Menjumput Idealisme

Kami berempat duduk di sebuah sudut restoran Indonesia. Posisi yang strategis. Menghadap ke jalan raya. Juga bisa memandang luasnya langit. Restoran itu cukup terkenal di kalangan komunitas Indonesia di daerah Tokyo, ibukota Jepang. Ketika itu menjelang waktu makan siang tiba. Perutnya yang lapar juga didukung dengan suasana hari itu. Dingin menggigit. Hujan rintik-rintik. Bahkan, sewaktu pagi hari saat hendak menuju ke restoran itu, aku sempat disapa oleh butiran-butiran lembut salju.

Aku membayangkan lezatnya makanan yang sudah kupesan. Nasi goreng spesial. Hmm, lezat. Memang spesial, karena sudah lama aku tidak merasakan nasi goreng khas Indonesia. Sebuah teman yang sempurna di hari itu. Cukup lama makanan utama yang kami pesan tiba. Untunglah diawali dengan makanan pembuka. Semangkuk sup hangat, juga sepiring selada segar.

Kamipun mengobrol. Tentang apapun yang terlintas di kepala. Maklumlah, empat orang ibu-ibu muda. Di antara ketiga temanku, hanya satu orang yang aku sudah pernah ketemu. Seorang senior di Kopma UGM, tempat aku beraktivitas seusai kuliah tujuh tahun yang lalu. Dengan dua teman yang lainnya, hari itu adalah hari pertama pertemuan kami. Tentu banyak pengalaman yang hendak dibagi. Apalagi kedua teman yang aku baru pertama kali bertemu itu akan segera meninggalkan negeri matahari terbit ini, kembali ke tanah kelahiran, Indonesia.

Aku adalah orang yang paling sedikit waktunya tinggal di negeri sakura ini. Satu setengah tahun. Ketiga temanku yang lain tinggal di Jepang sudah berbilang tahun. Seniorku di Kopma dulu sudah memasuki usia tujuh tahun. Dua teman yang lain sudah menginjak tahun keduabelas dan ketigabelas tahun. Perjalanan waktu yang cukup lama, bukan?

“Mengapa memutuskan untuk pulang, mbak?” tanya mbak yang sudah duabelas tahun tinggal di Jepang, kepada mbak yang sebentar lagi akan pulang ke bumi pertiwi. Tahun ini adalah tahun ketigabelas beliau tinggal di negeri matahari terbit ini.

“Demi anak-anak, mbak. Mereka adalah orang Indonesia. Mereka harus mengetahui negeri nenek moyangnya.” jawab beliau sambil mengunyah makanannya. Anak beliau yang pertama dan kedua masih di usia sekolah dasar. Keduanya sudah pulang ke Indonesia terlebih dahulu. Berpisah sementara dengan ummi abinya. Sedangkan anak yang terakhir di usia taman kanak-kanak. Masih tinggal bersama beliau dan suami.

Aku tahu tentu dengan perencanaan yang matang keputusan itu diambil. Dari sisi apapun. Yang melegakan beliau dengan keputusan keluarga itu adalah suami beliau akhirnya memang mendapat kepastian diijinkan pindah dari perusahaan induk di Jepang ke anak perusahaan di Indonesia.

“Iya mbak. Kalau anak-anak sudah gede, mungkin mereka akan memilih melanjutkan sekolah ke luar negeri.” jawabku menimpali. Ini hanya sebuah pedapatku saja.

Saling bersahutan obrolan kami hari itu. Terutama tentang persiapan si mbak yang akan segera menuju negeri kelahiran. Juga cerita beliau tentang persiapan masa-masa adaptasi ketiga anak-anaknya.

Hampir dua jam. Makanan di meja sudah tandas. Perut kamipun sudah kenyang. Makanan hari itu benar-benar lezat. Menjelang sore, kamipun berpisah, di depan restoran itu. Hujanpun masih rintik-rintik. Dinginpun masih menggigit. Tapi, saat di kereta menuju ke rumah, kedinginan yang aku rasakan hari itu dibalut oleh sebuah kehangatan. Tentang percakapan kami siang itu. Sebuah idealisme, untuk negeri kelahiran.

@campus, Feb 2010

Sebuah kenangan di suatu sore di musim dingin 2010

Iklan

38 pemikiran pada “Menjumput Idealisme

  1. Ping balik: Belajar Menulis dari Tips-Tips Andrias Harefa « Fety

  2. Fety masih lama di Jepang? Apalagi suami baru saja bergabung.
    Pilihan hidup memang harus didiskusikan bersama suami isteri. Saya pernah mendapat pertanyaan lewat email (pernah saya tulis di blog sudah lama sekali). Yang bersangkutan sudah lama sekali tinggal di Belanda, ingin pulang ke Indonesia, namun kawatir apakah dia dan keluarganya mampu beradaptasi di Indonesia.
    Memang keputusan tsb harus diambil dengan pehitungan cermat, anak-anak juga perlu adaptasi…

  3. ayo fety jangan mikirin pulang dulu, beresin dulu urusannnya …..ngomongin pulang malahan nanti jadi nggak betah, yg penting kl urusan di sana beres cepatlah kembali
    teman karibku udah malas pulang kampung, malahan suka ngejelekin negara sendiri ….. jangan sampai seperti itu deh ya..

  4. idealisme yang sangat bangus, tetapi itu mungkin dilakukan jika suami istri itu asalnya dari indonesia, nah kalau salah satunya berasal dari jepang gimana ya mbak 😀

    btw…tanah kelahiran lebih baik dibanding segala kemewahan atau intelejensia negri manapun, aku juga percaya itu 🙂

    • benar sekali, mbak ria. pilihan ini mudah saat keduanya sama-sama berasal dari indonesia. kalau perkawinan antarnegara, sudah kompleks urusannya mbak karena biasanya juga menyangkut kepentingan anak-anak. fety juga percaya, mbak, apapun keputusan itu, insyaAllah terbaik untuk sebuah keluarga.

  5. Menurut peribahasa:
    “hujan emas di negri orang, masih lebih baik hujan duit di negri sendiri…”
    Loh… sepertinya aku salah 😛 Hmm… masih tinggal di Indonesia aja sudah lupa peribahasa nih, gmana kalo tinggal di luar negri ya… :mrgreen:

  6. alhamdulillah, ternyata masih ada orang kita yg mau kembali kenegeri ini, krn sewaktu nonton tv disini, ada wawancara terhadap beberapa orang indonesia yg sudah lama mukim diluar negeri, kebanyakan mereka tdk mau kembali lagi ke indonesia.
    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s