Tentang Birokrasi; Mudahlah yang Bisa Dipermudah

Minggu-minggu yang lalu, bersamaan dengan seliweran berita yang lain di Metro TV, kudengar sebuah berita: jika negeri kelahiran berada pada peringkat-peringkat bontot negera-negara di dunia yang bebas korupsi. Artinya, negeri tercintaku sedang mengidap penyakit kronis yang bernama korupsi. Minggu yang lalu, saat menghadiri sebuah ceramah umum dalam sebuah pengajian di daerah Tokyo, sang ustadz kembali memutar memoriku tentang tingkat korupsi di Indonesia yang sudah sangat mengakar.

Panjangnya sistem birokrasi di negeri tercinta dalam segala urusan publik adalah salah satu faktor mengapa penyakit kronis ini akarnya semakin tertanam kuat. Masih banyak faktor yang lain. Bagiku, faktor yang terpenting adalah kembali kepada sikap dan pilihan hidup sang abdi negara. Memang masih ada urusan birokrasi dengan jenjang yang sangat panjang pada lini urusan publik. Pembenahan itu memang sedang berjalan di setiap jalur, pada arah yang lebih baik tentunya.

Aku tidak ingin berpanjang lebar bercerita tentang birokrasi Indonesia. Aku tidak mumpuni di bidang itu, karena aku bukan seorang ahli hukum tata negara. Kali ini aku hanya ingin menuliskan cerita, bahwa atas nama birokrasi memang kadang sesuatu yang mudah kadang dibuat menjadi sulit.

Seperti dua minggu yang lalu, sesaat sebelum pulang ke apartemen, profesorku memintaku mengontak beberapa peneliti muda Indonesia yang akan beliau undang datang ke Jepang untuk mengirimkan beberapa persyaratan pelengkap terkait dengan kedatangan mereka ke Jepang. Sesampainya di apartemen, sebelum beranjak tidur, sesegera sampai di rumah segera kutunaikan tugas itu, meski rasa mengantuk sudah memanggil-manggil. Malam memang telah larut saat itu.

Alhamdulillah, beberapa orang merespon dengan baik. Sebagian tugasku tertunaikan. Namun, ada yang membalas emailku dengan bercerita jika mereka belum dapat mengirimkan persyaratan karena belum mendapatkan ijin dari atasan untuk berangkat ke Jepang. Padahal, profesorku sudah mengirimkan surat undangan itu hampir dua minggu sebelumnya. Panjang lebar aku dan dia berembug. Akhirnya kuutarakan juga masalah itu dengan profesorku dan seniorku di Indonesia.

Entahlah apa yang terjadi di belakang layar, sehingga akhirnya profesorku bercerita kalau beliau sudah memutuskan untuk juga mengundang sang atasan. Keputusan yang bijak menurutku, karena setelah itu semua urusan menjadi mudah. Para peneliti muda itu mendapatkan surat ijin untuk keberangkatan mereka ke Jepang.

Membandingkan negeri tercinta dengan negeri sakura dalam hal birokrasi bukan berarti bentuk ketidakcintaanku pada negeri kelahiran. Hanya ingin mengambil pelajaran, jika sesuatu memang bisa dipermudah mengapa tidak dilakukan segera tanpa harus mempersulit.

Aku ingat saat tiba perpanjangan visa suami, di awal kedatangan beliau di negeri matahari terbit. Saat itu pilihannya adalah suami pulang dulu ke Indonesia, karena belum memungkinkan bagi beliau untuk mengganti status visa menjadi status mahasiswa asing. Segala urusan yang terkait dengan urusan kemahasiswaan beliau baru bisa diurus setelah beberapa minggu berakhirnya ijin beliau tinggal di Jepang.

Terbayang mahalnya biaya perjalanan bolak-balik Indonesia-Jepang, aku dan suami memberanikan diri berkunjung ke Kantor Pusat Imigrasi Jepang untuk menanyakan status suami dan kemungkinan cara yang lain sehingga suami bisa tinggal di Jepang, sampai selesainya urusan kemahasiswaan beliau yang terkait dengan pergantian status visa.

Jangan bayangkan kami mempunyai kenalan di Kantor Pusat Imigrasi Jepang. Menyampaikan maksud kami dalam bahasa Jepang kepada petugas imigrasi saja sudah cukup membutuhkan perjuangan tersendiri. Alhamdulillah, di sana disediakan pusat informasi yang melayani penjelasan dalam bahasa Inggris. Di sanalah kami mendapatkan penjelasan yang rinci, sehingga akhirnya suami bisa tinggal di Jepang hingga waktunya urusan kemahasiswaan beliau yang terkait dengan pergantian visa selesai. Tidak ada tip. Tidak ada pembayaran yang lebih. Semuanya sesuai dengan aturan. Waktunya pun juga sesuai aturan. Meski kami adalah mahasiswa asing dengan kemampuan bahasa Jepang terbatas.

Pengalamanku yang lain berurusan dengan sistem birokrasi di Jepang adalah saat mengurus kepindahan dari asrama ke apartemen yang sekarang. Semuanya kulakukan sendiri berdasarkan informasi teman-teman Indonesia yang juga pernah berurusan dengan kepindahan tempat tinggal. Yang paling mengesankan adalah saat pengurusan perubahan alamat di Alien Registration Card (semacam KTP untuk orang asing). Hari itu juga selesai. Tanpa bayaran. Memang mudah menurutku, petugas kantor kecamatan cukup menulis alamatku yang baru di bagian belakang KTP-ku. Bukan diketik. Hanya dengan tulisan tangan.

