Blog dan Fasilitas Jaringan Sosial: Apakah yang Kita Cari?

Blog dan Fasilitas Jaringan Sosial; Secara Harfiah

Menurut ensiklopedi bahasa Inggris yang ada di websitenya thefreedictionary, kata blog adalah sebuah kata benda yang berarti a shared on-line journal where people can post diary entries about their personal experiences and hobbies; “postings on a blog are usually in chronological order” , atau sebuah jurnal harian online yang memuat tentang pengalaman pribadi atau hobi seseorang yang disusun berdasarkan urutan waktu. Secara singkat, blog berarti diari online yang dimiliki oleh seseorang.

Di Indonesia, blog mulai dikenal sekitar tahun 2000. Ada aneka ragam bentuk postingan blog. Mulai dari blog yang benar-benar merupakan diari online sang pemilik, sampai jenis blog yang memuat tentang pengetahuan tertentu. Bahasa yang digunakan dalam postingan setiap blog juga bermacam-macam. Ada yang menggunakan bahasa yang benar-benar ilmiah, sampai pengunaan bahasa sehari-haripun menjadi hal yang biasa dalam postingan sebuah blog.

Sekitar awal tahun 2009, mulai dikenal sebuah fasilitas jaringan sosial di dunia maya, facebook. Sebelum facebook unjuk gigi, sudah ada banyak fasilitas jaringan sosial yang mewabah di dunia maya. Sebut saja friendster, plurk, twitter dan lain sebagainya. Jika blog biasanya memuat tulisan dengan rangkaian kalimat yang lumayan panjang, biasanya lebih dari satu paragraf, maka fasilitas jaringan sosial ini lebih mengutamakan keberadaan tulisan yang pendek. Status, istilahnya. Tanpa harus menggunakan banyak waktu untuk membaca postingan seorang teman, kita akan mengetahui apa yang sedang dilakukannya saat itu. Beberapa fasilitas jaringan sosial ini bahkan juga bisa dijadikan sebagai widget tambahan pada sebuah blog, misalnya plurk atau twitter.

Blog dan Fasilitas Jaringan Sosial: Pilih yang Mana?

Bersosialisasi dengan individu yang lain adalah sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang individu tanpa bantuan dari pihak lain. Maka, membangun pertemanan di dunia maya adalah hal yang lumrah.

Media apa yang akan kita pilih untuk membangun pertemanan di dunia maya, pada dasarnya kitalah yang menjadi penentu kebijakan itu. Dengan sebuah catatan: media itu memberikan kontribusi positif kepada diri kita sebagai seorang manusia, dan jika memungkinkan ada juga kontribusi positif yang kita sumbangkan untuk masyarakat.

Berpegang pada koridor ini, kita bisa memilih media apa yang paling tepat untuk kita. Jangan sampai keberadaan blog atau fasilitas jaringan sosial ini justru menjadikan diri kita sebagai individu yang mempunyai segudang sifat negatif.

Internet adalah dunia maya yang ‘keras’. Maka, sangat memungkinkan sekali sebuah ide atau tulisan orang lain dijiplak dan diakui sebagai milik seseorang. Jika kita melakukan hal ini, semata untuk memenuhi target postingan dan menaikkan rating blog kita, maka yakinlah blog telah menjadikan kita sebagai individu yang ‘rakus dan tamak’. Mengakui karya orang lain sebagai karya kita. Maka, kejujuran adalah kunci utama dalam hal ini. Tidak begitu sulit untuk berbuat jujur di dunia yang ‘keras’ itu; cukup mencantumkan atau asal sumber tulisan jika memang tulisan itu bukanlah asli tulisan kita. Mudah, bukan?

Dunia maya menjadi dunia yang lebih ‘keras’ lagi jika kita menjadikan fasilitas-fasilitas jaringan sosial itu sebagai wadah untuk unjuk dada. Ini loh gue , jika kita berucap dalam bahasa betawi. Maka, melakukan update status adalah prioritas paling utama dalam hidup kita, bahkan mungkin melebihi kebutuhan untuk makan dan minum. Begitu ruginya kita sebagai manusia jika kita menjadikan hal ini sebagai gaya hidup. Masih ada kegiatan yang lebih bermanfaat bukan?

