Berhari raya kurban di Negeri Sakura

Selamat hari raya kurban, teman-teman. Maaf lahir batin. Semoga ada banyak hikmah dari hari raya kurban tahun ini. *semoga masih tidak telat mengucapkannya :)*

###

Idul Adha kali ini adalah Idul Adha yang kesepuluh jauh dari kota kelahiran. Berarti juga Idul Adha ketiga di negeri sakura. Idul Adha pertama dan kedua dirayakan sama seperti hari biasa. Karena tidak jatuh di hari libur, dan juga mesti ke kampus, maka pilihan yang baik adalah tidak sholat hari raya. Masjid terdekat dari rumah kami sekitar setengah jam, sedangkan mushala di dekat kampus hanya menyelenggarakan shalat hari raya untuk kaum laki-laki saja.

Idul Adha kali ini meski jatuh di hari biasa, tapi begitu berkesan. Tentu bukan dengan rendang, kue dan pernak-pernik hari raya. Hari senin, 15 November sampai hari jumat, 19 November, jadwal mas untuk menganalisa sampelnya di kampus yang letaknya dari rumah mesti ditempuh dengan 2 jam perjalanan menggunakan kereta. Itu berarti mas akan menginap di kampusnya sampai hari jumat.

Karena udah yakin, si mas gak bisa balik ke rumah saat hari raya kurban, aku tidak berencana masak apa-apa. Selain juga karena senin malamnya akan berada di lab sampai malam. Karena gak rela Idul Adha dirayain sendiri, aku menyusun rencana supaya bisa shalat hari raya bareng: kami akan shalat di masjid yang letaknya di tengah-tengah antara kampusku dan kampus mas. Itu berarti aku dan mas akan menempuh perjalanan sekitar 1 jam dengan menggunakan kereta.

Ada dua pilihan masjid. Masjid Otsuka di Otsuka dan Masjid As-Salaam di Okachimachi. Aku dan mas udah pernah shalat hari raya idul fitri kemarin di masjid Otsuka. Maka, akhirnya pilihan shalat jatuh ke masjid Okachimachi.

Dari kampusku, rencana itu bisa direalisasikan. Aku meminta mas memastikan jadwal bis dan kereta paling pagi dari kampusnya. Alhamdulillah ada jadwal bis dan kereta paling pagi dari kampus mas sehingga pukul delapan pagi kami bisa sampai di masjid.

Pukul 7.45 pagi, 17 November 2010, aku sudah berada di pintu keluar stasiun Okachimachi. Sambil menunggu mas, aku memastikan jalur jalan kaki dari stasiun ke masjid kepada petugas stasiun. Pukul 7.55, mas baru menampakkan batang hidungnya. Akhirnya, dengan berbekal peta, kami terburu-buru menuju masjid Okachimachi. Alhamdulillah bisa shalat di kloter kedua, karena sesaat kami sampai di masjid, kloter pertama shalat hari raya sudah dimulai.

Sebenarnya seusai shalat kami berencana untuk makan pagi di restoran Turki di Akihabara, satu stasiun dari stasiun Okachimachi, yang menyediakan daging halal. Aku juga sudah menyiapkan peta menuju ke restoran tersebut. Tapi, rencana tinggal rencana. Si mas udah janji ketemu dengan profesornya pukul 11 siang. Karena perjalanan ke kampus mas kurang lebih satu jam, si mas harus mengejar kereta paling lambat pukul 10 pagi.

Akhirnya diubahlah rencana. Pukul 9 pagi seusai shalat, kami menuju ke kombini (convenient store) di dekat masjid. Aku membeli onigiri ikan (nasi yang dibungkus dengan rumput laut dan berisi ikan, daging dll), coklat krep, dan kerupuk, dan biskuit. Mas juga memilih onigiri dan sebotol air putih. Karena tidak menemukan taman di sepanjang jalan menuju stasiun, akhirnya kami berdua memutuskan untuk makan di stasiun. Di stasiun biasanya ada kursi tunggu.

