Kenangan

Berbalut mukena putih, berada dalam shaf jamaah putri yang hanya dua orang, entah kenapa ingatanku berada dalam dimensi waktu dua tahun yang lalu. Wajah-wajah yang kurindu hadir satu persatu, bergantian dengan seluruh momen yang jelas terpampang di hadapanku. Ada kesedihan datang, lalu berganti dengan kegembiraan; 2 tahun sudah aku melewati semua rangkaian cerita itu.

Momen yang sama, Ramadhan 1428 H. Kelelahan itu membalut tubuhku, tidak hanya raga tapi juga jiwa. Semuanya adalah pilihanku. Juga tidak ada yang memaksaku untuk memilih semua yang kulakukan di saat itu. Hanya sebuah niat; ntah kapan lagi, akan ada kesempatan baik itu akan Allah hadirkan untukku. Maka, meski ada kelelahan jiwa, tetap terpancang sebuah niat: malam-malam 10 hari terakhir Ramadhan 1428 H mesti berada di tempat teduh itu.

Semuanya memang datang bersamaan saat itu. Pilihan untuk mendaftar beasiswa, yang mempunyai konsekuensi mengikuti persiapan bahasa asing untuk mendapatkan skor TOEFL minimal. Pilihan untuk menerima ajakan taaruf dari seorang teman saat itu -yang kini alhamdulillah sudah menjadi suami-, juga pilihan untuk menggenapkan Ramadhan 1428 H bersama dengan teman-teman. Maka, saat itulah aku merasakan kelelahan tubuh yang luar biasa.

Mengenang 2 tahun itu, terasa semuanya tidak mungkin untuk dilewati. Tapi, Allah berkehandak lain. Tiga bulan kemudian, aku menggenapkan setengah dienku. Lalu, setahun kemudian, aku berangkat ke Jepang. Dan wajah-wajah yang kucinta hanya bisa hadir dalam ingatan, pun juga setelah berpulangnya guruku tercinta ke haribaan Allah.

Tapi, mengenang momen 2 tahun lalu ada rasa syukur di hati. Rasa syukur dipertemukan dengan seorang guru yang dalam untaian katanya adalah ilmu, dipertemukan dengan saudari-saudari yang ikatan persaudaraannya tetap utuh dalam dimensi ukhuwah, juga banyak belajar pada semesta tentang makna pengharapan dan kepasrahan.

Maka, mengenang 2 tahun lalu pada hari ini, tetap ada butir-butir sedih menyelinap; juga segenap rindu yang hadir pada tempat teduh itu. Dan selaksa doa hadir di kalbu; semoga suatu saat, setelah perjalanan panjang ini, tempat yang teduh itu akan dipertemukan lagi oleh-Nya.

@lab, Summer , September 2009

Iklan

Satu pemikiran pada “Kenangan

  1. Subhanallah. ramadhan memang bulan penuh berkah. hanya orang2 “pandai” yang dapat menarik hikmah dan bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan. dan saya sungguh beruntung mengenal sosok seperti itu dalam diri mbak fety.
    sungguh, teman seperti mbak fety-lah yang senantiasa ‘mengingatkan’ saya untuk tidak kufur nikmat.
    terima kasih untuk selalu hadir dan mengingatkan saya dengan tulisan2nya yang menyejukkan 🙂
    semoga Allah senantiasa menyayangi dan melindungi mbak fety, dimanapun. amin…

    fety: bunda juga adalah salah satu tempat saya belajar menjadi ibu:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s