Tentang Anggapan

Setahun setengah sudah terlewatkan kebersamaan dengan aneka hiruk pikuk Jepang. Senang, bahagia, sedih, dan aneka warna rasa menyatu dalam kebersamaan, di lorong terdalam hati. Jepang dengan kemajuan teknologinya bukanlah sebuah keingkaran. Memang begitu adanya. Maka, individualisme adalah sebuah kewajaran saat hadir dalam masyarakat yang semakin heterogen. Bukan hanya kepada orang asing, tapi juga kadang di antara orang-orang Jepang sendiri. Begitu sering terdengar gaung individualisme ini.

Tapi, perjalanan Chiba-Akasaka kemarin memberikan sebuah pandangan yang lain, bahwa menganggap individualisme adalah sebuah kewajaran adalah salah. Semuanya masih bergantung pada sikap pribadi seseorang. Tentang kata memilih, yang tentu berpijak pada kata hati.

Pada sepanjang lorong kereta bawah tanah yang hanya mempunyai fasilitas tangga, tanpa eskalator ataupun elevator, kesadaran itu menemukan ruang. Pada seorang nenek yang membantu seorang ibu muda mengangakat baby carnya melewati tiat demi tiat anak tangga itu. Serta pada dua orang anak muda dengan pakaian kerja lengkap, tanpa ketinggalan dasi dan jas hitam serta menenteng tas hitam mengkilat. Tidak hanya pada tangga itu, bahkan hingga dua tangga berikutnya hingga menuju peron kereta api bawah tanah, kedua anak muda itu dengan sigap membantu sang ibu mengangkat baby carnya. Menilik wajah sang ibu yang bukanlah berkewarganegaraan Jepang, maka semakin menguat kesimpulanku bahwa individualisme adalah memang pilihan pribadi untuk bersikap.

Ah aku ingat, pada suatu pagi ketika hendak menuju ke tempat belajar bahasa Jepang. Pagi itu monorail (kereta gantung) yang kutumpangi begitu sesak penuh manusia. Pagi adalah waktu kehidupan di hampir di setiap jalanan penjuru Jepang. Pemandangan manusia dengan pakaian rapi dan wajah mengantuk pada setiap sudut adalah biasa. Pada setiap angkutan yang berseliweran di penjuru Jepang; kereta biasa, kereta bawah tanah, bahkan monorail. Tapi, kesederhaan sikap seorang ibu muda pada seorang nenek untuk menggantikan posisi tempat duduknya menjadikan pagi itu sebagai hari yang tidak biasa.

Di setiap angkutan umum di Jepang, memang disediakan tempat khusus bagi orang tua, ibu hamil dan orang-orang yang berkebutuhan khusus. Namun, posisi si nenek yang agak jauh dengan tempat duduk khusus itu mungkin menjadikan sang nenek lebih suka berada di dempetan sesak manusia dibandingkan menembus sesak itu dengan tenaga yang tersisa.

Ah, kenapa pula aku melupakan pengalaman pertama menginjakkan kaki ke Jepang dengan koper seberat 35 kg itu? Aku ingat, ada rasa bahagia saat bisa melobi petugas bandara Soekarno-Hatta untuk meloloskan koper berat itu tanpa harus membayar lebih. Semestinya ada selisih 15 berat koper yang mesti kubayar. Tapi, dengan sebuah alasan “Pak, saya akan sekolah di Jepang selama dua tahun“, senyum disertai dengan anggukan mengambang di bibir laki-laki yang kutaksir berumur empatpuluhan itu.

Tapi, rasa senang itu berganti dengan renggutan hati dan bibir, karena aku mesti menyeret koper itu sendirian, tanpa bantuan seorang pengangkut koper yang biasa kutemui pada halaman bandara, terminal atau stasiun di negeri kelahiranku. Jadilah, aku mengerti tentang pesan pada sebuah email dari pihak pemberi beasiswaku: bawalah barang yang diperlukan saja. Beberapa kali aku mesti berjuang bersama koper berat itu, karena aku dan ketiga teman-temanku mesti berkunjung ke beberapa tempat pada hari itu, sebelum keesokan sorenya aku menemukan sebuah tempat melepas lelah di badan pada kamar sementaraku sebelum pindah ke asrama Chiba University.

Aku tidak akan lupa pada bantuan petugas kebersihan di sebuah stasiun yang tanpa kuminta menyorongkan bantuan mengangkat ujung koperku sehingga beban koperku berbagi sama di antara bagian depan dan belakang. Aku juga tidak akan lupa pada hari yang sama di sore harinya seorang laki-laki besar dan tinggi bak seorang pesumo Jepang mengangkat koper beratku sendirian menuruni anak tangga demi anak tangga pada stasiun di dekat persinggahan sementaraku. Maka, aku dan seorang wanita yang ditugaskan oleh pihak sponsorship beasiswa untuk menemaniku di hari itu hanya bisa membungkuk berulang kali dengan sebuah ucapan: arigatou gozaimashita*.

Maka, benarlah dengan kutipan di akhir film kartun yang bersama suami kemarin lusa. Sebuah film yang bercerita tentang kehidupan empat calon detektif di sebuah sekolah detektif Jepang. “Don’t see a case from a single perspective“, begitu nasehat guru mereka kepada keempatnya. Dan akupun mengangguk-angguk setuju. Masih banyak sudut pandang yang lain untuk menilai sesuatu. Bahwa di dunia ini tidak hanya ada warna hitam dan putih, masih ada warna-warna yang lain.

Ket : * terima kasih banyak.

@campus, April 2006

saat banyak hal yang bergeliat di otak.

Iklan

29 pemikiran pada “Tentang Anggapan

  1. Ping balik: Tentang Birokrasi « Fety

  2. Hhmm..Lika liku kepribadian orang Jepang masih selalu saja menarik untuk disimak,, ,Salam buat Akang Holmes ya Mbak,,, yang senang dengan film2 detektif hihihihi 😀

    Salam semangat selalu,,,,

    Main2 ke Blog aku ya Mbak.,,,, Matur nuwun*

    *Terima kasih

  3. dimana-mana mah org baik n buruk pasti ada fet… wong dunia ini penuh warna kok… udah 1 tahun yaa… sama dong… berapa lama lagi di negeri sakura ini?? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s