Hati yang Terkoyak

Pengen menuliskan sesuatu yang mengganjal hati beberapa hari terakhir ini.

*****

Di dalam kereta menuju ke arah kampus kami, bersama sebagian teman-teman lab, aku berdiri. Hari itu kami berada di rush hour, sepulang dari sebuah seminar. Masih kurang lebih sekitar satu jam hingga sampai di stasiun terdekat dengan kampus kami. Membentuk dua kelompok, aku dan seorang teman lab berkewarganegaraan China, berdiri sedikit jauh dari teman-teman yang lain. Sedari awal menaiki gerbong kereta itu, kami memang dipisahkan oleh para pekerja yang hendak menuju ke pangkuan anak istri mereka. Mereka memang sudah memenuhi gerbong itu.

Menggendong sebuah tas ransel yang cukup berat, tanganku juga berpegangan erat pada gantungan yang berada tepat di atas kepalaku. Di sebelahku berdiri seorang mahasiswa Phd labku. Dia berasal dari China. Di batas antara dua gerbong, berdiri teman-teman yang lain. Sambil mengobrol dengan tiga orang anak S1 yang kebetulan mendapatkan tempat duduk, kedua temanku yang berada di batas dua gerbong itu tetap tidak menghiraukan lingkungan sekitar. Asyik mengobrol.

“Pertama kali bertemu kamu, aku kaget”, ucapku pada mahasiswa China itu.

“Aku punya beberapa teman-teman China di kelas bahasa Jepang. Sepertinya, mereka tidak terlalu fasih menggunakan bahasa Inggris”, aku melanjutkan.

“Ah, itu pemahaman yang salah”, ujarnya.

Dan mulailah dia menguraikan sistem pendidikan di universitas China. Dia juga bercerita tentang seminar-seminar yang diselengarakan dalam bahasa Inggris di kampusnya.

“Kamu tahu?”, tanyanya

“Kebanyakan mahasiswa di kampusku akan melanjutkan sekolah di Tokyo University dan beberapa universitas di Eropa”, jelasnya lagi.

Aku diam. Mungkin dia benar. Wong sekarang, China hampir menguasai dunia. China sudah menjelajahi wilayah perdagangan. Bahkan hingga bumi pertiwiku.

“Hmm, mungkin, aku yang salah paham”, kataku.

Kami diam sesaat.

“Oh ya, setelah selesai S3, kamu akan kembali ke China”, tanyaku lagi

“Aku ingin melanjutkan postdoc ke Eropa. Tapi, orangtuaku meminta aku kembali ke China. Mereka pengen aku segera menikah”, ujarnya

Aku tahu, dia sudah mempunyai seorang gadis di negerinya. Seorang gadis cantik berkulit putih. Dia beruntung mendapatkan dokter cantik jelita itu. Di suatu pesta lab, dia pernah menunjukkan foto gadisnya padaku dan teman-teman yang lain.

“Loh, kan kamu bisa menikah saat S3”, jawabku

“Lalu hidup bersama di Jepang, sambil kamu menyelesaikan S3”, ujarku lagi melanjutkan.

“Aku juga begitu bersama suami. Kami hidup bersama di sini, juga sambil kuliah”, kataku memberi contoh

“Tapi, aku masih merasa enjoy dengan diriku sendiri. Aku belum ingin menikah”, jelasnya

Uppsss, aku diam mendengar penjelasan ini. Mungkin ini salah satu bagian yang disebut dengan egoisme laki-laki, dua frase yang aku dapatkandari suamiku, dari sekian kali diskusi panjang kami tentang laki-laki dan perempuan dalam sebuah kehidupan berumah tangga.

“Kalo orang Indonesia kan enak, setelah pulang ke negaranya bisa menikah lagi hingga empat kali. Di China pernikahan itu hanya bisa dilakukan satu kali saja”, dia melanjutkan lagi.

Wakss, aku diam. Seperti dejavu. Hampir sebulan yang lalu, seorang teman bercerita tentang hal yang sama kepadaku. Dia juga mendapat ‘tuduhan’ yang sama dari teman labnya, tentang ‘begitu enaknya laki-laki Indonesia yang bisa menikah hingga kali keempat’.

“Hmm, kamu tahu darimana tentang itu?”, tanyaku

“Dari si anu”, jawabnya sambil menyebut nama seorang laki-laki Indonesia temannya. Aku kenal laki-laki Indonesia itu.

