU itu deh. Setelah diterima di SMU favorit, dan setelah ujian kelulusan SMU maka pertanyaan selanjutnya yang terdengar adalah mau kuliah di universitas mana? Senada dengan pertanyaan lanjutan di atas, akan muncul juga sederet nama-nama universitas favorit. Akhirnya, tinggal usaha dan doa yang membawa nasib menuju universitas yang mana.

Setamat kuliah, pertanyaan yang lain akan menunggu: kerja di mana? Bahkan setelah kerja di tempat yang mapanpun, pertanyaan selanjutnya tetap akan terdengar: kapan menikah? Lalu, setelah menikah apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut akan berhenti. Tentu saja tidak, pertanyaan selanjutnya adalah: udah punya anak? Dan setelah mempunyai anakpun, pertanyaan-pertanyaan: kapan program anak kedua? atau kapan program anak ketiga? tentu akan tetap terdengar.

Aku juga mendapat pertanyaan-pertanyaan di atas. Dan pertanyaan-pertanyaannya lebih kompleks lagi. Memilih tidak mempunyai pacar semasa kuliah, maka pertanyaan tentang pacar ini adalah pertanyaan serius  pertama yang ditanyakan oleh keluarga besar saat liburan kuliah. Pertanyaan serius kedua adalah saat aku berangkat ke Jepang untuk meneruskan kuliah enam bulan setelah menikah sedangkan saat itu si mas masih tugas di Jakarta. Banyak yang bertanya: mengapa mas mengijinkan aku menerima beasiswa itu walaupun dengan konsekuensi perpisahan antarnegara hampir satu tahun lamanya. Lalu, pertanyaan serius ketiga adalah mengapa aku belum juga hamil hingga tahun ketiga pernikahan kami. Pertanyaan serius ketiga ini bukan hanya ditanyakan oleh keluarga besarku, tapi juga keluarga besar mas.

Kesal, tentu saja saat mendapat pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, akhirnya aku belajar banyak hal setelah sekian lama dan sekian seringnya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu: bagaimana belajar menulikan telinga, bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan senyum kecuali kepada orang tua yang memang biasanya kami berusaha menjelaskan dengan jujur permasalahannya dan langkah-langkah yang sudah kami tempuh dan bagaimana menganggap pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang.

Dan yang terpenting adalah aku juga belajar untuk menahan diri untuk tidak bertanya hal yang sama kepada orang lain karena setidaknya aku tahu bagaimana tidak enaknya mencari jawaban diplomatis atas pertanyaan-pertanyaan itu.

@rumah, April 2011

Iklan

35 pemikiran pada “Pertanyaan yang Tak Mengenal Tanda Titik

  1. setiap tahap itu ada lanjutannya..
    dan orang selalu bertanya akan tahap berikutnya itu..

    seperti halnya saya fey..
    ada pertanyaan yang belum bisa saya jawab.. tapi emang bukan kapasitas saya untuk menjawab.. 🙂 hanya Allah yang tau kapan jawaban itu muncul
    dan alhamdulillah.. pertanyaan itu tidak membebani saya 🙂

  2. yups..lagi-lagi sil juga sependapat dengan yang lain…
    bahwa ternyata itulah hidup dan kehidupan
    dan kita adalah makhluk sosial, pasti berhubungan dengan orang..

    terkadang memang susah ya mbak, menjawab dan menjelaskan kepada orang lain tentang kondisi – kondisi itu.
    sil berharap semoga mbak sil yang satu ini bisa sabar dan tabah mendengar pertanyaan – pertanyaan itu…

    mbak sil pengen denger cerita gimana mbak bisa dapat beasiswa..
    ntar share ya mbak…

  3. Sabar…pertanyaan tadi dilakukan pada orang yang dianggap akrab, padahal itu terlalu privacy.
    Mungkin nanti pelan-pelan masyarakat kita juga akan belajar….apalagi sekarang banyak perempuan berkarir dan juga memperlambat usia pernikahan.

    • tulisan ini refleksi atas pertanyaan-pertanyaan itu di tahun2 belakang, bu. ketika saya sudah berhasil mneguasai diri atas pertanyaan2 itu, laahirlah tulisan ini:)

  4. orang Jepang amat tabu menanyakan hal tersebut, biarpun kepada saudara 🙂
    pernah tulis ttg ookina osewa. (its not your bussines)

    Karena itu aku jarang mau bertanya ttg hal-hal pribadi, kecuali dia memulainya.

    EM

  5. aku baru sampai pertanyaan keempat mb..
    o iya, pertanyaan ‘kapan lulus’ waktu S1 juga sangat menyiksa..
    padahal jg gk telat2 amat lho aku lulusnya, tapi pas itu rasanya…rrrgghh…seseg..
    pj Tuhan langsung dapat kerja, jadi tidak mengalami pertanyaan: sudah dapat kerja belum?
    pertanyaan selanjutnya setelah kerja, tau sendiri lah..
    dan aku sedang sampai pada pertanyaan itu…
    gerah dgn pertanyaan itu? dulu sempat iya, tapi skrg sdh tidak..
    aku bahkan bersyukur jika ada yang menanyakan itu, artinya mrk perhatian sama aku..
    apalagi sekarang, sudah gk males lagi nerima pertanyaan itu, karna sudah punya jawaban (alasan) jitu… 😉

    btw, kesabaran mb Fety menanti buah hati 3 th lamanya, akhirnya mendapat jawabnya ya mb. Tuhan selalu tepat waktu, tidak pernah terburu-buru & tidak pernah terlambat.. 🙂

  6. itu pertanyaan yang tak akan kutanyakan mengapa belum menikah, mengapa belum punya anak, hal2 privasi yang takut menyinggung perasaan
    kecuali dia yang pertama menceritakan baru deh berani tanya lebih

  7. Kesabaran bisa tumbuh dari proses menyikapi sesuatu, termasuk menjawab pertanyaan yang mungkin sangat tidak kita sukai. Tapi bisa jadi itu adalah bentuk perhatian orang pada kita, maybe.

  8. stuju dengan alenia terakhir fet..

    tidak bertanya hal yang sama pada orang lain..
    masih ada lagi pertanyaan tanpa titik itu yang jika difikir knapa harus dipertanyakan sedangkan sang Pencipta sendiri tidak mempertanyakan

    karena DIA tau yang terbaik untuk umatnya

    nyambung gak seh 🙄

    btw theme baru neeh 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s