Blog dan Fasilitas Jaringan Sosial; Bagi Saya

Saya mulai melakukan aktivitas ngeblog sejak Maret 2008, tiga bulan setelah saya menikah, untuk memenuhi janji yang telah terucapkan dengan seorang teman. Setelah tulisan saya sering dipublikasikan oleh beberapa media online sejak 2006, teman-teman mulai menyarankan saya untuk membuat blog. Sebenarnya ada keinginan untuk itu, sekedar untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan yang beruntung lolos dari tangan editor beberapa media online.

Namun, hasrat itu akhirnya urung saya laksanakan. Beberapa kali saya diajak menikah oleh orang yang membaca tulisan-tulisan saya yang dimuat di media online tersebut. Pendekatan yang mereka lakukan cukup beragam; mengajak langsung untuk menikah atau mengajak korespondensi yang akhirnya berujung pada rayuan gombal. Saya menjadi takut saat itu. Sempat juga terbersit untuk berhenti menulis karena ketakutan itu. Tapi, akhirnya saya memilih saran seorang teman untuk menjadi seorang kafilah yang tetap berlalu meskipun anjing menggonggong keras. Tetap menulis, namun urung membuat sebuah blog. Itu yang saya lakukan.

Ketika ditanya seorang teman dekat, jawaban saya saat itu adalah saya akan membuat blog jika saya sudah menikah. Dan, sebuah niat lain terpatri di hati sejak saat itu: siapapun yang saya pilih menjadi pendamping hidup saya suatu saat nanti, dia bukanlah orang yang pertama kali mengetahui saya dari tulisan-tulisan saya yang dimuat oleh media-media online.

Doa itupun terkabul. Saya bertemu dengan suami yang mengenal saya pertama kali bukan melalui tulisan-tulisan saya. Itu melegakan hati saya. Maka, setelah riweh-riweh pengantin baru usai, mulailah saya menunaikan janji saya: membuat sebuah blog.

Tentang fasilitas jaringan sosial saya juga punya cerita tersendiri. Account pertama saya adalah di friendster. Account itu saya buat sejak masih berstatus sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Pelajar, Yogyakarta. Karena saya mempunyai kecerdasan gambar dan ruang yang belum maksimal, seingat saya hanya ada tiga foto yang saya upload di account saya di friendster. Bagi saya, menceritakan sesuatu melalui tulisan lebih mudah dan melegakan hati dibandingkan dengan saya harus mengambil sebuah foto untuk mengabadikan sebuah peristiwa.

Bagaimana dengan account di fasilitas jaringan sosial yang lain? Entahlah, saya belum berminat hingga kini. Saya mengabaikan plurk dan twitter. Saya juga menghapus undangan untuk bergabung di facebook ataupun netlog yang mampir di inbox email saya. Ketika beberapa teman bertanya mengapa saya tidak mempunyai account di facebook, jawaban saya adalah sama untuk mereka: karena saya belum merasa butuh dengan fasilitas-fasilitas tersebut.

Beberapa teman heran dengan jawaban saya. Mungkin juga menganggap saya orang yang tidak mengikuti trend. Tapi, memang benar, saya belum merasa membutuhkan keberadaan fasilitas-fasiliats jaringan sosial itu menjadi bagian hidup saya. Kalaupun saya dianggap orang udik dengan pilihan saya, biarlah. Saya tidak juga tidak mau berpusing-pusing ria dengan tanggapan orang. Karena bagi saya, saya adalah saya. Itu pilihan saya saat ini.

Entahlah kalau suatu saat pikiran saya berubah, dan bersegera membuat account di sebuah fasilitas jaringan sosial. Who knows?

@ home, December 2009

Iklan

10 pemikiran pada “Blog dan Fasilitas Jaringan Sosial: Apakah yang Kita Cari?

  1. wah saya terlalu cepat lahir ya sehingga nggak bisa melamar wanita secantik Fety ha ha ha.
    Saya juga di FS lalu FB baru ngeblog. Ngeblog lebih enak karena kaya pengetahuan lho.
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Setiap jaringan di dunia maya mempunyai keuntungan masing-masing. Saya membuat blog awalnya untuk mengisi waktu luang setelah kesibukan mereda. Dan inilah awalnya saya mulai mencoba menulis dengan bahasa sehari-hari, agak kikuk awalnya, namun adanya tanggapan positif dan tiap kali saya lama tak posting tulisan baru, teman-teman blogger , yang sebagian besar hanya kenal di dunia maya, selalu mendorong untuk terus menulis. Akhirnya menulis di blog menjadi agak rutin, terutama berbagi jika ada hal-hal yang saya anggap dapat dibagi.

