Aku (masih Belajar) Menyukai Engkau

Kutulis surat ini untukmu. Sebagai ungkapan perasaan hatiku. Sejak lama aku sudah belajar mencintaimu. Dulu, sejak aku masih berseragam abu-abu. Seorang guru baik hati yang mengenalkanku padamu. Belajar mengenalmu bersama sang guru adalah saat-saat yang indah. Hari-hari SMU begitu banyak waktu kuhabiskan bersamamu. Belajar mengenalmu. Belajar menyukaimu.

Sang guru juga yang membuatku melangkah lebih jauh. Aku tidak hanya menikmat gemulainya engkau yang berliuk-liuk dengan indah dalam deretan yang berima. Namun, aku juga belajar menuangkan pikiranku dengan bantuanmu. Begitu menyenangkan. Tidak membuat otakku menjadi penuh dengan pikiran yang berserakan di kepala. Saat sedih itu melanda masa kecilku, engkau yang memanduku bercerita. Pada sebuah buku yang menemani hari-hariku. Terasa lapang dadaku. Saat masa-masa sulit kuliah menghentak jiwa dan kalbu, engkau lagi yang menggandengku untuk menuangkan perasaan dan ungkapan hatiku. Juga di sebuah buku, sang teman keseharian. Terasa nyaman.

Hingga kini, aku tetap lebih menyukai engkau. Mungkin kesukaan itu pula yang membuatku gagap saat hendak belajar berdekatan dengan yang lain.

Saat ada yang memadumadankan engkau dengan yang lain, hatiku meradang. Sedih. Mulutku juga menjadi gatal untuk berucap membetulkan. Membelamu. Saat ada yang berucap, you mau pergi kemana?, atau pergi desu ka?, atau siapa desu ka?, juga padu padan lainnya yang begitu sering aku dengar di sini, akhirnya keluar juga pembelaanku terhadapmu. Bukan karena aku tidak suka yang lain. Bukan. Tapi, aku tidak mau engkau diduakan bersama yang lain. Engkau berhak berdiri sendiri. Engkau berhak mendapat hati di setiap orang. Engkau juga berhak berkembang karena engkau adalah sebuah identitas. Hanya itu.

Ada yang sudah hampir melupakanku. Menggantikannya dengan yang lain, atas nama kemajuan. Ada yang menyebut engkau begitu sederhana, tidak seperti yang lain dengan variasinya. Engkau memang belum mendunia. Tapi, aku tetap lebih menyukaimu. Lebih nyaman bersamamu. Hingga kini, saat aku berada ribuan kilometer dari negeri kelahiranku.

Tetaplah bangga, ada banyak yang mencintaimu. Tetaplah berdiri tegak, ada banyak yang akan membelamu. Tetaplah berjalan terus, ada banyak yang menjagamu.

@ home, Feb 2010

####

Sebuah gumaman hati dan keprihatinan tentang penggunaan Bahasa Indonesia. Untuk meramaikan lomba menulis surat cinta yang diselenggarakan oleh mba idana🙂

25 thoughts on “Aku (masih Belajar) Menyukai Engkau

    • salah akin, bukan yukatta, tapo yokatta😀
      yukatta itu nama kimono musim hangat he..he..
      benar sih mbak, tapi kalau bahasa daerah mungkin gak terlalu bermasalah kali yah.

  1. teman-teman semua, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun. Hanya menuliskan kegundahan hati, tentang penggunaan bahasa Indonesia. Tentu akan lebih enak dibaca atau didengar, jika seluruh kata-kata yang kita gunakan dalam menyusun sebuah kalimat menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing, tidak dicampur antara keduanya.

  2. alhamdulillah, saya masih bangga akan bahasa Indonesia.
    walaupun dgn globalisasi sekarang ini, bhs.Indonesia banyak memasukkan beberapa bahasa asing dlm khasanahnya.
    tidak mengapa, yg penting kini kian banyak orang asing belajar bahasa kita, dan beberapa perguruan tinggi di luar negeri pun mengadakan mata kuliah bahasa Indonesia.
    Selamat ya Mbak, semoga beruntung di acaranya Mbak Yulie.
    salam hangat utk keluarga.
    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s