Hadiah Terbaik di Tanggal 29 Desember

Mestinya tanggal 29 Desember 2009 kemarin menjadi hari istimewa untukku dan mas. Sudah tergambar ada syukuran kecil dari kami berdua dan untuk kami berdua. Tentu tidak lupa berhiaskan kue cantik yang akan kami potong berdua, lalu juga dimakan berdua. Tapi, apa daya, semua tinggal rencana. Hari itu, sepulang menemani seorang teman ke dokter, sore hari saat mandi sore, ada bentol-bentol merah di seluruh tubuhku. Dan berakhir dengan badan yang panas di malam harinya. Esok harinya, 30 Desember 2009, bentol-bentol merah semakin banyak.

Segera memutuskan untuk ke dokter. Padahal, di Jepang sedang musim liburan, yang berarti libur juga untuk rumah sakit dan klinik. Setelah menelepon seorang teman untuk memastikan rumah sakit yang buka saat liburan, setelah menunggu mas menyelesaikan sholat jamak dzuhur dan asharnya, akhirnya kami meluncur ke rumah sakit itu.

Menunggu beberapa saat, dan karena dianggap penyakit menular oleh perawat yang melihat bentol-bentol merah di sekujur tubuhku, akhirnya diungsikan sendiri di pojok ruangan sambil menunggu sang dokter. Setelah didiagnosa oleh dokter, dugaanku dan mas benar, aku tertular cacar air. Owalah, kemarin merasa pede menemani seorang teman yang sedang tertular cacar air karena saat kecil aku sudah pernah terkena cacar air. Tapi, ternyata imunitas tubuhku sedang tidak berada dalam kondisi baik, dan akhirnya kalahlah aku dengan serang virus ini.

Cacar air alias chicken pox alias mizuboushou adalah penyakit anak-anak, sebenarnya. Entah kenapa, kali ini aku yang kena serangannya. Mungkin alarm kalau tubuhku memang sedang drop.

Batallah rencana untuk membuat kue, juga dengan utak-atik laptop. PR-PR bahasa Jepang juga belum tersentuh. Namun, tetap ada yang menghangatkan hati. Perhatian mas mengobati satu demi satu bentol-bentol merah itu di tubuhku dengan salep dari dokter adalah kado terbaik di milad kedua pernikahan kami. Mas juga membaluri bedak di seluruh tubuhku, supaya gatel-gatel di sekujur tubuh tidak membuat tanganku ‘gatel’ untuk menggaruknya dan akhirnya akan meninggalkan bekas bopeng di kulit. Apalagi dengan ketegasan mas mengingatkan waktu minum pilku serta mengajak tidur lebih awal supaya tubuhku lebih cepat pulih dan bisa bertahan melawan serangan virus cacar air kali ini. Aku memang anti meminum pil. Entah kenapa, pil-pil itu selalu nyangkut di tenggorokanku. Dan cara konyol adalah cara yang paling ampuh untuk membuat pil itu bisa masuk dengan sukses: meluluhkannya bersama air, dan baru meminumnya.

Dan juga dengan perhatian beberapa tetangga Indonesia yang tinggal di sekitar apartemen kami. Cara mereka memasukkan makanan ke dalam kotak pos kami, lalu mengsms atau menelepon bahwa mereka telah memasukkan makanan ke dalam kotak pos kami dan mohon untuk diambil, membuatku dan mas tertawa kecil bahagia dan bergumam: persaudaraan itu masih ada hingga di negeri sakura. Ada banyak cara bagi saudara kami untuk berbagi denganku yang sedang sakit karena aku tidak membolehkan mereka menjengukku di rumah. Bukan apa-apa, aku tidak ingin cacar air ini menulari mereka. Paling tidak, penyebarannya harus segera diputus, cukup sampai di rumah kami saja.

Kedatangan cacar air di rumah kami juga membuatku dan mas mesti bersih-bersih setiap hari, termasuk mengganti baju kami 2 hari sekali, mencucinya dan menyetrikanya. Juga dengan sarung bantal, handuk, dan lain-lain. Kami juga berinisiatif tidak menggunakan handuk dan selimut bersamaan seperti biasanya. Mas, yang sejak kecil belum pernah kena cacar air, juga mengenakan masker di rumah.

Itulah hadiah terbaik di milad pernikahan kami berdua: bersama-sama berperang dengan cacar air 🙂

@home, Janari 2010

Iklan

18 pemikiran pada “Hadiah Terbaik di Tanggal 29 Desember

  1. Doo telat mengucapkan selamat ultah pernikahan jeng Fety
    wahh… sabar sekali mas nya jeng Fety dalammerawat waktu sakit
    sudah sembuh kan sekarang?
    Semoga selalu rukun sentosa

  2. Setuju pendapat mbak Ratna. sakitpun mampu mendatangkan kebahagiaan tersendiri, tak mampu diukur dengan materi.

    Semoga selalu rukun dan bahagia. Semoga hari ini sudah sembuh. Amin.

  3. Selamat Ulang Tahun Pernikahan…semoga kebahagiaan dan kedamaian melingkupi Fety dan suami.
    Mudah2an sakit cacar airnya juga sudah sembuh…
    Terkadang sakit merupakan warning, bahwa tubuh kita harus istirahat…dan itu lebih menyenangkan karena warningnya masih penyakit yang bisa sembuh….sehingga masih bisa diobati, dan bukankah Fety malah merasakan kesabaran suami dan kebaikan hatinya dalam merawat Fety?

    Ini justru kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan uang.

  4. Kadang-kadang kita tak menyadari bahwa Allah sangat perhatian kepada kita. Di tengah kesibukan dan rutinitas yang kita lalui, serta rencana-rencana yang kita buat, ada masanya kalau jalan terbaiknya adalah ISTIRAHAT, misalnya melalui penyakit. Allah Mahatahu bahwa kita butuh istirahat kendati kita tidak setuju dengan hal itu. Yakinlah bahwa cacar air itu adalah HADIAH terbaik yang diberikan Allah kepada Fety. Semoga lekas sembuh dan siap menghadapi aktivitas yang nantinya bertambah berat … ^_^

  5. Subhanallah… hanya orang2 yang pandai bersyukur yang bisa melihat sisi positif dari setiap kejadian 🙂
    saya setuju bahwa cacar air mbak fety sepertinya menjadi jalan bagi mbak fety dan suami untuk saling memberi hadiah terbaik di milad pernikahan: perhatian dan kasih sayang kalian berdua.
    semoga Allah terus melekatkan cinta kalian berdua, dan memberi keberkahan untuk rumah tangga kalian yang manis 🙂
    semoga lekas sembuh dan pulih seperti sedia kala.
    teriring doa kami dari jakarta…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s