Hak yang terpenuhi

Beberapa bulan belakangan ini, baik untuk urusan mas atau urusanku sendiri, aku sering sekali menyambangi kantor pos. Pilihanku adalah kantor pos dekat rumah atau kantor pos dekat kampus. Tentu demi efisiensi waktu dan tenaga. Kira-kira tiga minggu yang lalu, mas memintaku ke kantor pos. Ada berkas aplikasi beasiswa yang sudah memenuhi tenggat waktu. Karena tenggat waktu pengiriman berkas tersebut bertepatan dengan kepergian mas ke labnya, maka akulah yang diminta mas untuk pergi ke kantor pos.

Pertama kali berurusan dengan kantor pos di Jepang, aku ditegur oleh salah seorang petugas kantor pos di dekat kampus kalau caraku menuliskan alamat pengirim di bagian belakang amplop adalah salah. Seharusnya alamat pengirim dan alamat yang hendak dituju dituliskan di bagian depan amplop (yaitu bagian tempat kita menempelkan perangko).  Alamat pengirim diletakkan di pojok kiri atas, dan alamat yang hendak dituju diletakkan di pojok kanan bawah. Itu petunjuk tambahannya. Tentu saja kupatuhi petunjuk itu setiap kali hendak mengirimkan surat.

Sampai di saat hari aku diminta mas untuk ke kantor pos itu.

Tidak ada yang salah. Petugas kantor pos di dekat kampus juga tidak lagi memprotes caraku meletakkan alamat pengirim dan alamat yang hendak dituju. Aku juga sudah memastikan kepada petugas yang melayaniku kalau surat itu akan dikirimkan ke alamat yang aku tuliskan di pojok kanan bawah bagian depan amplop.

Satu hari setelah surat itu dikirimkan, aku menemukan surat itu di kotak pos apartemenku. Bingung tentu saja. Apalagi yang salah yah, pikirku. Padahal tenggat waktu penerimaan berkas itu semakin di ambang batas. Akhirnya aku bercerita dengan mas. Secara hitung-hitungan matematis, jika aku mengirimkan  berkas itu besok harinya, InsyaAllah berkas tersebut masih akan sampai di alamat penerima tepat di hari yang menjadi batas waktu penerimaan.

Maka, keesokan harinya, sebelum menuju ke kampus, aku bergegas ke kantor pos yang ada di dekat rumah. Kutunjukkan amplop yang kuterima. Aku juga memastikan kalau caraku menuliskan alamat pengirim dan penerima sudah benar. Petugas kantor pos itu juga setuju. Akhirnya aku bertanya, apa lagi yang salah sehingga surat itu dikirimkan ke alamat kami yang berstatus bukan sebagai penerima. Ternyata aku melakukan kesalahan lagi, seharusnya alamat penerima ditulis dengan huruf lebih besar dibandingkan alamat pengirim sehingga petugas kantor pos yang bertugas mengantarkan surat langsung mengenali mana alamat yang menjadi alamat penerima dan mana yang menjadi alamat pengirim.

Aku bersikeras kalau aku sudah meletakkan posisi alamat pengirim dan alamat penerima di tempat yang benar. Petugas kantor pos yang melayaniku juga membenarkan itu. Akhirnya, petugas itu menunjukkan amplopku dan menjelaskan duduk masalahku ke atasannya. Selang beberapa lama menunggu, petugas pos itu menjelaskan kepadaku kalau memungkinkan aku diminta menuliskan alamat penerima dengan huruf yang lebih besar di kertas yang disediakannya. Kertas itu nantinya yang akan menjadi penanda kemana surat itu seharusnya dikirimkan.

Aku menolak, rasanya gak etis dengan cara seperti itu. Kujelaskan kepadanya surat itu untuk sebuah foundation, bukan untuk seorang teman (aku juga tidak tahu sebenarnya keetisan dan ketidaketisan pengiriman surat seperti di Jepang :D). Aku lebih suka mengganti dengan amplop yang baru, dan mengirimkannya dengan perangko yang baru. Tapi, petugas itu menolak caraku. Alasannya biar perangko yang telah tertempel di  amplop tetap digunakan. Kujelaskan lagi tidak mengapa aku membeli perangko lagi. Dia tetap menolak.

Dia kembali ke atasannya. Menjelaskan penolakanku. Jalan tengahlah yang diambil oleh atasannya. Dia masuk ke ruangan yang lain, lalu menuju ke tempatku dan petugas kantor pos itu, sembari memberikan perangko yang senilai dengan harga perangko yang telah tertempel di amplop sebelumnya. Aku lega. Segera kuganti amplop yang lama dengan amplop yang baru, dan kutempelkan alamat penerima dan pengirim. Kukonfirmasi lagi kepada petugas kantor pos. Dia mengangguk. Caraku sudah benar. Kuberikan amplop tersebut dan kutanyakan berapa harga perangkonya.

Ternyata pihak kantor pos menganggap kesalahan pengiriman itu adalah kesalahan mereka, sehingga aku tidak perlu membayar lagi harga perangko yang diberikan oleh atasannya. Owalah, aku baru mengerti mengapa tadi petugas kantor pos bersikeras untuk tidak mengganti amplopku dengan amplop yang baru. Entahlah prosedur apa yang telah dipilih oleh atasan kantor pos dekat rumahku itu, yang jelas sebagai seorang pengguna jasa pos, aku salut dengan keputusannya untuk memuaskan pelanggan🙂

====

Untuk Bunda Fatimah, makasih penghargaanya. Inilah tanda bukti persahabatan dri seorang Bunda yang berada di negeri jirannya Indonesia itu. Peluk erat untukmu, Bunda.

@rumah, 11 Feb, 2011

saat salju turun ^_^

10 thoughts on “Hak yang terpenuhi

  1. Fety,
    Sudah jadi kebiasaanku, untuk menulis alamat dengan di ketik di komputer. Alamat yang dituju dalam huruf yang sangat besar..kemudian alamat si pengirim di pojok atas kiri, dalam bentuk huruf sepersepuluhnya. Mungkin kebiasaan mengirim surat dari kantor, yang kiri atas nya berasal dari alamat si pengirim.

  2. Hehe… seperti kata Mbak Monda, yang penting kan ada tulisan ‘dari’ dan ‘kepada’-nya. masalah posisinya ketukar, kan gak apa2… Ini sih kalo di tempat kita🙂

    • biasanya ada penandanya, mbak. ditulis kanji ‘sama’ yang artinya Mr/Mrs sesudah nama yang hendak dituju, tapi saat itu mau mengirim ke sebuah foundation dan tidak dicantumkan nama penanggung jawabnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s