Lebaran Kali Ini

Cerita Lebaran 1430 H, teruntuk teman-teman di milis Sekolah Kehidupan

#####
CIMG0375aSeperti apakah Lebaranmu kali ini, kawan? Adakah yang istimewa di hari spesial setahun sekali ini? Bagiku, Lebaran kali ini begitu istimewa. Ada riak-riak kegembiraan menyelusup dalam ruang hati. Pernahkah engkau merasakan sejuknya setetes air yang membasahi tenggrorokan kala berbuka puasa? Atau saat aliran-aliran putih bening itu engkau reguk saat engkau sangat kehausan kala panas matahari siang membakar bumi? Atau juga saat pertama kali butiran-butiran hujan membasahi bumi yang kering setelah musim panas berlalu? Perasaan itulah yang kurasakan saat menyambut Lebaran kali ini.

Bahagia.

Maka, saat gema takbir memenuhi apartemen kecil kami dari sebuah laptop hitam mungil yang selalu berada di ruang keluarga, kebahagiaan itu semakin berlipat. Juga saat aku bersama suami yang memandu mengumandangkan tasbih, tahmid dan takbir kepada Sang Khalik sehabis sholat Isya dan Subuh berjamaah, bahagia itu mencapai puncaknya.

Engkau mungkin akan bertanya, bukankah sebuah bahagia mempunyai alasan untuk hadir?

Ada, teman. Ini untukku.

Aku yang sejak dulu sering merasakan berlebaran sendiri di tanah rantau, sudah lama tidak merasakan hadirnya airmata saat gema takbir itu bergema di seluruh penjuru negeri Indonesia. Bahkan sejak pertama aku berlebaran jauh dari keluarga tercinta, ketika aku memilih melanjutkan sekolah di Yogyakarta. Ketiadaan dana untuk pulang ke tanah kelahiranlah yang menjadi alasan kuat untuk tetap berlebaran di Yogyakarta saat itu. Tapi, tidak dengan Lebaran 1429 H, entah mengapa, di kedua pelupuk mata aliran bening itu hadir. Deras sekali. Bahkan sejak Ramadhan 1429 H memulai hari-harinya.

Apakah seperti ini rasanya ketiadaaan seseorang yang terkasih di samping kita, saat hari istimewa itu hadir? Itu pikirku saat itu. Aku tergugu bersamaan dengan gema takbir Idul Fitri 1429 H. Di setiap kesempatan berada di beberapa masjid di negeri sakura, aku berdoa kepada Allah, semoga ada kesempatan bersama suami untuk bisa menunaikan sholat berjamaah di setiap masjid yang kukunjungi itu.

Maka, Lebaran 1430 H adalah puncak bahagia itu. Merayakan hari spesial ini bersama suami, hanya berdua, di apartemen mungil kami.

Dan inilah cerita Lebaran pertamaku bersama suami, di negeri sakura.

Seusai menunaikan sholat Subuh berjamaah di hari bahagia itu, aku mulai mempersiapkan soto ayam, menu Lebaran kami. Kusiapkan juga sewadah soto, untuk buah tangan, karena sehabis sholat hari raya, kami akan bersilahturahim ke rumah seorang teman.

Pukul 7.15, bersama dengan beberapa keluarga, kami berjanji untuk bertemu di stasiun dekat kampusku. Udara cukup dingin saat itu. Hampir terlambat dari waktu janjian saat aku dan suami meninggalkan apartemen kami, maka mengayuh sepeda kami secepat mungkin, diteruskan dengan berlari bak seorang sprinter dari tempat parkiran sepeda menuju platform stasiun adalah solusi terbaik untuk tepat waktu bertemu dengan teman-teman.

Kami akan sholat Idul Fitri di masjid Pakistan yang letaknya kira-kira setengah jam menggunakan kereta dari stasiun terdekat dengan kampusku. Namanya Hira Mosque. Komunitas muslim di dekat tempat kami tinggal hanya menyelenggarakan sholat Idul Fitri untuk kaum Adam saja. Keterbatasan luas mushala yang terletak di dekat kampusku itulah yang menjadi penyebabnya.

Tahun lalu, aku sholat Idul Fitri di Sekolah Rakyat Indonesia Tokyo (SRIT), yang terletak di dekat kedutaan Indonesia di Tokyo. Saat itu, suami masih berada di Indonesia. Awalnya, Lebaran tahun inipun, aku dan suami akan sholat Idul Fitri di tempat yang sama. Apalagi, kegiatan halal bi halal, tentu dengan segudang jenis makanan Indonesia yang disajikan di halaman rumah duta besar Indonesia, sehabis sholat Idul Fitri juga menarik minatku bersama suami untuk hadir di sana.