“Kamu tahu?”, ujarku mencoba meredam emosi. Aku agak ‘panas’ mendengar penjelasannya.

“Memang dalam agamaku ada ketentuan itu, maksudku kalau seorang laki-laki bisa menikah hingga kali keempat. Tapi, untuk melakukan itu ada beberapa syarat yang musti dipenuhi. Dan syaratnya adalah berat”, jelasku.

“Coba deh kamu baca detail tentang agamaku dan negaraku. Jangan mengambil kesimpulan dulu”, lanjutku lagi.

“Gitu yah, tapi si anu menjelaskan seperti itu kepadaku”, belanya.

“Memangnya kapan si anu menjelaskannya kepadamu”, tanyaku

“Waktu pesta itu”, jawabnya sambil menyebutkan sebuah acara lab kami.

“Oh gitu. Tapi, aku tidak setuju jika kamu mengambil kesimpulan seperti itu. Tolong deh cari informasi dulu”, uraiku.

“Hmm, maafkan klo aku salah”, pintanya.

“Ok, lupakan”, jawabku.

Dan kami melanjutkan oborlan yang lain, hingga kereta kami sampai tujuan. Tapi, sepotong percakapan itu begitu membekas di memoriku.

Aku pikir dulu, tentang ‘kemudahan menikah hingga kali keempat itu’ adalah pemahaman orang di luar agama dan saudara sebangsaku. Aku pikir dulu, mereka menyimpulkan sendiri tentang hal itu. Tapi, ternyata, mungkin, suudara seiman dan sebangsaku juga turut berperan tentang pemikiran itu. Menjelaskan hanya sepotong, tanpa ingin berusaha berpanjang lebar menguraikan tentang “kemudahan itu”.

Masih banyak PR ternyata, setidaknya untuk diriku sendiri

@home, Jan 2010

16 thoughts on “Hati yang Terkoyak

  1. di Indonesia sendiri yang mayoritas muslim, poligami masih menjadi pro kontra, ada yang setuju ada yang tidak. Dan banyak juga umat Islam yang tidak tahu apa sih syarat-syarat melakukan poligami, sehingga mereka dengan gampang melakukannya

  2. neng fet,
    welcome to the reality ^^
    kalau lagi ngajar, sering banged nih dapet pertanyaan yang beginian gak cuma dari orang jepang, tapi juga dari orang LN lainnya.
    emang kesimpulannya adalah ‘sebelum mendakwahi non muslim, mending ngedakwahin muslimnya sendiri dulu kali ya….’
    ganbarou ne ^^

  3. Di sekolahpun sering kali saya membaca, salah satu mimpi siswa adalah mempunyai istri lebih dari satu. Mengapa hal ini bisa terjadi, karena ada tauladan dari lingkungan.

    Selamat malam semoga selalu bahagia.

  4. Setiap kali anakku sulung (laki-laki) ketemu orang dari LN, dan tahu dia dari Indonesia, komentar pertama mereka adalah..”Wahh enak dong bisa menikah 4 kali…”

    Fety, ini bukan salah mereka, kenyataannya banyak kaum lelaki dari negara kita yang berbuat semena-mena, dan bad news adalah berita yang layak disebarkan…sehingga yang segelintir itu menjadi pembenaran. Apalagi yang melakukan adalah orang yang terkenal dan cukup dihormati (tak perlu saya sebutkan namanya)…dan bukan orang yang tak berpendidikan.

    • ternyata bukan fety aja, yah, bu, yang menemukan hal ini. Yah, begitulah, bu. Hal ini memang ada aturannya dalam agama kita, bu. Harapannya, siapa yang mengangkat tema ini sebagai topik pembicaraan, bisa menjelaskan dengan gamblang.

    • sudah mencoba menjelaskan sedikit ttg hal itu. Waktu itu sedang dalam kereta jadi memang tidak secara gamblang menjelaskannya. Kalau suatu saat dia mengungkit lagi, sepertinya memang harus dijelaskan secara utuh kali yah:)

  5. OK. Menurut anda sendiri apa sih keuntungan dan enaknya punya istri sampai empat? Setelah anda susun daftar untung dan enaknya punya istri banyak, susun juga daftar rugi dan susahnya punya istri lebih dari satu. Anggap itu pendapat seorang perempuan Indonesia yang muslim. Tanyakan pula hal yang sama dengan yang laki-laki muslim/non muslim.
    Lalu anda tanyakan pada non muslim China/Korea atau kebangsaan lain yang non muslim, lalu bandingkan. Nanti juga anda dapat jawabannya sendiri, malah bisa dibuat semacam penelitian.

