Spesialisasi itu Perlu

Hari ini, di acara pertemuan komunitas muslim di kota tempat tinggalku, aku bertemu dengan seorang muslimah dari Mesir. Dengan menggendong seorang bayi mungil, dia tersenyum kepadaku dan seorang teman Indonesia yang sedang bercakap-cakap. Dari perawakannya, memang menunjukkan negeri asalnya adalah negara-negara Arab. Dalam pandangan sekilas, aku menebak dia berada di Jepang karena mengikuti suaminya yang sedang menempuh pendidikan master atau doktor, seperti kebanyakan sister Arab lainnya.

“Suami saya orang Jepang.”, begitu ceritanya kemudian. Mematahkan asumsi saya.

Hmm, menarik nih, pikirku. Dia mengenakan penutup kepala. Rapi, seperti kebanyakan sister Arab lainnya.

Hmm, sister, maaf, saya mau nanya. Suami Anda membolehkan Anda mengenakan jilbab yah?“, sekedar ingin menuntaskan keingintahuanku. Beberapa perempuan Indonesia yang menikah dengan orang Jepang asli yang kutemui bercerita tentang ‘perjuangan’ mereka untuk menjadi seorang muslim di negeri sakura ini.

Maka, menemukan dia mengenakan jilbab rapi, aku ingin menuntaskan keingintahuanku.

Saya bertemu dengan suami setelah suami menjadi muslim. Suami saya pernah tinggal di Kairo sekitar 2 tahun.“, ujarnya dengan senyuman manis.

Aku paham dengan arti penjelasan itu. Suami yang adalah orang Jepang asli menjadi muslim bukan karena menikah dengannya namun karena menemukan jalan hidayah itu dengan sendirinya.

Kamu tahu“, katanya.

Saya bisa mengenakan jilbab rapi di sini. Saya menjadi penerjemah bahasa Arab, bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Saya bisa mengerjakan pekerjaan saya di rumah, tanpa ada yang bisa protes dengan penampilan saya. Saya punya spesialisasi, karena itu saya tidak membutuhkan bekerja di kombini dengan pakaian yang ‘seadanya’.“, lanjutnya lagi. Aura mukanya begitu menyiratkan kepercayaan dirinya. Aku salut.

Begitu juga dengan kalian. Sebagai muslimah kita butuh spesialisasi, sehingga kita bebas mengenakan pakaian muslimah kita.”, ujarnya tetap dengan senyuman manisnya.

Rasanya, saat menuliskan pengalaman tadi sore di blog ini, saya sepakat dengan pilihannya. Sebagai muslimah, kita memang butuh spesialisasi sehingga kita mempunyai posisi tawar dengan posisi kita sebagai seorang muslimah.

Terima kasih, sister. Hari ini saya belajar banyak hal dengan penjelasanmu.

@home, Jan 2010

Iklan

12 pemikiran pada “Spesialisasi itu Perlu

  1. waw…keren mbak…
    sil lagi bongkar2 tulisan mbak fety yang terdahulu nih..

    seneng mendengar pengalaman dan ilmu baru yang mbak fety dapatkan di jepang

  2. Hmm sebetulnya kita sebagai perempuan mesti punya spesialisasi, syukur kompetensi dan keahlian ini banyak, sehingga bisa digunakan dimana saja.
    Teman saya yang insinyur (cewek) menikah dengan dokter dan ditempatkan di daerah antah berantah. Di sana dia mengajar kelompok PKK menjahit, menyulam, breyen (bagaimana nulisnya ya), merenda , memasak berbagai penganan dll. Saat suaminya ambil spesialisasi di Yogya, dia meminta isterinya meneruskan kuliah S2…kemudian bekerja lagi…dan berbahagialah temanku itu sampai menduduki jabatan tinggi atas dorongan suaminya, padahal dia sudah siap hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga saja.

    Jadi, sebetulnya, yang diperlukan adalah kerja sama suami isteri…jika isteri bisa tetap punya keahlian dengan tetap di rumah, ini tentu yang paling baik…
    Ceritamu diatas sangat menarik…namun saya melihat, orang Jepang memang sangat menghargai orang lain. O, iya Fety, anakku sudah di Jepang sekarang, sedang ambil research program di TUT

    • kerjasama suami istri memang perlu, bu. Tapi, fety menulisnya dalam konteks lain, terkait dengan kehidupan di Jepang. Wah, kalau ibu main ke Jepang, kopdaran nih, bu:)

  3. Cita-cita saya sama seperti akhwat dari arab itu : bekerja dari rumah dengan internet. Betapa menyenangkan bekerja tidak meninggalkan anak dan istri. Semoga cita-cita saya ini cepet terwujud. Amin. Blog Fety sudah saya link di blog saya. Salam sukses.
    ALRIS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s