Namun, saat seorang teman mengajak sholat di masjid Pakistan, timbullah ide, ah mengapa tidak mencoba berbaur dengan komunitas muslim yang lain. Tentu ada banyak pelajaran-pelajaran yang bisa dijumput dari mereka.

Aku dan suami juga mesti ke Tokyo di Lebaran kedua, keesokan harinya. Ada sebuah perjamuan kecil ala kami, mahasiswa Indonesia yang menerima beasiswa INPEX (Indonesia Petroleum Exploration), untuk Nakamura-san dan Andoh-san, orang-orang yang sudah membantu kami dengan segala tetek bengek tentang kehidupan di Jepang sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di negeri sakura ini. Tahun ini beliau berdua pensiun dari INPEX.

Kami ingin memberikan sebuah perpisahan yang berkesan untuk beliau berdua. Aku dan teman-temanku memilih menjamu beliau berdua di sebuah restoran Indonesia yang terletak di Tokyo. Perjamuan ini sengaja dipilih saat tibanya Lebaran tahun ini. Kami ingin membagi kebahagiaan Idul Fitri kami, bersama beliau berdua.

Walaupun beliau berdua memang ditugaskan oleh INPEX untuk membantuku dan tiga orang mahasiswa Indonesia lainnya, tapi tetap saja wajah ketulusan hadir di wajah mereka, saat kami menemukan begitu banyak perbedaan budaya antara Indonesia dan Jepang. Maka, mendengar nasehat dan saran dari beliau berdua adalah pondasi mengapa hingga ini aku bisa bersosialisasi dengan masyarakat Jepang.

Karena itulah saat hadir lagi sebuah pertanyaan, mengapa kami tidak memilih tempat yang lain saja untuk sholat Idul Fitri berjamaah kali ini? Maka, akhirnya, aku dan suami sepakat untuk mengiyakan ajakan temanku itu.

Ada sebuah perasaan terkejut saat beberapa langkah lagi kami menginjakkan kaki di masjid itu. Suara takbir menggema, terdengar sampai di luar masjid. Juga dengan sekelompok muslim yang sedang bertasbih, bertahmid dan bertakbir di taman di depan masjid. Terharu melihat suasana itu.

Aku teringat akan suasana Lebaran di kampung halaman. Persis. Di tanah kelahiranku, jika tidak hujan, sholat Idul Fitri juga diselenggarakan di lapangan.

Bangunan Hira Mosque mirip seperti ruko, bertingkat dua. Yang menjadi pembeda adalah adanya menara yang menjulang di atas bangunan tingkat dua. Menara itu adalah penanda kalau bangunan tersubut adalah masjid, tempat beribadah umat Islam. Di hari-hari biasa, lantai satu diperuntukkan bagi kaum muslimah sedangkan bapak-bapak menempati bangunan lantai dua.

Di sekitar area masjid Pakistan itu, ternyata komunitas muslim sudah mendapat tempat di hati masyarakat Jepang sekitar masjid. Khusus hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, mereka bisa memperdengarkan suara takbir agak lebih keras. Saudara-saudara yang muslim juga bisa menunaikan sholat jamaah hari raya di taman di depan masjid, sehingga area di dalam masjid yang bertingkat dua itu bisa seluruhnya diperuntukkan untuk kaum muslimah dan anak-anak.

Memang ada sedikit perbedaan saat menunaikan sholat Idul Fitri kali ini. Otakku, yang sudah terbiasa dengan tata cara sholat Idul Fitri di Indonesia yang menganut mazhab Imam Syafi’i, cukup terkejut ketika di rakaat kedua ternyata ucapan tasbih, tahmid dan takbir dilakukan setelah membaca surat Al-Fathihah dan surat lainnya.

Ternyata, cara itu memang sudah disosialisasikan sebelum sholat Idul Fitri dimulai. Juga ada khutbah dalam bahasa Inggris sebelum sholat Idul Fitri dimulai. Karena khutbah utama, setelah sholat Idul Fitri, akan disampaikan dalam bahasa Arab.

Itu cerita suamiku, saat perjalanan pulang ketika langkah-langkah kaki kami mulai meninggalkan teras masjid itu. Suara ibu-ibu yang bergembira dan tawa riang anak-anak yang berlarian di lantai dua masjid Pakistan itu ternyata mengalahkan suara apapun dari pengeras suara yang tersambung dari mikrofon yang terletak di taman di depan masjid, termasuk pengumuman tata cara shalat dan khutbah Idul Fitri. Maka, wajar mengapa aku tidak mendengar pengumuman itu juga khutbah hari raya Idul Fitri kali ini.

