Perjalanan Bersama Linux

Dua tahun yang lalu, bermigrasi ke Linux adalah sebuah ‘keterpaksaan’. Karena tuntutan diri sendiri untuk lebih maksimal dengan rencana melanjutkan sekolah. Walapun bergerak sangat perlahan, sedikit demi sedikit masalah yang tidak harmonis antara laptopku dan Ubuntu satu-satu bisa teratasi.

Kadang jika masih ada masalah mengganjal, asalkan tidak terlalu parah, aku biarkan saja. Lama nian WIFI di laptopku tidak bisa digunakan dengan sempurna, bahkan sejak Ubuntu 8.04 menjadi penghuni satu-satunya Acerku. Sudah mencoba mengikuti saran-saran di beberapa milis, tapi tetap saja masalah WIFI ini tidak tuntas. Selalu menyisakan efek samping, jika diibaratkan dengan orang minum obat. Tapi, tak apalah, masih ada koneksi internet melalui kabel.

Juga dengan masalah proyektor (LCD). Sewaktu masih menggunakan Ubuntu 9.04 setahun yang lalu, sesaat akan presentasi di kampus, laptopku tidak bisa harmonis dengan beberapa jenis LCD yang dipunyai lab. Sejak itu, semakin jarang membawa laptop ke kampus. Alhamdulillah ada sebuah PC di lab, jadinya masalah ini jadi terabaikan juga.

Dua minggu yang lalu, setelah penghuni Acer diganti dengan Ubuntu 9.10, aku membawa laptopku ke kampus. Ada presentasi di lab. Sudah was-was jangan-jangan LCDnya tidak bisa maksimal lagi di laptopku. Tapi, sudahlah yang penting mencoba. Ternyata, alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Setelah LCD terhubung dengan laptopku, secara otomatis resolusinya menyesuaikan sendiri. Begitu juga setelah LCD tidak lagi terhubung dengan laptopku. Resolusi layar laptopku kembali normal.

Penasaran dengan masalah WIFI, akhirnya kubawa laptopku ke ruangan yang mempunyai koneksi WIFI. Ingin memastikan apakah masalah lama antara laptopku dengan WIFI sudah membaik atau belum? Ternyata, alhamdulillah, WIFInya bisa berjalan dengan normal. Tidak ada lagi efek samping.

Senang, tentu saja. Bertambah lagi pasokan semangat untuk terus menggunakan open source. Kadang ada orang yang bertanya, mengapa sih mau susah-susah menggunakan Linux? Aku sepakat memang ‘susah’ menggunakan Linux. Laptopku baru bisa berfungsi normal semua perangkat kerasnya setelah hampir 2 tahun menggunakan Linux. Laptop suami sampai sekarang masih meninggalkan beberapa masalah, namun tidaklah fatal. Printer yang diberikan oleh seorang teman, akhirnya kami berikan lagi kepada teman yang lain karena, baik di laptopku ataupun laptop suami, drivernya tidak bisa diinstal.

Tapi, setiap perubahan memang mempunyai jalan untuk ditempuh, juga konsekuensi yang mesti ditanggung. Maka, 2 tahun itulah konsekuensi yang mesti kami pilih untuk sebuah komitmen kecil: paling tidak ini salah satu kontribusi kami sebagai peneliti terhadap penghargaan hak cipta. Paling tidak ini salah satu kontribusi kami sebagai warga negara yang baik untuk membantu pemerintah mengurangi jumlah pembajakan (ah, jadi ingat mbak ria yang juga pernah berkampanye tentang Linux, bahkan sekarang mengelola web khusus untuk linux bersama temannya).

Masih terlalu sederhana dan sedikit langkah kami, memang.

Untuk teman-teman yang juga menggunakan Linux, apakah juga sering mendapatkan pertanyaan yang sama? Apakah jawaban kalian? Berbagi yuk!!

@ campus, June 2010

Iklan

13 pemikiran pada “Perjalanan Bersama Linux

  1. Ping balik: Saya telah kadaluarsa lisensi cPanel tapi memerlukan akses WHM selama 2-3 hari sehingga saya dapat bermigrasi | Duniamaya.info

  2. Inga, saya baru 3 bulan pake Slax Linux. Maklum sy pilih Slax yang portable di Flashdisk. Sy masih belajar gmn KOnfigurasi Coppete buat Messenger-an, trus install berbagai bahasa pemrograman… bisa bantu ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s