Idul Adha di Negeri Sakura

Idul Adha 1430 H kali ini jatuh diakhir musim gugur, menjelang musim dingin tiba. Tentu saja udara di luar rumah mulai dingin. Ini Idul Adha yang kedua yang kujalani di Jepang, dan Idul Adha yang kesekian di tanah rantau. Sejak tahun 2000, aku sudah tidak merasakan Idul Adha bersama keluarga tercinta di tanah kelahiran. Tapi ada yang beda kali ini, Idul Adha kali ini adalah Idul Adha pertamaku bersama suami. Jauh pula dari negeri kelahiran kami.

Sama seperti Idul Fitri 1430 H di tahun ini, Idul Adha kali ini pun, di mushala dekat apartemen rumah kami hanya diselenggarakan untuk kaum laki-laki saja. Kalau di Hari Raya Idul Fitri, aku dan suami memilih sholat hari raya di masjid Pakistan yang berjarak kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kereta dari stasiun terdekat dengan rumah ini, di hari raya qurban hanya suami yang menunaikan sholat sunah hari raya.

Idul Fitri kemarin jatuh di hari libur, sehingga sangat memungkinkan untuk berpergian agak jauh. Namun, Idul Adha kali ini jatuh di hari biasa, dengan sebuah agenda lain untukku di kampus, presentasi tentang review sebuah jurnal. Memang tidak masalah bagi suami, karena di hari-hari biasa beliau berada di labnya di Shimoda, Shizuoka, maka menjelang Idul Adha tiba beliau berpamitan dengan senseinya untuk pulang ke Chiba -tempat kami tinggal- selama kurang lebih sepuluh hari.

Saat suami menunaikan sholat sunah hari raya, aku menyiapkan menu sarapan  hari raya Idul Adha kami. Tidak ada yang istimewa. Menu sarapan kami berupa tumis bihun dan wortel, sambal telur plus terong serta gulai santan gurita, yang sebenarnya adalah menu hari kemarin. Yang menjadi berbeda adalah hari ini aku memilih agak siang pergi ke kampus, dan menambahkan dua gelas sirup marjan merah untukku dan suami. Bagiku, hari raya Idul Adha tetap harus dihadirkan secara istimewa di rumah kami. Cukuplah suara takbir hanya hadir dari lantunanku bersama suami, dan siaran langsung shalat hari raya idul adha dari sebuah stasiun swasta di Indonesia yang kami tonton melalui jaringan internet. Namun kebersamaan merayakan hari raya Idul Adha tetap harus dihadirkan, paling tidak bagi kami berdua sebagai suami istri.

Biasanya, kami tidak pernah menikmati sarapan dengan menu lengkap di hari-hari biasa. Cukup segelas susu dan setangkup roti panggang. Tapi, khusus hari raya Idul Adha mesti ada yang berbeda, karena itulah kami memilih sarapan dengan menu lengkap, plus segelas syrup marjan dan ditemani oleh siaran langsung sholat hari raya Idul Adha dari sebuah stasiun tv swasta tanah air. Cukup terasa suasana hari raya qurban kami, mesti jauh dari keluarga besar tercinta.

@ home, November 2009

4 thoughts on “Idul Adha di Negeri Sakura

  1. Idul Fitri dan Idul Adha dinegara lain memang beda ya yank.
    Saya pernah Idul Fitri di Forth HuaChuca-Arizona, sholat Id hanya bertiga dikamar,habis itu langsungn ngacir ke kelas karena ada ujian.
    Idul Adha pernah juga di India-ada dosen yang memberi tumpangan,lumayan.
    Kami nggak mbuat kue atau opor waktu di India-apalagi waktu di Arizona-wong cowok semua.
    Salam hangat sehangat roti bakar dari Surabaya

  2. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,
    Tanpa terasa, untuk sekali lagi, Idul Adha telah berlalu dari hadapan kita.
    Idul Adha…
    Simbol pengorbanan ikhlas dari seseorang untuk sesuatu yang dicintainya.
    Gema perjuangan baru setelah menjalani kita simulasi perjuangan di bulan Ramadhan.
    Sebuah momentum awal, untuk kesekian kalinya, guna mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

    Sekarang, mari kita renungkan sejenak,
    Sudahkah kita mengorbankan ego diri kita untuk memperbaiki keadaan umat?
    Sudahkah kita mengorbankan kepentingan dunia kita untuk memenuhi kebutuhan akhirat?
    Sudahkah kita mengorbankan kehidupan maksiat kita untuk kembali memperjuangkan syariat?
    Sudahkah kita mengorbankan sebagian rizqi yang telah diberikan kepada kita untuk bersyukur atas segala nikmat?

    Ingat saudaraku,
    maut dapat menjemput kita dimanapun dan kapanpun,
    seperti kita lihat telah dialami oleh hewan-hewan ternak ketika Idul Adha.
    Untuk itu, apabila kita belum mewujudkan rasa syukur kita,
    MARI KITA “BERKURBAN” SESUAI DENGAN KEMAMPUAN KITA SEKARANG JUGA!

    Ketahuilah saudaraku,
    The man who seeks the world
    will get nothing except fading shadows.
    But…
    The man who walks the path of heaven
    will rule over everything.
    yang intinya, gunakanlah duniamu untuk akhiratmu!

    Selamat hari raya Idul adha.
    Semoga Allah memberikan keikhlasan dan kekuatan kepada kita untuk berkurban.
    Dan semoga setiap pengorbanan yang kita lakukan dibalas dengan sebaik-baiknya.

    Mohon maaf jika ada perkataan yang salah atau kurang berkenan.
    Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya, jazakallah.

    Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    http://eramuslim.com/nasihat-ulama/ustadz-fathuddin-ja-far-meneladani-konsep-pembangunan-nabi-ibrahim.htm
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/24/tunduk-dan-berkorban-demi-tegaknya-syariah-dan-khilafah/
    http://muslim.or.id/

    _____________________________________
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

  3. Fety, suami udah di jepang ya? Asyiknya….walau tak sekota, tapi udah satu negara ya…

    fety: iya, bu. alhamdulillah mas udah di jepang. iya, bu. bersyukur memang melegakan hati🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s