Si Hitam, Temanku

Ikut memeriahkan lomba mengesankan dalam bersepeda yang diselenggarakan oleh mas isro, maka aku menuliskan pengalamanku bersama si hitam.

####

Warnanya hitam. Sekitar tiga bulan sudah dia menemaniku. Berpergian kemana saja, dia andalanku. Kukayuh dia. Ke kampus. Ke rumah teman. Ke supermarket. Dia adalah milikku yang kedua. Sebelum dia yang kedua ada di setiap langkahku, aku juga pernah ditemani oleh yang lain. Tapi, entah di mana yang pertama kini berada. Aku tak tahu. Aku hanya berharap semoga dia sudah berada di tangan pemilik yang menyayanginya juga.

Aku suka bersamanya. Terutama aku dan dia sedang berada di jalan raya. Percaya deh, aku dan dia selalu akan mendapat kehormatan dari para pengendara kendaraan roda dua dan roda empat untuk bisa mendahului mereka. Menyeberang jalan, misalnya. Aku dan si hitam pasti akan didahulukan. Saat memarkirkan dia, aku juga suka. Tidak perlu pusing menemukan tempat parkir. Di manapun akan kutemukan tempat yang aman dan nyaman memarkirnya. Juga saat di jalan raya, aku juga senang. Ada tempat khusus aku mengendarainya. Tidak perlu bingung dan tidak perlu takut.

Dialah sepedaku. Kunamakan si hitam karena warnanya hitam. Teman-teman mau melihat wujud sepedaku? Gambar di bawah ini adalah dia, si hitam.

Sengaja kutulis di bawah si dia dengan tulisan “teman ke kampus (2009 – …)” karena dia begitu berjasa menemaniku dari apartemen ke kampus. Setiap hari. Pagi, siang atau malam. Selama musim gugur tahun lalu atau musim dingin tahun ini. Aku berharap semoga di akan tetap menemaniku di musim semi dan musin panas tahun ini. Juga dengan empat musim selanjutnya, hingga suatu saat aku akan kembali ke tanah kelahiranku, nun jauh di sana.

Aku mempunyai pengalaman yang pahit bersamanya. Aku jatuh saat mengendarainya. Di jalan raya pula. Padahal, aku terakhir jatuh saat mengendarai sepeda saat belajar bersepeda, sekitar lima belasan tahun yang lalu.

Saat itu sore. Aku baru pulang dari kursus bahasa Jepang. Jalan yang kulalui agak mendaki. Hari itu juga agak berangin. Teman-teman bisa melihatkan ada payung putih yang aku gantungkan di bawah tempat duduk sepedaku. Nah, awalnya payung itu diletakkan oleh suamiku di samping stang si hitam. Ujung payung dimasukkan ke dalam wadah khusus yang dilekatkan di area yang digambar di atas kutandai dengan kotak yang berwarna biru.

Suatu hari, saat hujan deras, sepulang dari kampus, wadah khusus itu rusak terbelah menjadi beberapa keping. Aku tidak tahu menyebabnya. Mungkin juga karena usianya. Karena awalnya, wadah khusus itu adalah aksesoris di sepeda suamiku. Sepeda suamiku juga adalah turunan seorang teman Indonesia yang sudah pulang ke negeri kelahirannya.

Karena wadah khusus itu rusak, jadilah payungku kugantungkan di stang si hitam, di area kotak berwarna merah jambu pada gambar di atas. Aku pikir tidak akan menjadi masalah. Beberapa hari terlewati dengan aman. Nah, hari itu mungkin karena aku juga kurang sehat, ditambah dengan menempuh perjalanan yang mendaki, aku mengendarai si hitam dengan beberapa kali membelokkan stang ke arah kiri dan ke kanan. Kulakukan seperti itu supaya aku tidak merasakan terlalu berat mengendarai si hitam saat mendaki.

Trik itu berhasil. Namun, ndilalah, entah kenapa, tiba-tiba ujung payungku terselip di antara ban depan dan palang bawah bagian depan si hitam (palang yang kugaris dengan tinta merah jambu). Stang si hitam yang saat itu sedang berada ke kiri tidak bisa diluruskan ke depan, bahkan dibelokkan ke kanan. Akhirnya, aku jatuh. Kedua kakiku ditindih oleh badan si hitam. Tidak bisa digerakkan. Rasanya sakit. Badanku terjerembab di atas aspal.