    NB. Menurut saya kenalan anda itu menjawab pertanyaan dengan bercanda. Mungkin saat ditanya mereka sedang ngobrol ngalor ngidul gak serius, hanya saja orang China di lab anda itu menganggapnya serius. Kalau anda merasa perlu menjelaskan dengan serius, silahkan saja jelaskan secara lengkap disertai dengan data survey yg saya anjurkan diatas. Mungkin lbh baik dibikin dalam bentuk essay beberapa lembar agar mereka mudah mengerti.

  6. Semakin banyak anda bergaul, tentu akan semakin mengerti betapa banyaknya ragam pola pikir non muslim soal boleh nikah 4 kali itu. Misalnya:
    – Ngapain punya 4 istri, 1 aja susah ngaturnya. mendingan punya aijin (simpanan) kalau cm urusan sex
    – Emangnya punya 4 istri nggak repot dari segi ekonomi dan bagi waktu?
    – Kalau istrinya lbh dari satu, bikin surat ke Shiyakusho (semacam Pemda) gimana? Khan cuma ada satu kolom buat nama pasangan (ingat, administrasi Jepang sangat teratur. sulit kawin dibawah tangan tanpa ketahuan pemerintah administratif. Jauh lbh gampang kumpul kebo di Jepang drpd punya istri lbh dari 1).
    – Orang Jpg lbh memandang menikah itu sbg bentuk tanggung jawab. Kalau gak bisa tanggung jawab, mendingan kumpul kebo. Karena itu sebelum menikah, banyak orang jepang (tak perduli lelaki/perempuan) berpikir panjang sebelum memutuskan. “Egoisme lelaki”??? Bagaimana menjelaskan egoisme wanita Jepang yg jaman sekarang banyak melajang hingga berumur lebih dari 30 tahun, karena tak ingin terikat dan karirnya terhambat perkawinan? :mrgreen:
    – Anda harus ingat, banyak orang China jaman sekarang tidak memandang sex sebagai hal tabu dan tidak boleh dilakukan diluar nikah.
    – tidak semua non muslim berpikir menikah lebih dari satu kali itu kemudahan, terutama yang menganut pola sex bebas.

    NB. Soal pemahaman yg salah ttg orang China (daratan atau RRC)
    Cuma 1 pendapatku tentang perilaku mereka:
    “jorok dan tak tahu aturan!”
    Soal gak bisa ngomong bahasa Inggris, itu bisa dipelajari. Tapi soal jorok dan tak tahu aturan, itu soal kebiasaan. 4 tahun tinggal di Jepang, dari puluhan (malah mungkin ratusan) orang China Mainland (RRC) yg kukenal, cuma ada 3 yang tidak jorok dan tahun aturan (itu juga semuanya mahasiswa PhD dan postdoc). Kukira cuma yg tinggal di Jepang seperti itu, taunya dinegaranya sendiri juga sama saja. China turunan yg kukenal baik dr Indonesia, Singapura, Canada, dll aja gak jorok koq. Coba baca ini deh:
    http://naked-traveler.com/2009/11/16/joroknya-cina/

    • udah baca link yang diberikan. Sempat bengong juga waktu baca link itu.
      Aku nulis ini tidak ada kaitan dengan pola pikir orang Jepang tentang pernikahan dan ‘kemudahan’ itu karena aku belum pernah ngobrol tentang hal itu dengan teman-teman dari Jepang. Kebetulan aku ngobrol ttg hal ini dengan teman China. Aku hanya kaget dia mendapatkan info itu dari saudara seiman dan sebangsaku. Cuma itu. Karena itu pula aku ingin menuliskannya di sini dengan sebuah harapan siapapun yang mengambil masalah pernikahan dan ‘kemudahan’ itu sebagai topik tolong dijelaskan secara gamblang duduk persoalannya. Jangan sepotong-potong sehingga orang awam tidak menganggap hal itu sebagai sebuah keumuman yang terjadi di bumi pertiwi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s