Makanan Mewah

Saat masih kecil dulu, di tengah keluarga sederhana, makanan mewah bagiku beserta saudara-saudariku adalah ayam dan telur. Kalau ibu masak telur untuk lauk, mesti dibagi empat. Jarang sekali mendapatkan telur utuh. Kami juga makan gulai ayam/goreng ayam dan lauk-pauk yang berbau ayam hanya sebulan sekali. Itupun juga dibagi kecil-kecil. Alhamdulillah ikan dan makanan laut lainnya, kami adik beradik hampir setiap hari memakannya. Maklumlah, harga ikan dan makanan laut  di  kota kelahiran begitu murah. Kadang kami makan ikan hasil pancingan bapak.

Ayam dan daging tetaplah makanan mewah bagiku hingga kuliah di Yogyakarta. Bedanya, saat kuliah ikan juga menjadi makanan mewah bagiku. Selain harganya yang juga mahal, aku juga tidak terlalu suka  pada ikan air tawar karena sejak kecil aku sering mengkonsumsi ikan laut dibandingkan ikan air tawar. Mungkin dalam sebulan hanya sesekali saja mengkonsumsi ayam atau daging. Saat kuliah ini pertimbangan utama untuk mengkonsumsi ayam atau ikan adalah uang bulanan dari orangtua. Jika diawal bulan, kusempatkan untuk memperbaiki gizi dengan mengkonsumsi ayam atau ikan karena setelah pertengahan bulan sampai dengan akhir  bulan, bisa dipastikan lauk di piringku tinggal tempe, tahu dan telur.

Bagi si mas, makanan mewah versi masa kecil beliau adalah ikan. Letak Bojonegoro yang jauh dari laut, menjadikan harga ikan menjadi mahal untuk dijual di pasar di Bojonegoro. Awal menikah, si mas sama sekali tidak suka dengan makanan laut. Selain jarang mengkonsumsinya, juga karena si mas mempunyai riwayat alergi terhadap makanan laut. Alhamdulillah sekarang beliau sudah suka dengan udang, gurita dan cumi. Tetapi, sampai sekarang, hanya ikan bakar dan ikan sarden yang lahap dimakan oleh beliau.

Tentang makanan mewah versi kami ini, dulu saat awal menikah, ketika di awal bulan, aku akan membeli ikan untukku dan ayam untuk mas. Tentu saja ayam dan ikan yang sudah diolah dan tinggal dimakan sebagai lauk yang menemani makan malam kami. Beda halnya jika menu di rumah kontrakan adalah telur, tahu dan tempe (3T). 3T ini adalah kesukaan kami, maklumlah sama-sama pernah menjadi anak kos dengan kehidupan yang tidak mewah.

Tinggal di Jepang, makanan mewah versi kami berdua adalah tempe. Karena mesti diimpor dari indonesia, harga tempe di Jepang hampir sama dengan harga ayam halal, bahkan harganya lebih mahal dibandingkan harga makanan laut yang kami suka (ikan, udang, cumi atau gurita) dan beli di supermarket di dekat apartemen. Maka, selama di Jepang kami jarang sekali mengkonsumsi tempe. Tentu saja ada rasa kangen dengan produk asli Indonesia itu. Kami kembali menjadikan tempe sebagai lauk karena aku ngidam tempe mendoan beberapa waktu lalu.

Menikah membuat aku dan mas saling mengerti makanan mewah versi masa kecil kami. Sungguh butuh waktu bagiku untuk memahami mengapa si mas hanya suka ikan yang dibakar dan ikan yang tidak banyak tulangnya, padahal bagiku makan ikan itu sangat enak. Begitu juga dengan mas. Beliau juga butuh waktu mengapa aku tidak terlalu suka dengan daging, padahal bagi beliau mendingan makanan daging/ayam daripada makan ikan.

Biasanya, kami tidak akan saling menyalahkan jika aku tidak mau lagi mengkonsumsi daging/ayam karena sudah tiga kali berturut-turut bertemankan lauk daging/ayam. Mas dengan sukarela akan menghabiskan lauk daging/ayam yang kubuat. Begitu juga dengan aku, aku akan segera menandaskan sisa ikan jika mas sudah tidak mau lagi mengkonsumsi lauk ikan yang kubuat.

Maka, kami berdua menjadi terheran saat di apartemen kami yang sederhana akan dilangsungkan sebuah acara dan aku memilih untuk menyajikan lauk yang bukan daging dan seorang teman berkomentar: makanannya hanya ini? Jawabanku saat itu hanya senyum. Bagiku makanan yang kusajikan untuk para tamu adalah yang terbaik, meski pilihanku bukan pada menu-menu yang berbahan daging. Menu-menu dengan makanan laut adalah tetap mewah dan layak bagiku untuk disajikan. Tapi, ternyata tidak dengan temanku. Versi beliau makanan mewah adalah selalu daging. Tidak mengapa, bagiku.

Itu hanyalah masalah persepsi seseorang memandang sebuah makanan yang dianggap mewah dan layak disajikan. Tentu saja setiap orang berbeda sudut pandang, bukan? Tinggal pada cara kita menghormati  dan tidak menganggap remeh makanan yang dianggap mewah oleh orang lain. Lalu, apakah makanan mewah versi kalian, teman?