Beberapa orang Jepang yang melintas di hadapanku hanya cuek. Mungkin mereka juga malas menghentikan kendaraan mereka hanya untuk menolongku. Akhirnya, kucoba mengambil payungnya yang masih menggantung di stang. Beberapa kali mencoba baru berhasil. Setelah itu, barulah kakiku bisa kutarik dari bawah badan si hiam.

Sambil berkunang-kunang, kupapah si hitam hingga mencapai jalan yang agak landai. Karena sudah tidak kuat berjalan dan mengayuh sepeda, aku akhirnya duduk di pinggir trotoar. Untunglah aku membawa minuman. Aku segera minum. Menarik nafas. Menguatkan badan untuk mengayuh si hitam. Perjalanan menuju apartemen masih lumayan jauh. Ketika aku berada pada posisi ini, aku juga dilihatin oleh orang yang melintas di hadapanku. Mungkin, aku dianggap orang gila kali ya 😀 Nah, sejak kejadian itulah payungku kugantungkan di bawah tempat duduk, karena dengan posisi ini lebih aman, tidak menggangguku saat mengendarai si hitam.

Mungkin, teman-teman ada yang bertanya mengapa aku selalu membawa payung bersama si hitam? Di saat musim gugur dan musim dingin, kadang hujan bisa turun kapan saja di Jepang. Memang, aku bisa mengetahui prakiraan cuaca hari setiap hari. Biasanya akan selalu tepat. Sangat jarang meleset. Masalahnya, kadang, aku selalu lupa membawa payung, meskipun aku mengetahui kalau hari itu akan turun hujan saat pagi, siang atau sore hari. Jadilah, setiap hari selama musim gugur dan musim dingin ini, payung itu selalu bergandengan dengan si hitam. Menemaniku.

@home, Feb 2010

Iklan

34 pemikiran pada “Si Hitam, Temanku

  1. Ping balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  2. Ping balik: PR Pertemanan « Fety

  3. Ping balik: Ini dia 59 Kontestan Sepeda dalam Pesta Kemeriahan Bersepeda di Humberqu « Rachmadwidodo's Weblog

  4. Ping balik: Para Jawara Sepeda yang Hadir dalam Hamberqu « CITRO MADURA

  5. Ping balik: 59 Peserta Bersepeda Masuk Bui « Batavusqu

  6. Salam kenal

    Sepeda ku dikasih nama, namanya Yelli. Karena warnanya kuning tentunya. Saking terobsesi sama kuning si yelli, saya akhirnya menggunakan helm warna kuning juga. Biar match gitu loh…hehehe

    Sukses untuk lombanya.

  7. Ini si hitam di negeri Sakura ya…
    Si bungsu malah nyaris kegubet lehernya, karena pakai syal panjang yang masuk jeruji…sejak itu tak boleh lagi pakai syal panjang jika naik sepeda

  8. Ping balik: Kaget Ditunjuk Menjadi Juri « Leysbook's Blog

  9. Wah sepertinya asyik ya mbak ke kampus naik sepeda. Kalau dikampus saya mah pada naik sepeda juga tapi ada mesinnya. :D, dan rata-rata produk Jepang.
    Lucu ya mbak, orang jepang banyak yang naik sepeda, malah kita yang disuruh naik motor buatan mereka. 😀

    • Di Jepang juga ada sepeda motor, tapi sepertinya penduduk Jepang lebih nyaman pakai sepeda atau mobil sekalian. Mungkin karena, parkir tempat sepeda motor begitu jarang di Jepang.

  10. Salam Takzim
    Terima kasih ya mbak yang sudah berkenan mengikuti acara kemeriahan di Humberqu, Artikel ini langsung saya serahkan ke dewan juri ya Kang Yayat, untuk dinilai.
    Sekali lagi terima kasih atas partisipasinya
    Salam Takzim Humberqu

  11. sepeda, ciri khas Jepang kali ya.. aku disini jalan kaki, hihi. ada siy yg bawa sepeda, tp sepertinya lbh banyak mobil. wah..kasihan bgt dirimu fet..untung msh bisa melanjutkan perjalanan setelah jatuh.. btw, dirimu skrg semester brp? kpn pulang ke Indo? aku insyaAllah awal thn depan…mudah2an, dah kangen bgt pengin pulang 😉

  12. Aku juga ada kejadian yang hampir sama dengan yang dialami mbak Fety,
    Dulu aku pernah jas hujan nyerimpet di jeruji roda sewaktu hendak jemput anak dari sekolah.
    Untungnya ga sampai jatuh 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s