    FB? Saya ikut FB gara-gara di dorong mantan Direkturku…dan akhirnya saya gabung di FB. Dengan ikut di FB membuat ketemu teman lama, bisa melihat kegiatan anak-anak (monitor anak)…namun saya tetap pemilih. Sebagaimana halnya komentar di blog, saya tak segan men delete atau meng edit jika komentarnya kurang etis. Demikian juga di FB saya hanya add yang saya kenal orangnya, atau minimal kenal dari tulisan nya di blog. Jadi banyak yang saya diamkan saja. Ada juga teman, yang suka menulis aneh-aneh, mengomentari berbagai hal dengan komentar yang menurutku kurang pantas..akhirnya teman seperti ini saya deletedari list.

    Pada akhirnya, walau dunia maya tetap merupakan hal yang tak terbatas, kita tetap punya segmentasi dalam memilih mana blog yang sering kita kunjungi, dan teman seperti apa yang kita inginkan gabung di FB. Dan…jujur aja, saya jarang lihat FB, paling sering sehari sekali…itupun kalau tak keluar kota.

  3. sedikit berbagi tentang facebook.

    jika sebagian rekan mungkin hanya meng-add teman-teman yg dikenalnya saja, saya (pada awalnya) meng-add semua orang. saat ini yg tercatat di kontak ada 4975 orang. oya, maksimal kontak di facebook 5000-an. namun seiring aktivitas “ngeblog” saya di facebook semakin rutin sejak bbrp bulan lalu (saat ini sdh 43 posting di “note”), saya jadi selektif memilih teman.

    kontak-kontak yg tidak “bermanfaat”, di antaranya mereka yg saat di-tag tak memberikan respon sama sekali atau mereka yang saya tak bisa mengambil “manfaat” darinya (tak pernah menulis di note dan hanya ceplas-ceplos dangkal tak bermutu di wall-nya), bertahap saya remove tanpa ampun lagi. begitulah.

    kebetulan, saat ini saya sedang coba kembali menulis fiksi, maka saya pun meng-add rekan2 yang memang suka menulis fiksi dan sebagian karya mereka sdh bertebaran di media massa, baik lokal maupun nasional untuk mengkritisi cerpen2 saya.

    tentang kritis mengkritisi ini, jujur sejujur-jujurnya, saya lebih suka dinamika di facebook. bukti riil-nya, jika di blog mp (multiply) saya komen maksimal tak pernah lebih dari 60 komen dan itu pun hanya utk bbrp postingan saja. namun di facebook, semua note saya (kecuali satu posting dari total 43 posting) rata-rata dikomentari 30-40 kali, bbrp kali di atas 50 dan 60 komen dari orang yang berbeda. ini sehat untuk sebuah karya, saya kira. sementara pada saat yang bersamaan, blog2 di mp (studi kasus di mp) semakin sepi dari aktivitas menulis maupun komentar.

    semoga sedikit memberikan gambaran ttg aktivitas ber-facebook ria yang lebih dari sekadar, maaf, berceplas-ceplos ria. 🙂

    • bagi saya, sesuatu dilakukan berdasarkan asas kemanfaatan yang bisa kita peroleh. jika memang setta bisa mendapatkan manfaat dengan bergabung di fesbuk, misalnya lebih bisa meningkatkan produktivitas untuk menulis, mungkin itu adalah alasan mengapa harus bergabung di fesbuk. sampai saat ini, secara pribadi saya merasa belum butuh dengan keberadaan fesbuk, mungkin juga karena waktunya belum ada 🙂 entah suatu saat nanti.

  4. yap mbak, buat saya, lebih asik nge-blog 🙂
    dulu sih tujuannya supaya temen2 dan saudara yang jauh (tinggalnya) tetep bisa tau kabar saya (duh… geer amat ya).
    Alhamdulillah, ternyata, memang demikian adanya 🙂

    kalo fesbuk, saya melihatnya lebih sebagai sarana untuk silaturahim.
    karena nggak banyak temen saya yang tertarik untuk jadi blogger, dan mereka lebih suka yang interaktif model fesbuk.
    cuma, fesbukan lama2 juga bosyen, hehehe 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s