‘Penumpang Ekonomi’ di Shinkansen

Sesaknya kereta ekonomi Jakarta-Yogyakarta sudah beberapa kali kurasakan saat masih kuliah dulu. Duduk di lantai kereta dengan beralaskan kertas koran, lalu tidur dengan posisi kepala tergulai di atas lutut yang dipeluk oleh kedua tangan hingga merapat ke dada mulai dari Jakarta hingga Yogya menjelang, aku juga pernah merasakannya. Uang yang menjadi kendala saat itu.

Berdiri hingga lama sekali dan terjepit di antara para pekerja yang hendak berangkat dan pada akhirnya aku pingsan di kereta lokal Jepang, aku juga pernah merasakannya. Tentu tidak enak sekali dan ditatap dengan seribu makna oleh orang di sekitarku. Masa pagi hari sudah  mabuk, begitu pikir mereka mungkin.

Aku penumpang setia kereta, maka wajarlah ada banyak cerita ‘berkesan’ dengan angkutan massal satu ini. Pun juga kali ini.

Perjalanan pulang Kyoto-Tokyo, Minggu, 12 Desember 2010 kemarin, menambah deretan pengalaman ‘berkesan’ lainnya dalam menumpang kereta. Jumat malam, 10 Desember 2010, bersama suami, aku berangkat ke Kyoto. Ada seminar di Kyoto. Aku dan suami sama-sama mempunyai jadwal presentasi di seminar yang sama. Perjalanan Tokyo-Kyoto, alhamdulillah, berjalan dengan lancar. Ini pertama kali suami naik shinkansen. Untukku, ini kali kedua aku menumpang kereta tercepat di Jepang itu.

Saat hendak pulang dari Kyoto menuju Tokyo, kami berdua tenang-tenang saja. Tiket shinkansen sudah berada di tangan. Aku sudah membelinya satu paket bersama dengan tiket pergi dan hotel di sebuah travel agent di kampus. Kami tidak perlu mengantri.

Satu jam menjelang jadwal berangkatnya kereta, aku dan suami mulai memasuki stasiun Kyoto. Kami menuju lantai dua stasiun Kyoto, menunggu di ruang tunggu di dekat jalur kereta dengan jurusan Tokyo. Sambil makan malam yang kami beli di kombini [toko serba ada -red-], kami bercakap dan sesekali diselingi dengan menatap layar yang memampang jadwal keberangkatan kereta dari stasiun Kyoto.

Lima belas menit sebelum jadwal keberangkatan kereta kami, aku merasakan hal yang aneh. Jadwal keberangkatan kereta kami tidak terpampang di layar. Artinya kereta kami tidak akan melewati stasiun Kyoto. Mulailah panik menjalar. Aku berpamitan dengan suami, menuju ke petugas peron yang terdekat dengan kami. Ternyata suami juga menyusul langkah-langkah cepatku.

Petugas yang kutanya juga tidak mengerti. Dia hanya mengiyakan kalau kereta yang akan kutumpangi tidak akan melewati stasiun Kyoto dan aku diminta bertanya lebih lanjut kepada petugas kereta di lantai satu. Bergegas kuturuni satu demi satu anak tangga, menuju lantai satu. Ternyata penjelasan yang kudapat tidak memuaskan. Kereta tidak melewati stasiun Kyoto. Ada kecelakaan. Silahkan menggunakan shinkansen jurusan Tokyo berikutnya. Begitu ujar sang petugas.

Aku tidak puas. Kutanyakan lagi bagaimana dengan status tiket shinkansen yang telah kami beli dan apakah ada penggantian tempat duduk untuk kami. Tetap saja bukan jawaban yang melegakan yang kudapatkan. Kami tidak bisa mengganti tempat duduk Anda. Anda bisa menggunakan jiyuseki [jiyuseki adalah tempat duduk yang tidak dipesan. Artinya siapa cepat dia yang akan mendapatkan tempat duduk -red-]. Itu penjelasan sang petugas.

Setengah kesal dan marah, aku meninggalkan petugas. Sambil berlari kujelaskan situasinya kepada suami. Kami harus cepat-cepat mengantri di gerbong yang khusus disediakan untuk jiyuseki. Tapi, saat itu minggu malam. Artinya akan banyak penumpang yang menuju kembali ke Tokyo.

Seperti yang kuduga, penumpang di deretan gerbong yang menyediakan jiyuseki begitu banyak. Saat shinkansen berhenti di depan kami, aku dan suami sama-sama menghela nafas. Kursi di dalam kereta pun sudah penuh. Sudah terbayang kami akan berdiri di sepanjang perjalanan menuju Tokyo.

Berdesakan memasuki kereta, benarlah dugaan kami. Tidak ada kursi yang tersisa. Kami berdua harus berdiri hingga stasiun Shin Yokohama selama kurang lebih 2 jam. Sangat cukup membuat kaki bengkak dan begitu pegal, walapun sesekali aku duduk di atas tas jinjing kami. Sedangkan suami memang berdiri di sepanjang perjalanan.

