‘Penumpang ekonomi’ di Shinkansen (2)

Prolog : Jurnal ini adalah kelanjutan cerita terdahulu. Memang agak lama, karena menunggu happy ending dulu 🙂

####
Saat aku dan suami berada di dalam kereta Shinkansen malam itu, aku sudah bilang ke suami, kalau aku akan protes sesaat sampai di stasiun Tokyo nanti: mengapa tiket kami tidak bisa diganti. Prinsipku adalah  yang penting protes dulu. Masalah uang kami dikembalikan atau tidak adalah masalah belakangan. Bukankah dengan protes kita akan tahu, bagaimana sistem yang berlaku? 🙂 Suami manut aja dengan keputusanku. Karena aku yang membeli tiket pp Tokyo-Kyoto, maka aku yang mengurus masalah protes tersebut. Begitulah keputusan kami.

Sesampainya di stasiun Tokyo, sengaja aku menuju ke petugas yang ada. Kuceritakan masalah tiket kami. Aku  diminta bertanya kepada petugas yang lain. Kuiikuti sarannya. Kali ini kami mesti antri karena banyak yang bertanya. Mungkin juga masalah mereka sama dengan masalah kami. Begitu giliran kami, kembali aku bertanya apakah tiket kami bisa dikembalikan harga pembeliannya.

Jawaban dari petugas kereta cukup mengejutkan: tiket kami tidak bisa dikembalikan uangnya karena di tiketnya tidak tercantum harga pembelian tiket, meskipun penyebab kami tidak mendapatkan tempat duduk adalah bukan karena kesalahan kami.

Aku memang membeli tiket itu dengan sistem paket hemat. Paket itu dijual oleh pihat travel agent kampus yang terdiri dari tiket pp Tokyo-Kyoto dan penginapan selama 2 malam di sebuah hotel di Kyoto. Mungkin karena itulah, di tiket shinkansen yang kami beli tidak tercantum harga tiketnya.

Petugas kereta menyarankanku untuk menceritakan masalah kami ke travel agent di mana kami membeli tiket tersebut. Aku menyetujuinya. Beliau hanya memberikan cap sebagai penanda kalau memang ada kecelakaan sehingga kereta yang sedianya akan kami tumpangi tidak diberangkatkan melalui Kyoto.

Berbekal cap pada tiket kami itulah, dua hari kemudian aku kembali ke  travel agent yang ada di kampus. Sambil menunjukkan cap pada tiket kereta, aku kembali bercerita kalau kami tidak mendapatkan kursi karena harus menggunakan jiyuuseki saat pulang dari Kyoto menuju Tokyo.

Petugas travel agent yang menemuiku cukup simpatik. Dia berjanji akan menanyakan status tiket kami apakah bisa dikembalikan uangnya atau tidak kepada travel agent yang menawarkan paket hemat tersebut [cat: travel agent di kampus ternyata hanyalah sales bagi tempat penjualan paket hemat beberapa travel agent besar di Jepang]. Di akhir percakapan beliau menyatakan mungkin prosesnya akan berlangsung sekitar 2  minggu dan apapun hasil keputusan final dari travel agent besar yang menawarkan paket hemat itu, beliau akan menghubungiku melalui telepon.

Dua minggu berlalu. Di suatu pagi, petugas travel agent kampusku menghubungiku. Ternyata tiket kami mendapat pengembalian uang sebesar sekitar 36%. Aku diminta datang ke travel agent kampus dengan membawa bukti diri.

Alhamdulillah, kali ini protesku berbuah manis. Jadi, benarkan kadang protes itu akan membawa manfaat?:)

@campus, Jan 2011

Iklan

10 pemikiran pada “‘Penumpang ekonomi’ di Shinkansen (2)

  1. Syukurlah, akhirnya dapat penggantian. Protes yang wajar diperlukan, karena bagi perusahaan protes konsumen yang langsung merupakan masukan untuk meningkatkan layanan….dan mestinya memang bisa diganti, entah sebagian atau seluruhnya, jika memang layak mendapat penggantian.

    Saya mendapat pengalaman menarik, saya membeli tiket Garuda Jakarta-Malang pp sebesar Rp.2.536.00,- untuk dua orang di sebuah travel. Tiga hari kemudian, saya mendapat telpon, rupanya uang saya kelebihan, karena Garuda memberikan tiket promo, dia meminta nomor rekeningku di Bank, untuk mengembalikan uang sebesar Rp.482.000,-. Setelah besoknya saya cek, ternyata memang uangnya telah masuk ke rekening…artinya saya percaya pada travel ini, walau sebetulnya saya tak tahu kalau saya dapat tiket promo. Jadi di Indonesia, ada beberapa yang masih melayani pelanggan dengan baik.

  2. Fety, alhamdulillah, dapat pengganti harga tiket ya, buah dari sabar menunggu
    ternyata sistemnya jalan ya…

    udah kopdaran sama mbak Imel ya…, kapan cerita versi Fety muncul, ditunggu ya…

    • InsyaAllah setelah deadline pengumpulan thesis akan cerita, mbak. jurnal ini sudah disetting sktr 2 minggu yang untuk diposting bbrp hari yang lalu:) Tapi harinya diganti dengan hari ini, padahal inginnya diganti bbrp minggu yang akan datang. Lupa untuk ganti settingnya lg, jadi jurnal ini keluar deh hari ini 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s