Cara yang sama juga berlaku saat aku dan suami kembali ke kantor kecamatan untuk mengganti status suami di KTP-nya. Status suami sebagai mahasiswa asing juga hanya ditulis dengan tangan di bagian belakang KTP suami. Cepat dan mudah.

Beberapa kali berurusan dengan sistem birokrasi Jepang, yang alhamdulillah dipermudah, akhirnya aku berani berkata kepada suami: “Mas, fey InsyaAllah berani aja kalau berurusan dengan birokrasi Jepang, meski kita di sini adalah orang asing dengan kemampuan bahasa Jepang terbatas“. Bukan tanpa alasan aku berkata seperti itu. Tidak ada pembedaan perlakuan antara orang asing dan orang Jepang dalam setiap urusanlah yang memunculkan keberanian itu. Bahkan juga untuk urusan pengeluaran uang. Semuanya berdasarkan peraturan yang berlaku.

Tapi, dengan berkelakar suami menjawab “Yeah, kalo orang seperti fey ini berurusan dengan sistem birokrasi di negara kita kayaknya payah deh.” Aku sepakat dengan beliau, karena terkait dengan urusan birokrasi di negeri tercinta mulai dari hal yang kecil sepenuhnya kuserahkan kepada beliau. Tapi, aku tetap memegang mimpi suatu saat semuanya akan menjadi lebih baik di negeri kelahiranku, juga untuk masalah ini.

Yuk, kita mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil dan saat ini juga. Ijinkan aku mengutip kalimat ajakan Aa’ Gym ini. Kalau kita memang bisa mempermudah urusan orang, tidak perlu rasanya kita membuat urusan itu menjadi sepanjang jalan kenangan 🙂

Epilog :

Kesimpulan di tulisan ini dan di tulisan sebelumnya adalah untuk memenuhi permintaan seorang sahabat yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikan masternya di negeri tetangga negeri matahari terbit. Yani, makasih untuk penghargaannya. Untuk teman-teman yang ingin meneruskan tulisan berantai tentang kalimat motivasi dan memasang penghargaan dari yani di blognya silahkan yah. Yuk, kita berjabat erat melakukan perbaikan. Minimal dari blog kita sendiri 🙂 Dan inilah gambar penghargaannya, yang dibuat dengan sepenuh cinta oleh suami tercinta dari sahabatku Yani 🙂

@ home, in the middle of spring, 2010

Iklan

52 pemikiran pada “Tentang Birokrasi; Mudahlah yang Bisa Dipermudah

  1. Birokrasi Indonesia, terutama tempat saya tinggal saat ini “Kota Depok” sangat menjijikkan. Pegawainya rata2 binatang. Ngurus KTP, Surat Pindah, Tunjangan Kematian, SKU, SIUP, AsKes, dan segalanya deh.. molor, lama, mondar-mandir, ribet, udah githu di ruangannya bau rokok, melihat wajah pegawainya nggak ada yang enak dipandang, ketus, bengis, waduhhhhhhhh apa lagi ya ?
    ini ungkapan hati, karena setiap mengurus apapun saya memang tidak mau menggunakan calo, pamong, atau apalah istilahnya. Membuat kartu ukuran 9×5 cm saja (KTP) 1 bulan. Membuat selembar kertas SKU saja 1 minggu. Ampunnnnnnnnnnnnnnn…. tobattttttttttttlaaaaaaaaahhhh para pejabat kelurahan, kecamatan, pemda Depok…!!!! Saya mau bicara kotor untuk mereka.. sayang islam tidak mengajarkan ini.

  2. iya sih.. birokrasi di indonesia kepanjangan 🙂

    syukur kalo fety dan suami dapat kemudahan di jepang. memang sudah seharusnya kita memberi kemudahan kepada orang lain. gak perlu mempersulit gitu lhooo

    tapi coba deh fety jalan2 ke jogja… soal perijinan, di sini udah bagus lho.. gak ada birokrasi yang panjang. *ini sedikit promosi jogja ya.. hehe*

    • mbak anna, fety pernah tinggal di Yogya selama lebih kurang 5 tahun. tahun 2005 fety ngurus sendiri KTP dan surat kelakukan baik di Yogya. alhamdulillah benar apa yang dikatakan mbak anna. waktu itu sama sekali gak ada uang tambahan selain yang udah ditetapkan oleh pemerintah kota dan polda yogya. kayaknya di Indonesia baru di yogya, fety merasakan kemudahan itu karena saat di bandung baru merasakan begitu sulitnya ngurus KTP. bukan sulit sih, tapi bayarannya itu loh yang bikin geleng-geleng kepala. selalu kangen yogya, mbak anna 🙂

  3. sering aku jumpai memang, birokrasi di lembaga pemerintahan tertalu ribet, padahal sebenernya bisa kok ga seribet itu. klo ga ribet kan bisa cepet mo proses apapun

  4. iya kadan9 ju9a suka heran,n9apain dipersulit seeh jika meman9 seharusnya mudah?

    mun9kin itu sebabnya indonesia tak maju maju karna selalu dibuat jlimet urusan yan9 seharusnya mudah,bahkan ditin9kat RT sekalipun.. 😦

  5. “Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dibuat mudah”,
    Jargon ini masih melekat kuat di kaum birokrat kita. Beda dengan birokrasi negara mapan seperti Jepang atau Singapura, dimana pelayanan publik menjadi hal yang utama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s