Fety-san Makan Ikan Hiu dan Ikan Paus (2)

Prolog : Cerita ini sambungan cerita sebelumnya.

###

Aku ingat saat itu sore. Di meja yang terletak di tengah ruangan labku, kami bertiga berbincang-bincang ringan. Aku, senseiku, dan asisten senseiku. Awalnya kami berbicang tentang banyak hal. Karena aku adalah mahasiswa asing pertama di labku, juga dengan statusku sebagai seorang muslimah dengan banyak keterbatasan dalam hal makan dan minum di Jepang, maka ada banyak pertanyaan tentang kebiasaan makan dan minumku.

Sebelumnya senseiku pernah berkunjung ke Indonesia. Beliau juga pernah mengundang peneliti Indonesia datang ke lab beliau. Namun, karena para peneliti Indonesia ini tetap mengkonsumsi daging kecuali daging babi selama di Jepang, maka ketika aku resmi menjabat status sebagai mahasiswa asing di labku dan ternyata pilihan makan dan minumku berbeda dengan peneliti Indonesia sebelumnya, muncullah banyak pertanyaan tentang pola makan minumku. Bukan hanya dari sensei atau asisten senseiku, tapi juga dari teman-teman labku.

Sebelum hari itu, senseiku, asisten senseiku dan teman-teman labku beranggapan kalau aku memang tidak makan daging, bahkan juga saat aku di Indonesia. Maka, saat sore itu, ketika kami berkumpul bersama dan berbincang, muncul lagi pertanyaan tentang kebiasaan makan minumku. Hari itulah aku menjelaskan kalau aku bukan vegetarian tapi ada aturan dalam hal makan dan minum dalam agama Islam.

Awalnya, aku ragu ingin menjelaskan tentang masalah ini. Apalagi, sebelum berangkat ke Jepang, seorang senior di kantor berpesan jika ada pertanyaan mengapa kamu tidak makan babi dan minum bir, wine, atau sake maka jawaban yang paling tepat adalah menjelaskannya dari sudut pandang kesehatan, bukan memberikan penjelasan dalam bahasa agama.

Namun, hari itu aku berkeputusan untuk menjelaskan dalam sudut pandang agama. Ternyata, penjelasan itu mengawali pertanyaan-pertanyaan lain sehingga muncullah pertanyaan: “Febty-san makan ikan hiu dan ikan paus?

Ikan paus adalah mamalia yang hidup di laut. Secara logika, jika aku tidak makan daging hewani yang tidak disembelih menurut agama Islam, maka aku juga tidak makan ikan paus. Untuk ikan hiu, di Jepang sedang digalakkan untuk tidak lagi memburu ikan hiu untuk konsumsi manusia atas nama perlindungan terhadap hewan, walaupun kata senseiku daging ikan hiu itu lezat.

Terus terang, aku kaget saat dapat pertanyaan itu. Aku hanya menjawab saat itu: “Tapi, sepemahaman saya, meskipun ikan paus adalah mamalia, ikan paus termasuk kategori hewan laut yang bisa dikonsumsi oleh orang Islam. Tapi kami hampir tidak pernah memakan ikan paus. Untuk ikan hiu, bukankah ikan hiu adalah ikan termasuk hewan yang dilindungi, Sensei?” Sebuah pertanyaan retoris karena aku, senseiku dan asisten senseiku sama-sama tahu kalau jawaban atas pertanyaanku adalah iya.

Tapi, setelah sore itu, ada yang menghangat di hatiku tentang perhatian teman-teman labku terhadap pola makan minumku. Jika sebelum hari itu, saat ada perayaan apapun di lab aku hanya menjadi pengkonsumsi salada, maka setelah hari itu, teman-teman lab dengan bijak mau menyediakan makanan lain untukku, misalnya ikan, telur, tahu dll.

Ternyata ada keuntungannya juga berbicara jujur🙂

@campus, June 2010

30 thoughts on “Fety-san Makan Ikan Hiu dan Ikan Paus (2)

  1. Ping-balik: La Tahzan For Students « Fety

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s