Owalah, ternyata tetap ada ‘rasa kereta ekonomi’ di sepanjang perjalanan Kyoto-Tokyo kali ini. Apalagi bagi suami, ini pertama kalinya beliau naik shinkansen. Mungkin pengalamannya lebih begitu berkesan.

@kampus, Des 2010

Iklan

33 pemikiran pada “‘Penumpang Ekonomi’ di Shinkansen

  1. Ping balik: ‘Penumpang ekonomi’ di Shinkansen (2) « Fety

  2. Saya belum pernah ke Jepang…
    Saya pernah naik “Tube” (kereta di London), saat pulang seminar bertepatan dengan waktu pulang kantor..berjejalan seperti KRL Jakarta-Depok. Cuma, enaknya para penumpang sopan walau berdesakan.

  3. Ping balik: CT31. 22 DISEMBER 2010: SELAMAT HARI IBU UNTUK SAHABATKU… IBU-IBU DI INDONESIA « LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2

  4. Assalaamu’alaikum mbak Fety…

    Selamat Hari Ibu buatmu dan semua ibu yang merayakan Hari Ibu di Indonesia. Saya tumpang bahagia untuk menyambutnya bersama kalian. Hargailah diri sebagai ibu atau anak. berbaktilah dengan setulus hati untuk membahagiakan ibu kita.

    Ada award untukmu sahabat, silakan titip sebagai tanda penghargaan selama bersahabat di maya pada.

    http://webctfatimah.wordpress.com/2010/12/22/ct31-22-disember-2010-selamat-hari-ibu-buat-ibu-ibu-di-indonesia/

    salam rindu dan sayang selalu dari sarikei, sarawak.

  5. ternyata kereta ekonomi di jepang sama ya dengan ka ekonomi di Indonesia, sama dlosor dibawah jk dpt tiket non seat…
    jadi pengalaman yang berharga ya mbak meski pahit…bisa menjadi cerita untuk kami2 juga he…

  6. whuaaa…
    pengalaman yang cukup berkesan juga ya mba…

    Tapi,…buatku mah, bisa naik kereta di Jepang itu, walau dalam kondisi apapun,… tetep aja romantis mba…*langsung teringat berbagai macam adegan di dorama jepang…hihihi*

    Lagi musim dingin kan???
    *Sirik pengen ikutan pake baju yang tebel2 tapi tetap fashionable…hiks..*

  7. Assalaamu’alaikum mbak Fety….

    Pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan. Menerusi pengalaman kita akan selalu bersedia menghadapi segala kemungkinan yang bakal berlaku di masa lain.

    Tulisan mbak di atas memberi gambaran bahawa kehidupan kita tidak semuanya berjaya seperti yang kita rencanakan. Ada sahaja hal yang menjadi ujian sebagai tanda kasih sayang Allah untu meningkatkan iman dan rasa syukur kita. Pasti otak kita berjalan kencang berfikir bagaimana harus melakukan sesuatu untuk sampai ke destinasinya.

    Salut mbak, membaca tndakan yang mbak ambil bagi langkas seterusnya menunjukkan kebijakan dalam menyelesaikan masalah. Namun saya mengerti, penat dan lelah tentu tidak terkira kerana berdiri selama hampir 2 jam dalam perjalanan sejauh itu. Semoga Allah selalu memberi kesehatan yang baik buat Fety dan suami dalam meneruskan kehidupan di rantau orang.

    Kalau ke Jepang, saya sangat rindu ingin ke Sapporo, Hakkaido, terutama pada musim sejuk kerana mahu melihat pesta ukiran ais.

    Semoga sukses selalu. Salam rindu dan manis selalu dari saya di Sarikei, Sarawak. 😀

  8. sebetulnya setiap tiket shinkansen yang sudah ada no tempat duduknya bisa diganti dengan naik kereta sesudahnya. Kecuali penuh. (dan kalau ada waktu sesudah-sesudahnya juga bisa). Jiyu seki memang pasti penuh, coba antri jiyu seki untuk shinkansen berikutnya pasti bisa duduk. Tapi masalahnya Kyoto bukan pemberangkatan Nozomi yang pertama sih.
    Emang Nozomi berapa kok tidak berhenti di Kyoto? Musti dari Shin Osaka mungkin?

    EM

    NB: mulai libur tutup tahun kapan?
    selain tgl 29 des – 4jan, bisa dtg ke nerima? Antara tgl segitu Gen di rumah sih 😀 ngga bisa terima tamu.

  9. wah…pengalaman dengan kereta juga. Ternyata di kereta cepat yg terkenal itu bisa berdiri juga ya.. Hmm..sabar ya mb Fey dgn ketidaknyamanan itu. Tp mestinya banyak ya mb ‘korban’nya saat itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s