Berteman dengan Linux; Bersahabat dengan Google

#############

Prolog :

Kecintaanku pada linux, terutama Ubuntu akhir-akhir ini membuatku menuliskan sekelumit pengalamanku tentang linux. Ku buat tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009. Semoga ada manfaat dari tulisan ini.

##############

Satu tahun setengah berteman dengan linux, membuatku mengambil kesimpulan sementara bahwa linux dan memasak itu mempunyai hubungan yang sangat dekat. Bagiku, linux dan memasak memang dua hal yang istimewa dalam kurun waktu satu tahun setengah ini. Berawal dari titik nol yang sama, kemudian keduanya tumbuh menjadi garis linear lurus yang membentuk sudut empat puluh lima derajat terhadap sumbu x dan sumbu y.

Titik nol itu adalah sebuah kata bernama pernikahan. Titik nol ini pula yang menjadikan pondasi yang cukup kuat bagi keduanya untuk turus bergerak linear ke arah sumbu positif. Sedangkan status sebagai istri dan mahasiswa master di sebuah perguruan tinggi di negeri sakura adalah kerangka beton yang menguatkan garis linear itu sehingga pertumbuhannya menuju sumbu positif, dan bukan ke arah sumbu negatif.

Penyokong lain dari keduanya, belajar linux dan memasak, adalah ketersediaan resep-resep memasak dan juga ‘ramuan-ramuan jitu’ tentang linux dalam sebuah wadah belajar yang tak terhingga kapasitas bytenya: dunia maya alias internet. Maka, belajar keduanya dalam kurun waktu setengah tahun ini adalah telah membuat persahabatan yang begitu baik antara aku dan internet.

Sebenarnya, kala masih sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota Yogyakarta, telah ada pertemanan antara aku dan linux. Ketika itu, aku mengenal Fedora, karena hanya dia yang terinstal di laboratorium komputer di kampusku. Tapi, saat itu, hubungan kami tidak terlalu serius. Lalu, merosot tajam meninggalkan titik nol menuju sumbu negatif, kalau diibaratkan sebagai sebuah garis lurus linear. Dan, akhirnya, benar-benar terhempas.

Memasuki ranah kerja, karena tidak ada paksaan, hubunganku dengan linux tidak juga membaik, juga ditambah dengan ketidakpunyaan komputer pribadi, baik di rumah atau di ruangan. Tapi, di antara saat-saat luang, berada di sebuah pojok laboratorium komputer di kantor, aku kembali tergoda untuk mengenal linux. Bersama dengan Suse, banyak hari-hariku yang terlewatkan di pojok itu. Maka, mulai saat itu pula tercanang sebuah niat, untuk benar-benar serius membangun kembali hubungan dengan linux jika aku mempunyai rejeki untuk membeli sebuah laptop.

Tidak dengan sebuah kesengajaan niat itu hadir. Tapi, dengan sebuah kesadaran, setelah mengikuti sebuah pelatihan tentang hak kekayaan intelektual di lingkungan kantor. Maka, aku mengerti, bahwa sebuah pembajakan, atas nama apapun, hanya akan menghasilkan kerugian bagi pihak yang produknya digunakan tidak sesuai dengan prosedurnya.

Maka, karena sebuah laptop Acer Aspire 4315 IntelCeleron baru bisa dibeli setelah menikah, maka saat itu pula titik nol hubunganku dengan linux kembali dimulai. Untuk laptopku, Fedora dan Suse tidak terlalu bisa bekerja denga baik. Permasalahannya ada di laptopku. Spesifikasi laptopku menengah ke bawah, maka aku tidak memilih Fedora dan Suse untuk laptopku. Awalnya, aku menginstal Blankon. Saat itu Blankon, distro turunan Ubuntu yang dibuat oleh anak-anak muda kreatif Indonesia, berada pada titik awal pertumbuhannya.

Namun, akhirnya, aku lebih memilih Ubuntu. Maka, Ubuntu 8.04 alias Hardy Heron adalah Ubuntu pertamaku. Pilihan pada Ubuntu disertai dengan beberapa alasan. Adanya komunitas Ubuntu Indonesia dan milis Ubuntu, juga ada begitu banyak ketersediaan forum-forum lain dari Ubuntu yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Bagiku alasan kedua ini adalah penting. Pengetahuanku tentang dasar-dasar sistem operasi komputer sangat tidak begitu baik alias nol. Maka, keberadaan komunitas-komunitas yang perkembangannya selalu up-to-date adalah teman setia dalam langkah pembelajaranku tentang linux. Alasan yang paling utama adalah karena Ubuntu menjanjikan tidak adanya biaya untuk mendapatkan produk mereka (CD/DVD untuk menginstal ubuntu) dan juga ketersediaan repositorynya di Indonesia yang bisa diakses lumayan cepat dengan bandwith internet Indonesia.

Ada begitu banyak ‘musuh’ yang mencoba mengganggu hubunganku dengan linux. Berawal tidak dikenalinya wireless card laptopku, sempat membuat goyah untuk meneruskan langkah mencoba bertahan dengan hubungan ini. Tapi, ‘keterpaksaan’ karena akan mengerjakan penelitian yang berhubungan dengan programming di lingkungan linux untuk studi masterku, membuat pertahananku tetap utuh. Maka, bertanya kepada Google adalah solusi yang paling canggih. Semua ramuan-ramuan jitu itu hadir di hadapan dalam sekedipan mata. Akhirnya, selesailah permasalahan itu dengan jangka waktu hampir satu bulan dan menimbulkan efek samping; laptopku tidak mengenali perintah restart.