Kali ini rencana kami berjalan dengan matang 🙂 Ada kursi tunggu yang kosong. Kami duduk di sana sambil makan onigiri, kerupuk, coklat krep. Hari itu udara sangat dingin di sekitar Tokyo, sekitar 7 derajat. Tentu saja, kami berdua kedinginan. Akhirnya, mas membeli minuman hangat di jidouhanbaiki atau vending machine (bentuknya sama dengan jurnal mbak akin di sini). Lumayan agak mampu mengusir dingin.

Sementara orang-orang sibuk mengejar kereta supaya tidak telat sampai di kantor/kampus/sekolah, kami berdua memilih duduk di bangku tunggu sambil makan dan minum. Beberapa orang memperhatikan kami berdua. Tapi, kami cuek saja 😀

Usai makan dan minum, kami menuju stasiun Akihabara. Di sana kami berencana untuk berpisah, mas akan kembali ke kampusnya di Tsukuba. Aku juga akan balik ke kampus di Chiba. Sesampainya di Akihabara, seusai menelepon bapak mertua yang hanya sekitar 5 menit, pukul 9.45, mas langsung mengejar keretanya. Sedangkan aku ke juga berlalu menumpang kereta ke arah Chiba.

Di kereta, aku langsung tidur, menebus sisa kantuk pagi tadi karena harus berangkat dari rumah sekitar pukul 6.15 pagi. Alhamdulillah masih bisa shalat hari raya kurban bersama mas.

@campus, Nov 2010

 

Iklan

13 pemikiran pada “Berhari raya kurban di Negeri Sakura

  1. telat baca tulisannya Fet.. tapi rasa haru melaksanakan ibadah kurban disana tetap terasa.. semoga tugas di negeri sakura selalu lancar dan cepat kembali ke tanah air.. melaksanakan ibadah Ied di kampung sendiri tentu tetap lebih indah.. 🙂

  2. baru tau ada kloter ke 2 sholatnya iednya 🙂

    alhamdulilah dibelahan bumi manapun,masih bisa melaksanakan sholat ied yah fet..

    dan biasanya lebih berasa karna jau dari ranah tercinta 🙂

  3. Si bungsu cerita masih bisa sholat di mushola kampus TUT (Toyohashi University of Technology), kemudian makan-makan yang disiapkan oleh teman-teman PPI dan mahasiswa negara lain. Memang nggak ada acara menyembelih hewan qurban….

    Kali ini saya malah sendirian di rumah, jadi ya hanya sholat di masjid sebelah rumah, suami ada tugas banyak di Bandung, dan memang saya qurban di Bandung. Walaupun pak RW mengundang makan ketupat opor dan teman2nya, saya memilih segera pulang ke rumah…kebetulan adik bungsuku dirawat di RS Harapan Kita, jadi kami gantian jaga…jadi ada hari libur dimanfaatkan untuk istirahat.

  4. Assalaamu’alaikum mbak Fety…

    Maaf kalau telat mengucapkan Selamat hari Raya Aidil Adha buat mbak dan keluarga di jepang. Semoga bahagia selalu dan senang dapat menyapa mbak kembali.

    Maaf zahir dan batin.
    Salam manis dari saya di Sarikei, Sarawak. 😀

  5. Alhamdulillah bisa melaksanakan sholat Idul Adha bareng ya. *jadi pengen nyicipin onigiri* 😀
    Wah, di luar negri samapi 2 kloter gitu ya. Subhanallah, berarti masih banyak yang meluangkan waktunya untuk melaksanakan ibadah ini 🙂

  6. so sweet…..
    aku pikir mau cerita sembahyang Ied di SRIT Meguro.
    sulit ya memang di negara asing, apalagi beda tempat begitu.
    Tapi “perayaan” yang sederhana ini pasti akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

    EM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s