Fety-san Makan Ikan Hiu dan Ikan Paus?

Awal bulan ini, labku kedatangan empat orang peneliti muda. Satu dari India dan tiga orang lainnya dari Indonesia, negeri leluhurku. Karena dilab, aku adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia, jadilah juga ikut menyibukkan diri. Ada beberapa petuah dari senseiku -sebutan guru/dosen dalam bahasa Jepang- untukku. Sensei meminta aku mempersiapkan beberapa hal untuk kedatangan tamu-tamu itu, terutama para peneliti muda dari Indonesia.

Dua hari pertama, aku diajak senseiku untuk makan malam bersama. Tapi, hanya di hari pertama aku mengiyakan untuk ikut makan malam. Malam kedua, aku mempunyai janji dengan seniorku untuk mengajariku analisa yang baru untuk penelitianku. Dua hari pertama pula, aku juga bergabung di makan siang bersama dengan keempat peneliti itu.

Ada beberapa alasan aku menemani para tamu senseiku makan siang, terutama untuk para peneliti muda dari Indonesia. Di Jepang, makanan yang dicampur dengan daging babi adalah hal yang lumrah dijumpai. Ketiadaan daftar menu dalam bahasa Inggris adalah kendala lain. Karena itulah, aku mesti menunjukkan menu-menu yang bisa dimakan di kantin kampus.

Siang hari kedua di awal kedatangan keempat peneliti muda itu, aku, senseiku dan keempat peneliti tamu senseiku makan siang bersama. Menu makan siangku dan ketiga peneliti dari Indonesia adalah salada dan ikan. Kami berempat adalah muslim, sehingga lebih memilih menu seafood. Menu makan siang senseiku lumayan bervariasi, ada daging juga sayur-sayuran. Yang cukup mengejutkanku adalah menu makan siang peneliti muda dari India. Ternyata, dia adalah vegetarian sejati, sehingga hanya mengkonsumsi sayur-sayuran saja. Dia beragama hindu.

Tak lama kemudian, datanglah asisten senseiku ke meja kami. Dia agak telat bergabung, karena mesti menyelesaikan beberapa hal terkait dengan pekerjaannya. Di akhir waktu makan siang, kami berenam berbincang banyak hal, terutama dengan pola makan peneliti muda dari India yang memang sejak kecil adalah vegetarian. Kebiasaan keluarganyalah yang menurunkan kepadanya pilihan menjadi vegetarian sejati itu; hanya mengkonsumsi sayur-sayuran dan nasi putih. Saat itu, senseiku sudah balik ke kampus. Beliau mempunyai jadwal mengajar.

Asisten senseiku yang penasaran dengan pilihan peneliti muda dari India itu menjadi vegetarian, benar-benar bertanya detail tentang yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan. Sempat beberapa kali dia bertanya denganku; “bagaimana dengan pemenuhan proteinnya yah?“. Tentu dalam bahasa jepang, dan aku memilih tidak mengalihbahasakannya ke peneliti dari India itu. Bisa dimahfumi dia bertanya seperti itu, orang Jepang begitu memperhatikan pemenuhan gizi seimbang, mulai dari sejak kecil.

Akhirnya diskusi kecil itu selesai juga, setelah asisten senseiku mendapatkan beberapa informasi tentang makanan yang bisa dimakan oleh peneliti dari India itu. Dan kamipun menuju kembali ke lab.

Ternyata, di sepanjang jalan menuju ke lab, asisten sensei masih penasaran dengan tema diskusi kami di kanti tadi.

Dia : Fety-san, saya masih heran ternyata ada yah orang yang memilih tidak memakan sesuatu karena agama. Seperti Fety-san, di Jepang hampir tidak makan daging kan, kecuali daging yang disembelih dengan cara agama Fety-san? (aku memang sudah menjelaskan hal ini padanya).

Aku : Yoshino-san juga adakan makanan yang tidak suka untuk dimakan?

Dia : Iya, saya tidak suka makan sayur. Tapi saya memang tidak suka, bukan karena agama. Di Jepang itu ada agama, tapi kita seperti tidak punya agama. Kalau tidak suka sesuatu, karena kita tidak suka, bukan karena agama kita.

Aku : Gitu yah?

Setelah itu aku memilih diam. Ingatanku kembali awal-awal kedatanganku di lab ini. Semua teman-teman di lab memang heran dengan pilihanku tidak makan daging, hingga pertanyaan yang kesekian kalinya, aku lebih menjelaskan dengan jujur alasannya. Karena aku muslim, dan ada aturan dalam hal memakan hewan sembelihan di dalam agama Islam.

Mengenang kembali cara asisten senseiku bertanya tentang kebiasaan makan peneliti muda dari India, aku teringat lagi dengan pertanyaan asisten senseiku, juga di awal-awal kedatangaanku di lab ini : “Fety-san makan ikan hiu dan ikan paus?”.

Bersambung…

@ campus, June 2010

saat menjelang progress report meeting.

40 thoughts on “Fety-san Makan Ikan Hiu dan Ikan Paus?

  1. Ping-balik: La Tahzan For Students « Fety

  2. Ping-balik: Fety-san Makan Ikan Hiu dan Ikan Paus (2) « Fety

  3. hahahaha…ikan hiu dan ikan paus jadi komsumsi umu di jepang ya mbak?

    well..tinggal di negri orang memang susah ya apalagi jika kita jadi kamu minoritas dan dituntut tetap menjalani ritual tetapi tetap harus bersosialisasi juga😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s