Itulah Islam. Ada banyak perbedaan. Tapi, bukankah perbedaan adalah rahmat? Dan saudara-saudara muslim Pakistan tidak menganut mazhab Imam Syafi’i untuk tata cara ibadah mereka. Maka, hari itu, aku menemukan sebuah rahmat yang lain di bumi sakura. Begitu indahnya perbedaan. Tidak harus disikapi dengan perang mulut, bahkan perang senjata.

Setelah shalat hari raya usai, aku bersalam-salaman dengan saudara semuslimah dari Pakistan. Ternyata juga ada muslimah Jepang. Terlihat juga muslimah dari negara-negara Asia dan Timur Tengah lainnya. Nampak juga muslimah dari Afrika. Ciri fisik berupa wajah dan mata cukup sebagai penanda kekhasan asal negara masing-masing saudari-saudariku. Sambil bersalaman, kami tersenyum. Aku merasakan ukhuwah itu, meskipun kami tidak saling mengetahui nama. Tapi, senyum adalah pembahagia jiwa. Bukankah senyum juga adalah ungkapan hati? Maka, cukuplah senyum yang mewakili perasaan hati kami masing-masing; bahwa kami semua bahagia dengan pertemuan sesaat di hari yang mulia itu.

Lebaran kali ini, sehabis sholat Idul Fitri, bersama teman-teman, kami sempatkan mencicipi nasi kare India di sebuah restoran India di dekat masjid Pakistan. Inilah Lebaran ala kami. Tidak ada opor ayam, ketupat sayur atau lontong sayur, kare India pun tidak mengapa.

Rasanya? Hmm, enak dan sangat mengenyangkan perut. Maklumlah, porsi nasi kare India selalu lebih banyak dari kapasitas perutku. Tapi, tidak mengapa, paling tidak tetap ada makanan enak yang menyentuh perutku dan suami di hari pertama ketika kami tidak berpuasa Ramadhan lagi di tahun ini. Lagipula, berlarian dan bermain perosotan bersama dua orang balita, anak tercinta dari dua orang temanku, cukup menguras energi. Aku dan teman-temanku memang harus menunggu sekitar satu jam, sebelum jam buka restoran India itu. Akhirnya, kami bermain di sebuah taman yang terletak di samping restoran India itu.

Ketika teman-temanku menghabiskan hari pertama Lebaran 1430 H itu dengan mengunjungi sebuah objek wisata di dekat masjid Pakistan, aku dan suami memisahkan diri. Ada janji kunjungan yang harus dipenuhi.

Maka, kegembiraan hari pertama Idul Fitri 1430 H kali ini ditutup dengan kegembiraan bertemu dengan teman-teman Indonesia lainnya. Berlebaran saat menjelang sore di rumah sang teman, benar-benar menemukan lebaran khas ala Indonesia. Mulai dari bahasa, percakapan, gurauan dan makanan. Semuanya khas Indonesia. Temanku yang bersuamikan orang Jepang menjamu kami, teman-teman Indonesianya, dengan ala Indonesia. Begitu banyak makanan Indonesia yang tersaji.

Setelah menunaikan sholat Ashar berjamaah di rumah temanku, aku dan suami berpamitan pulang. Temanku membekali kami dengan seplastik besar buah tangan sajian makanan Indonesia. Untuk bekal malamku bersama suami, katanya. Tentu tidak kutolak. Walaupun perutku dan suami sudah sangat kenyang. Tapi, bukankah masih bisa dimakan esok harinya? Kubawa pulang buah tangan itu dengan riang gembira. Perut yang kenyang dengan badan yang cukup lelah membuat mata kami mulai mengantuk saat kaki menapakkan kaki di bis yang akan membawa kami ke stasiun terdekat dari rumah temanku. Maka, terbayanglah akan bisa tidur pulas di kereta di sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen sederhana kami. Bagiku, waktu perjalanan pulang sekitar satu jam itu cukup menebus rasa kantukku.

Ah, indahnya Idul Fitri. Semoga Idul Fitriku di tahun depan akan lebih indah dan bermakna dibandingkan tahun ini. Rasanya tidak sabar untuk menunggu hadirnya Ramadhan di tahun depan. Bukankah sehabis Ramadhan akan kujumpai lagi Idul Fitri itu? InsyaAllah.

@lab, autumn, November 2009

One thought on “Lebaran Kali Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s