@rumah, April 2011

Iklan

27 pemikiran pada “Makanan Mewah

  1. Mewah memang relatif bagi tiap orang. Bagi si A makanan mewah adalah pizza, tetapi bagi si B makanan mewah adalah nasi rames yang diambil dari tong sampah. Semoga kita semua bisa terus makan makanan mewah …

  2. masa kecil nya mba Fety cukup berkesan juga yah…

    kalo bicara tentang makanan mewah aku rada bingung juga nih mba…
    secara daku jarang masak…
    dan kalo pun terpaksa harus memasak biasanya terbatas pada makanan yang hanya di goreng dan dicemplung doang…alias di tumis…hihihi…
    pikir2 kasian juga ya Kayla dan Fathir…masa kecilnya suram karena mama nya gak becus masak…hihihi…

    sampai saat ini sih kayaknya kepiting asam manis makanan yang paling special buatku…karena abah yang sering masakin makanan itu buat aku…hihihi…

  3. Hmm, makanan mewahku sekarang adalah masakan orang mbak..lagi males masak v_v..jadi dirumah makan seadanya..klo ke rumah orang, rasanya bisa lebih lahap makan (ehehehe, kasian juga yah yang kedatangan tamu aku..=P)

  4. wah ngga tau ya…. aku sih tidak pernah menilai mewah tidaknya makanan. Meskipun aku tahu harga….. semisal truffle, atau caviar, atau champagne kira-kira berapa hehehe. itu kalau bicara mewah = harga mahal. Tapi kalau bicara soal mewah = lama persiapan, aku lebih menilai masakan Indonesia karena butuh waktu lama untuk mempersiapkan. Soal ikan atau daging…. hmmm terus terang Ikan itu MAHAL loh 😀
    (apalagi daging halal di Jepang kan udah standar harganya. kecuali kalau disajikan daging matsuzawa/kobe gyu yang satu kilonya 10.000 yen)
    Aku akan lebih melihat paduan menunya daripada ada daging atau tidaknya 😀

    Suka tahu jepang? Ada loh masakan dari tahu, tanpa pakai ayam/daging sejak appetizer sampai dessert. Namanya Ume no Hana, course termurah sekitar 3000 yen.

    EM

  5. menurutku semua makanan itu mewah
    karena telah diberikan kepada kita oleh Tuhan dengan cara yang menakjubkan
    aku suka banget sama ikan fety
    tapi kalo daging sapi kurang suka 😀
    ngiler nih baca postingan fety 😀

  6. Diperlukan waktu untuk saling memahami kesukaan masing-masing.
    Cerita si bungsu, dalam suatu pertemuan di Jepang, dia nyaris histeris karena menemukan mangga…dan hanya sempat makan sepotong kecil…rasanya legaa kayak orang nyidam…..hehehe padahal di Indonesia, walau harganya cukup mahal, mangga bukan makanan mewah (kecuali sekarang atau tahun ini, karena tanaman mangga diserang ulat bulu).

    3 T…itu juga kesukaanku Fety….tidak pernah bosan walau setiap hari ada di meja makan. Paling enak dimakan saat panas, baru keluar dari penggorengan…sedaap….

  7. hanyalah masalah persepsi seseorang memandang sebuah makanan yang dianggap mewah dan layak disajikan
    dua jempol untuk tulisannya….pesan yang disampaikan sangat kena buat saya….makanan menjadi mewah karena sudut pandang dan latar belakang seseorang……kereeeeeeeeeeeeeeeen banget…salut…

    salam 🙂

  8. Kalo bagiku sih, makanan mewah adalah masakan spesial buatan ibu…
    karena ibu menjalankan warung kelontongan, jadi waktu beliau minim banget. Biasanya mask yang praktis2 aja 😀

  9. wee….sama mb Fey..
    jaman kecil telur & ayam jd makanan mewah. Jadi kl bpk diundang kenduri, kami senang bukan main, karna nti bpk plg bw berkat yg ada telur & ayamnya. Hehe…

    Bagiku semua makanan yg tersaji itu makanan mewah mb Fey, krn bisa makan sj merupakan anugerah & sebuah kemewahan tersendiri. Cukup membayangkan mrk yg lapar & tdk memiliki makanan, maka makanan apapun yg akan kita santap mjd begitu mewah & kita bersyukur bs menerima berkat makanan tsb… 🙂

  10. Apalagi jaman kecil saya Mbak…
    Telurnya diiris2 tipis kayak silet…
    Daging ayam ketemunya kalau hari besar dowang.
    Jaman saya dulu warung yg jual ayam juga nggak ada.
    Beda jaman sekarang
    Dulu, anak kecil nangis karena minta makan
    Sekarang, anak nangis karena disuruh makan

  11. Banyak versi juga makanan mewah..yang dikatakan mewah berbeda2 versi di setiap individu,
    Ex: jika sudah lama di negeri orang dan menemukan makanan negri sendiri walupun cuma krupuk terasa makanan mewah.

  12. hihihi…teman hidupku jg hanya suka ikan yang banyak dagingnya spt gurameh.kalo disodorin bandeng atau ikan2 kecil..kayaknya dia lngsg minggir alias pilih yg lain. Tenang Fet, lain lubuk lain ladangnya..bhinneka tunggal ika..ups ga nyambung ya?he3x

  13. hmmm… . smua kan punya kesukaannya sendiri2 ya kan mba fety?
    Biarpun tempe bukan makanan mewah tapi aku suka sekali, bahkan lebih suka dibanding ayam ataupun daging… 😀
    Dan soal tempe impor, aku pernah mengikuti acara 4 mata yg nampilin pengusaha tempe di jepang, dia adalah orang indonesia asli dan insyaallah mukmin. 😀 coba aja cari di tahu di sana. Katanya, ia pengusaha tempe satu2nya dan terbesar di jepang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s