Ketraumaan itu membuatku bergeming saat peluncuran Interpid Ibex, nama lain ubuntu 8.10. Apalagi, dengan pernyataan founder Ubuntu kalau Ubuntu Hardy Heron adalah produk long term support (LTS), yang akan mendapat dukungan update sampai dengan April 2011 saat digantikan oleh Lucid Lynx atau Ubuntu 10.4. Tapi, ternyata memelihara perasaaan takut membuat pengetahuanku tentang linux tidak kembali bertambah.

Maka, saat liburan kuliah musim panas, setelah hampir satu tahun perasaan takut itu mengendap, aku mendownload Jaunty Jacklope melalui server Ubuntu di Jepang. Awalnya, aku sudah mendapatkan kiriman Live CD sekaligus CD Installer dari Canocical, founder Ubuntu. Rusaknya CD/DVD driver laptopku membuat CD itu tidak bisa dikenali. Entah mengapa, CD hasil mengunduh sendiri itu bisa dikenali dengan sukses di laptop yang sudah hampir satu tahun setengah itu bersamaku.

Ternyata, Jaunty Jacklope telah mengalami perbaikan yang begitu banyak dari Hardy Heron sebelumnya sehingga semua perangkat keras di laptopku bisa dikenali dengan baik, termasuk wireless card. Maka, benarlah kata sebuah pepatah bijak: pengalaman adalah guru yang sangat berharga.

Sejak itu, aku semakin mendekat kepada Google, untuk bertanya tentang rintangan-rintangan hubunganku dengan linux. Google adalah perantara yang begitu sempurna dalam hubungan kami. Dia yang menjelaskan kepadaku solusi untuk wireless card laptopku. Kepada dia aku bertanya saat menginstal modem internet dari provider langganan kami yang hanya menyediakan dukungan terhadap sistem operasi Windows dan OSX. Dia yang memberikan jawaban saat aku ingin mengubah tampilan layar laptopku. Informasi tentang keberadaan Full Circle Magazine, sebuah majalah khusus Ubuntu dan bisa didapatkan secara gratis, juga aku dapatkan setelah menjelajahi lembaran-lembaran maya Google.

Awalnya, aku hanya memanfaatkan keberadaan Google sesuai dengan kemampuan dan ketahuanku saja. Tapi, seorang teman kuliah yang memberitahuku tentang kecanggihan mesin pencari buatan Sergey Mikhailovich Brin dan Lawrence Edward “Larry” Page ini dalam mengantarkan informasi yang aku butuhkan tentang linux dan programming dalam sekedipan mata. Aku hanya perlu memasukkan kata kunci yang benar-benar tepat untuk hal yang aku butuhkan informasinya. Belajar menerka dan menebak kata apa yang paling tepat dan paling sering digunakan terkait dengan kebutuhan kita.

Sangat lugas dia menjawab saat itu, ketika aku bertanya untuk yang kesekian kalinya tentang program buatanku. “Saya juga tidak tahu, tapi saya mencari di Google”, itu jawaban sederhananya saat itu, yang membuatku malu alang kepalang. Maka, sejak itu, aku selalu bertanya dengan Google saat aku menemukan rintangan hubunganku dengan linux.

Ternyata, belajar linux bisa aku lakukan dengan mandiri. Memang ada halangan, tapi ada teman setia yang mendampingi proses pertemananku dengan linux. Sebuah niat tetap ada di dalam hatiku. Aku hanya ini merasakan kemandirian dalam menggunakan teknologi.

@lab, in the beginning of autumn, September 2009

Iklan

6 pemikiran pada “Berteman dengan Linux; Bersahabat dengan Google

  1. lagi menunggu kiriman repositori ubuntu nie Bu, dah mo ngomporin tetangga-tetangga meja buat pake Ubuntu, prkateknya di komputer sendiri dulu..

    masie newbie juga…


    fety: met belajar.

  2. yah, saya pun merasakanya sekarang kak. ubuntu studio 7.04 sudah teristal di notebook acer 4315 saya. tapi setan datang dan merenggut eksistensi DVD Rom saya, tidak mau terdeteksi di ubuntu tapi mau di sistim boot.iblis datang menggoda saya untuk kembali pada JENDELA yang harga original berlisensi itu mahal sekali. tapi saya teringat pada dosen HKI (Hak Atas Kekayaan Intelekual) saya tentang Hak Paten. dan saya meminta tolong pada kakak-kakak sekalian jika ada solusi untuk masalah DVD Rom yang tidak terditeksi pada ubuntu saya, saya memohon bantuanya, terutama pada kak Fety (sang pemilik Blog) yang kebetulan jinjingan kita sama. mohon bantuanya

    untuk rasa kemanusiaan dan menjinjing semangat hukum serta penghargaan pada suatu hak saya menunggu solusi dari kakak-kakak di alamat email saya : indraprahastha@rocketmail.com

    Terimakasih


    fety : coba ubuntunya diupgarde ke ubuntu yang terbaru.

  3. Saya juga, ingin sekali belajar, namun selalu waktu menjadi penghalang keinginanku. Di sekolah, pengelola lab komputer sering mempromosikan linux dan ubuntu padaku. Semoga bulan depan saya ada waktu untuk mempelajarinya. Amin.

    Selamat siang. Semoga bahagia dan sukses. Amin.

  4. Luar biasa! Ingin sekali saya berkenalan dengan Linux, tapi selalu terhalang dengan waktu. Apalagi pekerjaan saya harus cepat selesai dengan laptop standar windows. Khawatir jika pake Linux ada beberapa masalah. Termasuk karya2 desain yang sudah jadi T_T

    Mungkin harus beli laptop sendiri yang khusus Linux kali ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s